Berita Bekasi Nomor Satu

Melihat Lebih Dekat Duka Korban SPBE Cimuning: Rumah jadi Puing, Sekeluarga Nyaris Hangus

DUKA: Suasana pemakaman Sapta Prihantono, pelajar korban ledakan SPBE Cimuning, di TPU Kampung Pabuaran, Kota Bekasi, Rabu (8/4/2026). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ledakan hebat di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) beberapa hari lalu menyisakan kehilangan yang mendalam. Terutama bagi Kosasih beserta keluarganya yang turut menjadi korban. Seperti apa ceritanya?

Pagi di Kampung Pabuaran, RT 001/RW 003, Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, tak lagi sama. Di antara puing-puing bangunan rumah yang masih berserakan, aroma hangus samar masih tercium.

Di sebuah lahan kosong yang kini dipenuhi puing itu, pernah berdiri rumah kontrakan yang dihuni Kosasih beserta keluarganya. Letaknya persis di depan SPBE, titik terdekat dengan sumber ledakan. Kini, rumah itu nyaris tak berbekas.

“Rumahnya (Kosasih,red) tepat di depan SPBE dan kondisinya hancur total,” ujar Ketua RT 01 Kelurahan Cimuning, Anta Suryana.

Dari rumah itulah, duka paling mendalam. Lima dari total tujuh orang anggota keluarga terdampak langsung. Sapta Prihantono, pelajar kelas X SMK Negeri 15 Kota Bekasi, menjadi korban yang tak terselamatkan setelah sempat menjalani perawatan intensif.

“Informasinya saya terima tadi malam sekitar pukul 21.05 WIB. Salah satu keluarga datang dan mengabarkan bahwa pasien telah meninggal dunia,” kata Anta.

Kepergian Sapta menambah panjang daftar korban jiwa dalam tragedi tersebut. Hingga sepekan pascakejadian, jumlah korban meninggal dunia tercatat tiga orang

dua sekuriti dan satu warga sekitar. Sementara itu, ayahnya Kosasih dan tiga kakaknya Sapta, masih menjalani perawatan akibat luka bakar.

“Satu meninggal dunia, empat lainnya masih dirawat. Sebagian di RSUD, ada juga yang di rumah sakit lain,” ujarnya.

Bagi warga Cimuning, suara dentuman itu masih teringat jelas. Siang itu berubah menjadi kepanikan dalam hitungan detik. Api membumbung tinggi, asap pekat menutup langit, dan warga berlarian menyelamatkan diri.

Kini, sepekan berlalu. Aktivitas perlahan kembali, tetapi suasana belum benar-benar pulih. Sejumlah rumah masih tertutup terpal, sementara sebagian lainnya menyisakan dinding yang menghitam.

Di sudut-sudut kampung, percakapan warga masih berkutat pada hari itu tentang ledakan, tentang api, dan tentang mereka yang belum kembali.

Jenazah Sapta telah dimakamkan sehari setelah kabar duka itu datang. Prosesi pemakaman berlangsung dalam suasana haru, diiringi keluarga dan warga yang kehilangan.

“Dimakamkan tadi pagi di TPU Kampung Pabuaran,” ucap Anta.

Tak hanya keluarga Sapta, korban lain masih berjuang pulih di rumah sakit. Setidaknya sembilan orang tercatat masih menjalani perawatan hingga kini.

Dua korban lain yang lebih dulu meninggal diketahui merupakan petugas sekuriti di lokasi kejadian. Keduanya sempat mendapatkan perawatan intensif sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Di tengah upaya pemulihan, bantuan terus berdatangan. Posko didirikan, logistik disalurkan, dan layanan administrasi dibuka untuk membantu warga yang kehilangan dokumen penting. Namun, bagi sebagian warga, kehilangan yang dirasakan tak bisa digantikan dengan apa pun.

Setiap suara keras kini terasa berbeda. Anak-anak lebih dekat dengan orang tua mereka. Malam-malam terasa lebih sunyi dari biasanya.

Sepekan setelah ledakan itu, Cimuning masih belajar berdiri kembali. Di antara puing dan sisa kebakaran, warga perlahan menata hidup meski duka itu, bagi banyak orang, masih tinggal. (rez)