Berita Bekasi Nomor Satu

Banjir Hampir Sebulan Lumpuhkan Akses Kampung Penombo Muaragembong

MOGOK: Warga mendorong sepeda motornya yang mogok karena melintasi banjir di Desa Harapanjaya, Kecamatan Muaragembong, Senin (2/2). ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Banjir yang tak kunjung surut selama hampir sebulan terakhir melumpuhkan sebagian akses di Kampung Penombo, Desa Harapanjaya, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi.

Banjir yang dipicu luapan Sungai Ciherang dan jebolnya tanggul ini juga mengancam ketahanan pangan ribuan warga, karena stok logistik di dapur umum semakin menipis.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bekasi, hingga Senin (2/2), banjir masih melanda 34 desa di sembilan kecamatan. Sekitar 27.838 Kepala Keluarga (KK) terdampak, dengan jumlah pengungsi mencapai 991 KK atau 3.824 jiwa.

BACA JUGA: Warga Terdampak Banjir di Pantai Harapan Jaya Muaragembong Butuh Bantuan Logistik dan Obat-obatan

Seorang warga, Karim (38), mengungkap jalan-jalan utama yang biasanya menjadi urat nadi ekonomi kini berubah menjadi aliran air dengan kedalaman yang bisa mematikan kendaraan sepeda motor. Warga yang ingin beraktivitas terpaksa menyewa atau menggunakan perahu sebagai satu-satunya sarana mobilitas.

“Sudah sekitar satu bulanan. Untuk transportasi kebanyakan pakai perahu karena jalur darat tidak bisa dilalui,” kata Karim, Senin (2/2).

Menurutnya, ketinggian air di wilayahnya sangat bervariasi. Banjir kali ini disebutnya sebagai salah satu yang terlama. Hal ini dipicu oleh tingginya debit air di wilayah hulu yang mengalir ke berbagai sungai yang bermuara di kawasan tersebut.

Selain curah hujan tinggi yang merata di wilayah atas, kondisi ini diperparah oleh dugaan jebolnya tanggul Kali Citarum. Karim menduga air sulit surut karena besarnya volume kiriman dari beberapa kali yang bermuara ke Sungai Ciherang.

“Paling dalam itu sekitar dua meter, yang paling rendah sekitar setengah meter. Karena hujannya hampir merata, jadi yang dibawah ini terdampak semua. Air juga lama surutnya,” tambahnya.

Meski bantuan dari relawan dan aparat desa terus mengalir, Karim menilai perhatian pemerintah kabupaten masih belum merata. Beberapa titik terdalam memang sudah mendapat peninjauan, namun wilayah lain di Kampung Penombo merasa masih berjuang sendiri.

“Kalau di bagian sini belum ada. Tapi di lokasi yang airnya sampai dua meter sudah banyak yang datang dan melihat langsung,” ungkap Karim.

Banjir yang tak kunjung surut juga berdampak pada stok logistik di dapur umum Desa Pantai Harapanjaya. Dapur umum yang menjadi tumpuan sekitar 7.000 warga terdampak kini mengalami krisis pasokan logistik.

Anggota Tagana Kabupaten Bekasi, Abdurahman Daeng (39), mengungkap bahwa pihaknya kesulitan mendapatkan suplai bahan pangan karena banjir terjadi serentak di berbagai wilayah Bekasi, sehingga bantuan harus dibagi-bagi.

“Untuk sementara kondisi dapur umum kami cukup kekurangan. Suplai memang terbatas karena banjir terjadi serentak di banyak daerah,” ucap Abdurahman.

Dapur umum yang telah berdiri selama 12 hari dengan delapan personel ini mengalami penurunan produksi makanan yang signifikan. Jika pada awal bencana mereka mampu memasak hingga 1.500 porsi per hari, kini mereka harus memangkas porsi secara drastis demi menyiasati stok yang tersisa.

Saat ini, dapur umum hanya memproduksi 500 porsi per hari, yang didistribusikan satu kali sehari menggunakan perahu ke rumah-rumah warga.

“Semuanya tergantung logistik yang ada. Kami siasati lauknya agar warga tetap bisa makan. Kami berharap kebutuhan logistik bisa segera dicukupi karena jumlah warga terdampak cukup banyak,” ucapnya. (ris)