RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Perayaan Tahun Baru China atau Imlek 2026 kembali menghadirkan kue keranjang sebagai hidangan wajib di meja keluarga Tionghoa. Kue manis dengan tekstur kenyal ini bukan sekadar camilan, melainkan sarat makna sejarah, filosofi, dan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Setiap Imlek, kue keranjang hampir selalu hadir dalam prosesi sembahyang maupun jamuan keluarga. Kehadirannya tidak hanya memperkaya hidangan, tetapi juga melambangkan keberuntungan, keharmonisan, dan kemakmuran. Di balik rasa manisnya, tersimpan kisah panjang yang berakar dari ribuan tahun lalu.
Asal-usul Kue Keranjang
Kue keranjang, atau Nian Gao dalam bahasa Mandarin, adalah sajian khas Imlek yang terbuat dari tepung beras ketan dan gula. Dalam dialek Hokkian dikenal sebagai Ti Kwe. Tekstur lengket dan rasanya yang manis membuatnya sering dibandingkan dengan dodol.
Sejarah mencatat bahwa kue keranjang sudah ada sejak Tiongkok masih terbagi menjadi berbagai kerajaan. Awalnya, Nian Gao digunakan sebagai persembahan dalam ritual adat. Seiring berjalannya waktu, fungsinya berkembang menjadi hidangan khas festival musim semi, yang kemudian dikenal sebagai perayaan Imlek. Transformasi ini menjadikan kue keranjang sebagai simbol budaya yang bertahan hingga kini.
Kisah Sejarah di Balik Kue Keranjang
Sejarah kue keranjang berawal dari periode Musim Semi dan Gugur (722–481 SM), saat peperangan melanda dan kelaparan merajalela. Seorang raja membangun tembok kokoh untuk melindungi kerajaannya dan mengadakan pesta.
Namun, Perdana Menteri Wu Zixu memperingatkan bahwa tembok tersebut bisa menjadi jebakan jika terjadi pengepungan.
Baca Juga: Jelang Imlek 2026, Ini Fakta Unik Angpao yang Wajib Kamu Tahu
Wu Zixu menyarankan agar rakyat menggali bagian bawah tembok jika keadaan memburuk. Setelah wafatnya Wu Zixu, ramalannya terbukti.
Saat perang berkecamuk, para prajurit menemukan bagian bawah tembok terbuat dari batu bata yang sebenarnya adalah tepung beras ketan, bahan yang kemudian dikenal sebagai Nian Gao pertama dan berhasil menyelamatkan banyak nyawa. Sejak itu, pembuatan kue keranjang menjadi tradisi Imlek untuk menghormati Wu Zixu.
Selain sejarah, kue keranjang juga melekat dengan legenda raksasa Nian. Dalam cerita rakyat Tiongkok, Nian adalah makhluk buas yang muncul setiap musim dingin untuk memangsa manusia.
Seorang warga bernama Gao membuat kue dari tepung ketan dan gula, lalu menaruhnya di depan rumah sebagai persembahan. Nian ternyata menyukai kue tersebut dan berhenti mengganggu penduduk. Kisah ini diyakini menjadi asal-usul nama Nian Gao dan menjadikan kue keranjang sebagai simbol perlindungan serta penghormatan.
Makna Filosofis Kue Keranjang dalam Imlek 2026
Dalam tradisi Tionghoa, mengonsumsi kue keranjang saat Imlek diyakini membawa keberuntungan dan kesejahteraan. Kue ini melambangkan peningkatan rezeki, kemajuan jabatan, dan perkembangan anak-anak.
Nama Ti Kwe sendiri mencerminkan filosofi “kue manis bertingkat”, yang menandakan kemakmuran yang meningkat dari tahun ke tahun.
Bentuk kue keranjang yang bulat melambangkan kesatuan dan keharmonisan keluarga. Rasa manisnya mencerminkan tutur kata dan perilaku baik dalam keluarga, sementara tekstur lengket menjadi simbol harapan agar hubungan keluarga tetap erat dan tidak mudah terpisahkan.
Saat digunakan dalam upacara sembahyang, kue keranjang juga menjadi penghormatan kepada leluhur.
Pendiri Kue Keranjang Hoki, Kim Hin Djohari, menegaskan bahwa kue ini melambangkan kekeluargaan dan persahabatan. Menyantapnya berarti mengamalkan nilai kebersamaan yang menjadi inti perayaan Imlek.
Bahkan cara menyajikannya, dengan tumpukan dari ukuran terbesar ke terkecil, melambangkan harapan peningkatan kemakmuran dalam hidup, baik dari segi pendapatan, posisi, maupun pertumbuhan anak-anak.
Baca Juga: Jelang Imlek, Klenteng Hok Lay Mulai Bersolek
Lebih dari Sekadar Hidangan Manis
Dengan sejarah yang panjang, legenda yang kaya, dan filosofi yang mendalam, kue keranjang lebih dari sekadar makanan penutup di Imlek 2026. Ia menjadi simbol harapan, keberuntungan, dan keharmonisan keluarga di tahun yang baru.
Setiap gigitan kue keranjang tidak hanya menyenangkan lidah, tetapi juga mengingatkan kita akan nilai-nilai tradisi, persatuan, dan kebersamaan yang dijunjung tinggi dalam budaya Tionghoa. (ce2)











