RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kekhawatiran lonjakan kasus positif Covid-19 paska lebaran Idulfitri kemarin akhirnya terjadi. Peningkatan kasus mulai terlihat sepekan setelah lebaran, meskipun tidak dalam jumlah besar, aktivitas masyarakat di ruang publik dinilai sebagai salah satu faktor selain mudik.
Temuan kasus dalam jumlah cukup besar di beberapa wilayah di Kota maupun Kabupaten Bekasi disebabkan adanya krumunan hajatan, meskipun ada beberapa lainnya yang berlatarbelakang pasca mudik. Momentum lebaran menjadi perhatian oleh pihak Rumah Sakit (RS), selain mudik yang juga berpotensi mendorong peningkatan kasus adalah kerumunan di berbagai tempat.
“Cuma gini, perlu diingat ya, lebaran itu kan momen, (peningkatan kasus) ini juga dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat yang pada saat momen lebaran tidak mudik,” ungkap ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Kota Bekasi, Eko Nugroho, Minggu (13/6).
Berbagai faktor yang diprediksi akan memicu peningkatan kasus ini menurutnya terlihat dalam aktivitas sehari-hari, terutama pada waktu-waktu lebaran. Eko menyebutkan beberapa diantaranya adalah kerumunan di pusat perbelanjaan, lokasi wisata, hingga mobilitas warga di dalam kota.
Berikutnya adalah ketaatan masyarakat terhadap protokol kesehatan yang dinilai mulai kendor, baik di sektor formal maupun non formal. Peningkatan jumlah pasien yang datang ke RS membuat RS kembali harus berstrategi dalam penanganan pasien setelah beberapa waktu melandai.
“Nah yang masuk juga di (prediksi) kita adalah perilaku masyarakat, dulu di sektor formal sangat ketat, namun sekarang di sektor formal saja sudah mulai kendor,” tambahnya.
Meskipun tidak menampik warga yang lolos dari pelarangan mudik, menurutnya usaha yang dilakukan untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 sudah cukup baik selama momen lebaran. Namun, disayangkan jika masyarakat mudik lebih dulu atau setelah masa pelarangan mudik. Solusi terhadap situasi yang terjadi saat ini adalah masifnya kegiatan vaksinasi kepada masyarakat untuk menambah kekebalan tubuh.
Peningkatan pasien di RS dinilai masih dalam ambang batas wajar dibandingkan dengan kenyataan pergerakan masyarakat yang cukup masif. Peningkatan pada beberapa pekan ini menurut Eko terjadi setelah masa inkubasi virus, warga yang terpapar tidak lantas mengalami gejala sesaat setelah terpapar.
“Kalau dilihat dari situ sih angkanya kenaikannya masih terbilang wajar ya, kan lihat gelombang arus keluar masuk warga, ini bisa dibilang terprediksi dan terantisipasi sih,” tukasnya.
Peningkatan kasus maupun keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) RS tidak hanya terjadi di Kota Bekasi, melainkan juga wilayah lain. Jawa Barat mencatat BOR berada di angka 62,65 persen, diatas standar WHO 60 persen pekan kemarin.
Rata-rata peningkatan BOR mencapai 2 hingga 3 persen per hari, maka RS dan pemerintah harus siaga jika terjadi lonjakan lebih besar.
“Dan ini nambahnya sudah melebihi dari standar WHO. WHO itu 60 persen, kalau pak gubernur bilang ini sudah siaga,” kata Kepala Divisi Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Jawa Barat, Marion Siagian akhir pekan kemarin.
Catatan Satgas Covid-19 Provinsi Jawa Barat, 15 hari pasca lebaran, tepatnya pada tanggal 28 Mei terjadi peningkatan 1.200 kasus. Sempat turun diangka 800 kasus, beberpaa pekan terakhir jumlah kasus aktif diatas 1000 kasus.
Sementara itu, Ketua Harian Satgas Covid-19 Provinsi Jawa Barat, Daud Achmad memaparkan bahwa daerah sebaran utama masih di wilayah Bandung Raya dan Jabodetabek. Wilayah lain adalah Karawang dan Cirebon.
“Jadi kondisi sekarang ini sudah diupayakan untuk diminimalisir, bisa kita bayangkan kalau misalnya tidak ada larangan mudik, tidak ada pembatasan-pembatasan lalu lintas, kejadiannya akan lebih dari yang terjadi sekarang,” paparnya.
Menurutnya, setelah periode pambatasan mobilitas masyarakat, justru terjadi peningkatan keluar masuk warga dari satu wilayah ke wilayah lain. Daud menilai tidak ada cara lain yang dilakukan oleh Satgas Covid-19 kecuali melakukan edukasi protokol kesehatan secara terus menerus, serta meningkatkan upaya testing, tracing dan treatment (3T). (Sur)











