RADARBEKASI.ID, BEKASI – Produsen kue keranjang atau dodol Cina di Cikarang mendulang rezeki maraton. Banjir pesanan dirasakan sejak Natal 2025, berlanjut Imlek 2026, dan diperkirakan akan mengalir sampai Ramadan dan Lebaran.
Aroma karamel manis menyeruak di antara deru mesin penggiling ketan di sudut Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, pekan lalu.
Di balik hiruk-pikuk dapur itu, Kesih (38) mengatur puluhan pekerjanya dengan cekatan. Di balik tumpukan ratusan kilogram kue keranjang yang siap dikirim, tersimpan kisah keteguhan seorang perempuan yang bangkit dari keterpurukan.
Sejak kontrak kerjanya berakhir pada 2020, Kesih sempat merasakan pahitnya menganggur. Namun alih-alih menyerah, ia nekat bereksperimen di dapur bersama adiknya, Imas Siti Masitoh. Senjatanya saat itu sederhana: ketelatenan dan tutorial dari YouTube.
”Mulanya buat terus dicoba ke keluarga, ke tetangga. Beraniin jual di Facebook, di marketplace, ternyata banyak yang suka,” ucapnya.
Keberanian itu berbuah manis. Dari kemampuan mengolah satu sampai dua kilogram tepung, kini merek Dodol Cina Cikarang miliknya menjelma menjadi “raksasa kecil” yang mampu mengolah puluhan drum besar setiap hari.
2026 membawa kebahagiaan ganda bagi para produsen kue keranjang. Kedekatan waktu antara Imlek, Ramadan, hingga Idulfitri membuat pesanan melonjak hingga empat kali lipat. Fenomena ini bagi Kesih adalah rezeki maraton yang dimulai sejak akhir tahun lalu. Harga eceran Dodol Cina Cikarang Rp30 ribu per kilogram yang terdiri dari tiga buah kue.
“Puncaknya sudah dari sebelum Natal. Alhamdulillah berlanjut sampai sekarang mau Imlek, sama disambung puasa dan lebaran. Bahkan biasanya terus sampai lebaran haji,” ucapnya penuh syukur.
Kini, dapur Kesih ‘tak pernah tidur’. Sejak sore, para karyawan mulai mengolah gula menjadi karamel. Ketan dicuci, dikeringkan, lalu digiling halus. Proses panjang ini menuntut kesabaran ekstra, memakan waktu berjam-jam. Pesanan terus meningkat. Di hari biasa, Kesih dan puluhan karyawan dapat memproduksi 5–10 drum besar, masing-masing berisi 125–130 kilogram. Saat Tahun Baru Cina, produksi meningkat hingga empat kali lipat.
“Jadi kalau masaknya pagi, baru mateng itu nanti malam. Terus didinginin sampai nanti dikirim,” katanya.
Meski bukan keturunan Tionghoa, Kesih membuktikan bahwa ketulusan usaha tak mengenal batas budaya. Kini, ia mempekerjakan 40 orang tetangga dan saudaranya, bahkan produknya telah melanglang buana, dipesan warga Indonesia di Jepang, Australia, hingga Arab Saudi.
“Lalu yang banyak juga di Tangerang, sampai Subang, sampai Banten juga ada. Biasanya kalau lagi rame, satu orang bisa pesan satu ton. Alhamdulillah selama mampu, kami produksi,” terang Kesih.
Tak jauh dari sana, Candra (65), pemilik merek Kue Keranjang Cahaya Hidup, merasakan geliat yang sama. Sebagai generasi kedua, Candra telah memproduksi kue keranjang sejak 1993. Meski tren pasar fluktuatif, kedekatan jadwal hari raya tahun ini menjadi penyambung napas usahanya.
”Walaupun memang tidak seramai tahun lalu, tapi kebantu dengan waktunya antara Imlek sama bulan puasa kan nyambung, terus Idulfitri. Jadi kami bisa terus produksi,” ungkap Candra.
Bagi Candra, mempertahankan bisnis ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan menjaga tradisi kebaikan turun-temurun. Ia tetap setia pada metode lama demi kualitas.
“Tentu sudah menjadi kebiasaan. Karena kan untuk kebaikan juga, jadi dilakukannya juga untuk kebaikan. Sedangkan soal rejeki menjadi kuasa Yang Maha Esa,” tutupnya.
Di Kabupaten Bekasi, kue keranjang bukan sekadar simbol perayaan satu kaum. Tetapi telah menjadi jembatan ekonomi dan simbol kerukunan, membuat dapur warga tetap “ngebul” sepanjang tahun. (ris)











