RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ribuan jamaah Muhammadiyah di Kota Bekasi dipastikan mulai menunaikan ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah pada Rabu (18/2/2026) besok. Malam ini mereka akan Salat Tarawih perdana.
Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Bekasi, Zahrul Hadi Prabowo, menyampaikan malam hari ini jamaah Muhammadiyah akan lebih dulu menggelar Salat Tarawih di masjid-masjid yang berada dalam naungan organisasi tersebut.
“Salat Tarawih tersebut berlangsung serentak di sejumlah masjid dan lokasi ibadah yang berada di bawah koordinasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kota Bekasi,” ucap Zahrul kepada Radar Bekasi di Pondokgede, Selasa (17/2/2026).
Ia menuturkan, saat ini terdapat 15 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) yang aktif mengoordinasikan rangkaian ibadah Ramadan di wilayah masing-masing di Kota Bekasi.
BACA JUGA: Sembilan Alasan Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Rabu 18 Februari 2026
“Kalau berdasarkan jumlah PCM, saat ini di Kota Bekasi ada 15 pimpinan cabang. Setiap PCM minimal memiliki sekitar 150 jamaah,” ungkap Zahrul.
Menurutnya, masing-masing PCM telah menyiapkan pelaksanaan Salat Tarawih sebagai penanda dimulainya rangkaian ibadah di awal Ramadan.
Pelaksanaan tarawih digelar di masjid milik Muhammadiyah maupun di lokasi alternatif yang disepakati bersama jamaah, seperti musala dan rumah warga yang belum memiliki masjid permanen.
“Setiap PCM mengadakan salat tarawih, baik di masjid maupun tempat yang memungkinkan. Ada juga yang bergabung dengan masjid bukan Muhammadiyah namun menggunakan kalender yang sama,” paparnya.
Zahrul menambahkan, tidak seluruh cabang memiliki fasilitas masjid sendiri. Kendati demikian, setidaknya terdapat sekitar 15 masjid yang siap menyelenggarakan ibadah Salat Tarawih secara serentak pada malam pertama Ramadan.
“Insya Allah, setiap kecamatan ada masjid yang menggelar tarawih malam ini. Bahkan yang tidak berdekatan dengan masjid, maka jamaah juga ada menggelar kegiatan ibadah di rumah-rumah sebagai solusi keterbatasan fasilitas,” tuturnya.
Adapun pelaksanaan puasa lebih awal oleh Muhammadiyah merupakan bagian dari dinamika penetapan awal Ramadan di Indonesia yang kerap diwarnai perbedaan metode, baik melalui pendekatan hisab maupun rukyat.
Meski terdapat perbedaan waktu pelaksanaan, Muhammadiyah menegaskan seluruh rangkaian ibadah tetap dilaksanakan dengan menjunjung tinggi sikap toleransi serta saling menghormati antarumat Islam. (cr1)











