RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ribuan kepala keluarga di Desa Pantai Harapanjaya, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, terisolasi akibat banjir yang berlangsung berhari-hari. Akses jalan tidak bisa dilalui karena air setinggi 50–70 cm akibat meluapnya Sungai Ciherang dan Citarum.
Kepala Dusun 4 Desa Pantai Harapanjaya, Tarkim Sasmita, menyebut warga di puluhan RT terisolasi. Mobilitas warga kini hanya dapat dilakukan dengan perahu.
“Wilayah terdampak yang aksesnya mati sama sekali itu sekitar 22 RT. Akses benar-benar lumpuh dan harus menggunakan perahu, itu pun kalau ada perahunya,” terang Tarkim, Selasa (3/2).
BACA JUGA: Banjir Hampir Sebulan Lumpuhkan Akses Kampung Penombo Muaragembong
Dari total 22 RT terdampak, terdapat 7.912 jiwa atau sekitar 2.513 kepala keluarga. Menurut Tarkim, kondisi ini bukan hal baru. Banjir telah berlangsung sekitar sebulan, sehingga aktivitas ekonomi dan sosial warga lumpuh.
“Sudah sekitar sebulan lebih. Aktivitas warga benar-benar lumpuh karena jalur darat sudah putus,” katanya.
Ia menyayangkan minimnya perhatian dari instansi berwenang baik di tingkat daerah maupun pusat. Hingga saat ini, kebutuhan mendesak warga hanya bisa dipenuhi dari swadaya pemerintah desa yang serba terbatas.
“Untuk bantuan makan, baru bisa mengisi dapur umum dan itu alakadarnya. Belum ada bantuan dari BPBD maupun pemerintah pusat, semuanya masih dari desa. Kami sangat berharap pemerintah daerah bisa membantu warga kami yang terisolir,” katanya.
Di salah satu titik terdampak, warga Kampung Penombo, Rusnah (62), masih bertahan di rumahnya yang terendam. Ia mengaku banjir tahun ini jauh berbeda dibandingkan banjir sebelumnya.
“Kalau banjir dulu cepat kering, ini lama, hampir sebulan,” tutur Rusnah.
Karena akses terputus, Rusnah dan suaminya harus menghemat persediaan makanan. Mereka mengandalkan sisa beras yang dimiliki dan membatasi porsi makan agar cukup bertahan.
“Beras masih ada dua karung. Masak pagi, sorenya enggak,” keluhnya.
Rusnah memilih tetap tinggal di rumah meski air sudah merendam hingga ke bawah tempat tidur karena khawatir keamanan dan gangguan hewan liar jika harus mengungsi ke tempat jauh.
“Takut ditinggal nanti dimasukin ular,” sambungnya.
Kondisi kesehatan Rusnah pun mulai menurun. Ia bertahan di tengah air yang kotor dan udara malam yang dingin tanpa perlengkapan tidur yang layak.
“Bantuan dari puskesmas baru sekali datang. Kaki sudah gatal-gatal dan kutu air,” tutupnya.
Hingga Selasa siang, debit air di Desa Pantai Harapanjaya belum menunjukkan tanda-tanda surut. Ribuan warga di 22 RT masih menunggu tindakan nyata dari Pemerintah Kabupaten Bekasi maupun sukarelawan untuk menyalurkan bantuan logistik dan medis secara langsung.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bekasi, hingga Selasa (3/2), masih terdapat 112 titik banjir di 28 desa yang tersebar di sembilan kecamatan. Dari 23.687 kepala keluarga (KK) yang terdampak, setidaknya 755 KK terpaksa mengungsi. Ketinggian air bervariasi, mulai 10 cm hingga 70 cm. (ris)











