Berita Bekasi Nomor Satu

Al Muslim Verse, Tantangan Baru Dunia Pendidikan

Illustrasi: Sejumlah siswa SD Al Muslim menerapkan prokes seperti memakai masker dan menjaga jarak saat mengikuti PTMT di kelas, Kamis (16/9). DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Apa jadinya ya jika semua yang akan diajarkan guru kepada peserta didiknya sudah tersedia di internet? Tidak hanya berupa teks, tetapi juga gambar, suara, bahkan video tiga dimensi yang menarik untuk dinikmati. Kita sudah sering mendengar istilah Virtual Reality (VR) maupun Augmented Reality (AR) dan yang sedang happening adalah munculnya metaverse sebagai dunia baru yang dapat dimasuki oleh siapa saja. Jika semua itu diterapkan dalam dunia pendidikan, tentunya akan lebih menyenangkan.

Melihat perkembangan dunia digital ini, sepertinya Mark Zuckerberg sudah ada di  jalan yang benar. CEO Facebook ini me-rebranding perusahaannya dengan Meta pada Oktober tahun 2021.  Jika kita menyadari metaverse sebagai teknologi masa depan, kita akan melihat potensi pengembangan teknologi yang dilakukan Mark. Meta-nya adalah metaverse yang akan membawa sensasi baru dalam merasakan hidup di dunia virtual.

Namun, ternyata bukan hanya Facebook yang mendeklarasikan pengembangan metaverse, Microsoft juga turut serta dalam pengembangan teknologi ini. Terdapat platform gim seperti Roblox dan Fortnite yang sekarang sudah ada di tangan anak-anak kita.

Kita mulai bertanya-tanya, makhluk seperti apakah metaverse itu? Seberapa besar dia memengaruhi kehidupan digital manusia dewasa ini? Mengapa teknologi seperti ini menarik buat anak-anak kita?

Metaverse mengubah interaksi dua dimensi ke dalam dunia virtual tiga dimensi. Dalam dunia tersebut, kita menciptakan “dunia baru” yang kita inginkan. Kita bisa belanja, sekolah, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan dunia nyata dalam dunia virtual. Kita memindahkan dunia dengan menggunakan avatar, yang menjadi perwakilan kehadiran kita. Kita menjadi beneran hadir dalam dunia yang kita ciptakan.

Dengan masifnya metaverse, sudah pasti semua aspek akan terpengaruh, termasuk dunia pendidikan. Tidak mungkin rasanya kurikulum masa depan dapat menolak kemajuan teknologi seperti ini. Pembelajaran online yang biasanya membosankan dapat dilakukan lebih interaktif dan menarik karena peserta didik akan merasa dilibatkan dan berterima.

Ada beberapa bagian dalam dunia pendidikan virtual yang mungkin kita sudah familiar, seperti kehadiran Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR). Perbedaan mendasarnya, AR mensimulasikan objek buatan di lingkungan nyata, sementara VR menciptakan lingkungan buatan yang bisa dihuni. Sekarang, teknologi tersebut didukung dengan munculnya metaverse. Metaverse membuat kita dapat melakukan apa pun tanpa harus bertemu secara langsung. Bayangkan, hanya dengan kacamata pintar, guru dapat mengajak peserta didik melakukan tour virtual ke beberapa museum, bahkan museum-museum di seluruh dunia, tanpa harus mendatangi museum tersebut. Guru dapat mengajak peserta didik menyelami laut yang dalam dengan semua makhluk di dalamnya, tanpa mengunjungi dan menyelam dengan sesungguhnya di laut tersebut. Cukup menggunakan metaverse, kita dapat menghilangkan batas ruang dan waktu.

Dalam konteks ini, Al Muslim sebagai lembaga pendidikan yang berkepentingan dengan perkembangan digital merasa wajib memanfaatkan kemajuan ini sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Al Muslim verse akan segera hadir menyapa dunia.

Kita tahu, peserta didik zaman sekarang adalah instant learner atau pembelajar yang cepat, sehingga jika metode pembelajaran yang dilakukan guru tidak sesuai dengan ekspektasinya, mereka akan cepat bosan. Karena itu, kehadiran metaverse menjadi suatu konsep pembelajaran yang dapat diadopsi dengan segera untuk mengatasi masalah tersebut. Bagi Al Muslim, metaverse merupakan sebuah peluang yang wajib diraih.

Konsekuensi yang harus dijalani adalah mengubah mindset para pendidiknya agar lebih tanggap terhadap perkembangan dunia digital. Kehadiran metaverse mungkin menjadi saat yang kira-kira sama dengan kehadiran internet pada zamannya. Teknologi  yang akhirnya mau tidak mau kita terima, tergantung bagaimana kita mengembangkan dan menggunakannya. Yayasan Al Muslim menjadi sekolah yang terbuka dengan perubahan ini.  (*)