Berita Bekasi Nomor Satu

Perjalanan Ahmad Habiebie, Kiper Timnas Futsal Indonesia asal Bekasi: Dari Tarkam jadi Penjaga Gawang Terbaik di Asia

PENCAPAIAN: Ahmad Habiebie saat menunjukan penghargaan kiper terbaik Asia saat ditemui dirumahnya di kawasan Kampung Utan Ceger, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Minggu (8/2). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ahmad Habiebie tak pernah bermimpi sejauh ini. Dulu ia hanyalah kiper kampung hasil dari guyonan, bukan rencana. Tak ada akademi, tak ada jalan pintas. Hanya lapangan tarkam, motor yang dipakai bergantian, dan hari-hari tanpa kepastian. Anak yang besar di Bekasi itu kini berdiri sebagai kiper terbaik Asia.

Di bawah sorot lampu Indonesia Arena, Jakarta, jutaan pasang mata tertuju ke satu titik: gawang Timnas Futsal Indonesia. Skor 5-5 terpampang. Waktu habis. Final Piala Asia Futsal 2026 harus ditentukan lewat adu penalti.

Ahmad Habibi berdiri di sana tenang, mematung, seolah semua riuh tak sampai ke telinganya. Sedikit yang tahu, perjalanan menuju momen itu dimulai bukan dari akademi elite, bukan pula dari mimpi besar menjadi atlet nasional. Semuanya berawal dari coba-coba, dari kampung, dari guyonan.

“Dulu SMP enggak kenal futsal, awalnya cuma main-main biasa aja.” kata Habiebie saat ditemui di kediaman di Kp Utan Ceger, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Minggu (8/2).

Habibi lahir 21 Juni 2020 dan tumbuh di Bekasi. Ayahnya, almarhum, dikenal jago bermain sepak bola seorang kiper kampung yang namanya sering disebut orang.

Tapi Habibi tak pernah benar-benar belajar langsung dari sang ayah. Ia keburu kehilangan sosok itu saat masih kecil.

“Bapak meninggal pas saya masih kecil. Jadi cuma dengar cerita orang-orang aja,” ujarnya pelan.

Justru dari cerita itulah, guyonan-guyonan kampung lahir. “Udah, lu aja Bi jadi kiper. Bapak lu kan jago.” tambahnya

Awalnya hanya candaan. Tapi candaan itu terus diulang, sampai akhirnya menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, tumbuh keseriusan.

Futsal baru benar-benar masuk dalam hidup Habiebie saat ia bersekolah di SMK Permata Bangsa, Bekasi. Lingkungan pertemanan yang gemar futsal dan sosok senior bernama Ahmad Alfyanto, atau yang akrab disapa Bang Peking, menjadi titik balik.

“Bang Peking itu yang pertama kali nyodorin saya ke klub-klub futsal, dari situlah saya termotivasi.” kenangnya

Tak ada fasilitas mewah. Tak ada bayaran. Yang ada hanya lapangan, keringat, dan keyakinan samar bahwa futsal bisa membawa sesuatu entah apa. Selepas lulus SMK, Habibi sempat menganggur setahun. Pesan Bang Peking sederhana tapi tegas, kalau setahun enggak ada hasil di futsal, kerja.

Setahun itu diisi dengan tarkam, panggilan sana-sini, Sabtu-Minggu keliling Bekasi sampai Jakarta. Menang, dapat uang. Kalah, pulang dengan sisa bensin. Tak ada gaji bulanan. Tak ada kepastian.

“Orang lihatnya sekarang enaknya aja, dulu latihan tiap hari, enggak ada penghasilan.” ungkapnya

Ia berangkat latihan sendirian. Tak ada orang tua yang mengantar. Tak ada keluarga yang mengatur. Hanya seorang teman seperjuangan adik Bang Peking yang menemaninya ke mana-mana.

“Dia enggak ada motor, naik motor saya. Saya enggak ada motor, naik motor dia, udah kayak keluarga,” ujar Habibi sambil tertawa kecil.

Perlahan, hasil datang. Dari Porda Kota Bekasi, lanjut ke PON Papua 2022, hingga akhirnya menembus level profesional. Tahun 2017, nama Ahmad Habiebie mulai masuk radar Timnas, awal lewat Timnas U-20.

Tangga demi tangga dilalui. Tanpa sensasi. Tanpa sorotan, sampai akhirnya, tahun 2026. Habibi berdiri di bawah mistar Timnas Futsal Indonesia di Piala Asia. Menghadapi Jepang. Menghadapi Iran. Tim-tim yang selama ini disebut “raja Asia”.

Pelatih Hector Souto hanya memberi satu kalimat sederhana,

“Mereka makan nasi, kita juga makan nasi. Mereka punya dua kaki, kita juga dua kaki.” ucapnya

Dan malam itu, di final Jakarta, kalimat itu terasa nyata. Indonesia tak juara. Penalti menjadi pembatas tipis antara tangis dan senyum. Namun saat turnamen berakhir, satu penghargaan mengunci cerita perjalanan panjang itu: Kiper Terbaik Piala Asia Futsal 2026.

Habibi tersenyum. Bukan karena trofi. Tapi karena ingatan-ingatan lama berkelebat—lapangan kampung, motor bergantian, setahun menganggur, guyonan tentang ayahnya.

“Saya cuma ngasih apa yang saya punya, Alhamdulillah hasilnya seperti ini.” Katanya.

Kini, ia pulang ke Bekasi. Menjadi ayah. Menjadi suami. Menjadi kiper nasional. Besok, ia akan kembali ke klub, kembali ke rutinitas, kembali ke lapangan.

Namun satu hal sudah berubah. Dari guyonan kampung, Ahmad Habibi kini menjadi penjaga gawang terbaik Asia membuktikan bahwa mimpi besar kadang lahir dari tempat yang paling sederhana.(*)