Berita Bekasi Nomor Satu

Jelang Imlek, Klenteng Hok Lay Mulai Bersolek

BERSIH-BERSIH PATUNG: Umat membersihkan patung dewa-dewi menjelang perayaan Imlek 2577 Kongzili di Klenteng Hok Lay Kiong, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Minggu (8/2). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Aroma dupa mulai menguar, lampion merah perlahan menghiasi sudut-sudut klenteng. Menjelang Hari Raya Imlek 2577 Kongzili, Klenteng Hok Lay Kiong di Jalan Kenari I, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, tampak bersolek menyambut pergantian tahun, Minggu (8/2).

Imlek 2026 yang jatuh pada Selasa, (17/2/2026) menjadi penanda masuknya Tahun Kuda Api. Seperti tradisi yang telah berlangsung turun-temurun, pengurus klenteng bersama umat melaksanakan ritual bebersih sebagai bentuk persiapan lahir dan batin.

Pantauan di lokasi, patung dewa-dewi diturunkan satu per satu, altar diseka dengan teliti, dan perlengkapan persembahyangan ditata ulang.

Aktivitas tersebut tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sarat makna spiritual.

Ketua Yayasan Pancaran Tridharma Klenteng Hok Lay Kiong, Ronny Hermawan, menjelaskan bahwa tradisi bebersih merupakan bagian penting dalam menyambut Tahun Baru Imlek.

“Jadi, menjelang Hari Raya Imlek ada sebuah tradisi bebersih gitu kan. Tradisi Tionghoa ini mirip-mirip dengan Lebaran Betawi, bersih-bersih rumah menjelang Lebaran gitu kan. Ya, sama juga di Kelenteng juga gitu. Bebersih, semua altarnya dibersihkan,” kata Ronny.

Menurut Ronny, pembersihan dilakukan pada waktu yang diyakini sebagai saat para dewa-dewi berada di langit, sehingga altar dan patung dapat dibersihkan secara menyeluruh.

“Dipercaya bahwa pada hari ini dewa-dewanya sedang naik ke langit. Kemudian kita membersihkan altar tempat persembayangannya. Supaya nanti menjelang pergantian tahun Imlek bisa berjalan dengan sempurna lah. Bersih, rapih,” jelasnya.

Tradisi ini juga menjadi momentum kebersamaan umat. Tanpa undangan resmi, puluhan umat datang untuk turut ambil bagian dalam kegiatan bebersih.

“Mereka (umat) berdatangan, tidak diundang, ingin bersama-sama membantu membersihkan. Ada yang bawa pewangi, ada yang bawa hairdryer, dan lain-lain, semua datang,” katanya.

Selain bebersih, klenteng juga mulai dihiasi lampion-lampion merah. Bagi umat, lampion bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol harapan dan penerangan sepanjang tahun.

“Selama satu tahun ke depan, supaya ada penerangan. Supaya kalau ada bahaya, ada bencana, dan lain sebagainya, bisa kita lebih waspada, istilahnya jalan hidup menjadi lebih terang,” ujar Ronny.

Memasuki Tahun Kuda Api, Ronny berharap kekuatan dan ketangguhan menjadi semangat yang menyertai masyarakat Indonesia.

“Harapannya Indonesia nggak banyak musibah. Harapannya ekonomi bisa tambah pulih. Selingi dengan maknanya kuda, kuda itu kan kuat, perkasa. Dipakai untuk bekerja, narik kereta, narik apa, pakai kuda. Di tengah-tengah cobaan dan lain-lain, ya kita berharap kita diberikan kekuatan semuanya untuk melalui itu,” harapnya.

“Hidup boleh keras, cobaan boleh datang. Tapi nudah-mudahan kita diberikan kekuatan dan kesehatan oleh Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Esa,” pungkasnya (rez)