Berita Bekasi Nomor Satu

Wali Kota Bekasi Diancam Golok saat Penertiban PKL

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto diancam golok oleh seorang pria saat memimpin kegiatan penertiban sampah visual dan pedagang kaki lima (PKL) di wilayah Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Minggu (8/2). FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dan rombongan diancam golok oleh seorang pria saat memimpin kegiatan penertiban sampah visual dan pedagang kaki lima (PKL) di wilayah Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Minggu (8/2).

Dalam video yang beredar, turut tampak dalam rombongan antara lain Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro dan Dandim 0507/Bekasi Kolonel Arm Krisrantau Hermawan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa bermula saat petugas Satpol PP melakukan penertiban reklame yang berdiri di atas saluran air. Setelah itu, petugas hendak menertibkan keranjang besi yang digunakan sebagai tempat penyimpanan buah kelapa.

Ketika keranjang besi tersebut akan digeser, tiba-tiba seorang pria berkaos merah datang dan melakukan perlawanan. Pria itu sempat masuk ke salahsatu toko sebelum kembali dengan menenteng senjata tajam jenis golok.

Sambil melontarkan kalimat umpatan, pria tersebut berjalan ke arah petugas dan mengancam Wali Kota Bekasi dengan golok yang dibawanya. Aksi tersebut sontak membuat suasana di lokasi menjadi tegang.

Kepala Satpol PP Kota Bekasi Nesan Sujana menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan lanjutan penertiban yang telah dilakukan di sejumlah titik. Langkah itu juga menindaklanjuti instruksi Presiden serta imbauan Gubernur Jawa Barat untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, rapi, dan indah (ASRI).

Saat itu, kata dia, tempat penyimpanan buah kelapa dan banner milik salahsatu dagang terlalu maju sampai ke bahu jalan.

“Tempat kelapa dan spanduk itu masuk ke bahu jalan, jadi hampir makan dua meter lebih, selain berada di atas saluran juga sudah jauh terlalu (maju) ke depan,” katanya.

Ia menyebut, saat hendak digeser, pria sebagaimana terlihat dalam video merespons dengan emosi, mengumpat, hingga menenteng golok dan berjalan ke arah Wali Kota Bekasi serta rombongan.

Peristiwa ini sontak membuat petugas yang ada di lokasi bereaksi dan berusaha menjelaskan penertiban yang dilakukan pemerintah kepada pria tersebut. Nesan memastikan pria yang nampak emosi dalam video tersebut telah memahami maksud penertiban yang dilakukan oleh pemerintah setelah diberikan penjelasan.

“Sudah mengerti, sudah meminta maaf, alhamdulillah clear. Akhirnya kelapanya kita masukkan ke dalam,” ungkapnya.

Selain itu, penertiban juga dilakukan terhadap spanduk, banner, dan baliho yang melanggar aturan serta dinilai merusak keindahan lingkungan, termasuk penataan para pedagang.

Nesan mengakui, penolakan dari masyarakat kerap terjadi dalam setiap penertiban, tidak hanya di Teluk Pucung, tetapi juga di wilayah lain. Menurutnya, hal itu disebabkan masyarakat yang sudah terlanjur nyaman dengan kondisi yang melanggar aturan. Tak ayal, kondisi yang sama acap kali berikan meskipun telah ditertibkan oleh petugas.

“Banyak laporan setiap spanduk diturunkan hari ini, besok ada lagi. Sama seperti kita menertibkan PKL di Tol Barat, setiap hari kita tertibkan muncul lagi,” ungkapnya.

Menurutnya, diperlukan upaya masif untuk mengubah pola pikir masyarakat. Untuk itu, pihaknya berencana melibatkan unsur pemerintah mulai dari tingkat kelurahan hingga RW guna menggerakkan kebersihan, keindahan, dan ketertiban (K3) di wilayah masing-masing. Selain itu, seluruh elemen masyarakat juga akan diajak bekerja sama dalam upaya tersebut.

“Namun saya yakin lambat laun peradaban ini akan terbentuk, karena menyadari resiko dan konsekuensinya. Kalau ini dilakukan hanya di level OPD tertentu, nonsen akan tercapai 100 persen,” tambahnya.

Sementara, Tri Adhianto menegaskan bahwa penertiban dilakukan sesuai prosedur.

“Tentu sudah ada imbauan sebelumnya. Petugas kami minta untuk dapat melakukan secara persuasif. Tugas saya memastikan negara hadir untuk menegakkan aturan,” kata Tri saat dikonfirmasi wartawan.

Tri mengaku, tidak terlalu khawatir dengan ancaman senjata tajam yang dialamatkan kepadanya. Menurutnya, hal yang lebih dikhawatirkan adalah jika pelanggaran aturan terus dibiarkan dan menjadi kebiasaan.

“Saya bukan khawatir kepada goloknya, tetapi khawatir jika masyarakat sering melanggar peraturan dan ini akan menjadi kebiasaan. Lama-lama jadi pembiaran, akhirnya para pelanggar merasa dirinya paling benar,” kata Tri. (sur)