RADARBEKASI.ID, BEKASI – Setelah pemerintah mencabut Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng (Migor) kemasan, sontak hal itu membuat kaget masyarakat utamanya pedagang kecil melihat harga yang meroket.
Perubahan kebijakan itu membuat warga khususnya pedagang kembali mengerutkan dahi. Meski saat ini mudah didapat, namun mereka harus merogoh kocek lebih dalam dan merasa terbebani dengan harga yang terbilang tinggi.
Sebelum dicabutnya HET 16 Maret 2022, harga eceran tertinggi minyak goreng kemasan sederhana Rp 13.500 per liter, dan minyak goreng kemasan premium Rp 14.000 per liter, dan saat itu ketersediaan minyak goreng terbilang langka.
Namun kondisi ini berbanding terbalik setelah pencabutan aturan HET oleh pemerintah, Ketersediaan minyak goreng kemasan di supermarket maupun pasar swalayan tiba-tiba melimpah.
Pantauan Radar Bekasi Kamis (17/3) ketersediaan migor melimpah di salah satu Pasar Swalayan, Kota Bekasi. Namun harga minyak goreng kemasan tembus Rp 25 ribu per liter dan kemasan 2 liter bisa mencapai Rp 50 ribu.
Nuri (47) selaku pembeli yang biasanya membeli migor kemasan kebingungan dengan harga semua merk yang naik hampir 100 persen. Anehnya, setelah HET dicabut yang muncul justru minyak goreng kemasan dengan merk-merk yang jarang dijumpai.
“Sebenernya kalo merk-merk beraneka ragam sih sudah lama, hanya ini menurut saya dengan kondisi sekarang yang lagi susah, merek-merek lain bermunculan, seolah-olah menarik masyarakat untuk membeli dengan harga seolah murah padahal sama saja mau merek apapun tetap sama,” ujar Nuri salah satu ASN kepada Radar Bekasi, Kamis (17/3).
Lanjut Nuri, melimpahnya migor dengan harga yang masih terbilang tinggi cukup memberatkan apa lagi memasuki bulan Ramadan.”Harga segitu agak keberatan juga ya, apalagi sebentar lagi ramadan, dengan harga yang mahal, tetap mempengaruhi lah,” ujarnya.
Adapun Qory (45) ibu rumah tangga berdomisili Jakarta ini, rela berkeliling hingga ke Kota Bekasi untuk berburu minyak goreng kemasan dengan harga murah.
“Saya sudah nyari ke Superindo Bintara, Bekasi sampai Jakarta pun juga udah, semua harganya begitu (mahal),” ujar Qory kepada Radar Bekasi di salah satu swalayan, Kamis (17/3).
Qory pun mencari minyak untuk persiapan di bulan Ramadan yang akan jatuh di bulan April mendatang. “Kita gak nampung gak apa, cuma untuk persediaan bulan puasa nanti. Kalo yang pas lagi ada duit ya beli, kalo gak ada ya liat-liat doang,” tutupnya.
Kondisi kenaikan harga minyak goreng sangat dirasakan dampaknya bagi pelaku usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Salah satu pengusaha keripik singkong rumahan, Tati Hartati (60) mengaku sebelum adanya penghapusan HET sempat kesulitan mencari minyak goreng dan pembelian dibatasi. ”Dua hari cari minyak goreng di minimarket gak dapat, sekarang ada harga sudah naik tinggi,”keluhnya.
Ia juga terpaksa menghentikan produksi karena kelangkaan minyak.Namun setelah stok migor banyak ia bersama suami juga harus menghela nafas panjang karena tingginya harga minyak goreng. ”Harga sekarang hampir Rp 50 ribu per dua liter sangat memberatkan, kita produksi kecil cari untung gak besar, minyak goreng harga segitu sangat memberatkan,”tegasnya yang meminta pemerintah bisa menurunkan harga dan menjamin stok minyak goreng.
Sementara, di beberapa minimarket di wilayah Bekasi Timur, Kota Bekasi, Kamis (17/3) stok migor masih langka. Salah satunya di minimarket Jalan Pahlawan, Arenjaya, Bekasi Timur.
“Belum ada stok minyak goreng yang dikirim bang dari gudangnya, karena belum tersedia juga. Mungkin nanti sore atau paling lama itu besok pagi kali ya,” kata petugas pengiriman barang yang tak mau disebut namanya saat ditanya Radar Bekasi di lokasi, Kamis (17/3).
Dia menyampaikan, ketika sudah ada pengiriman dan tersedia di toko akan menggunakan harga baru, antara lain harga 2 liter sekitar Rp 51 Ribu,sedangkan 1 liter mulai dari Rp 24 ribu. “Informasi yang kami dapatkan sih segitu bang harganya, tapi sekarang stok belum dikirim ke toko-tokonya,” tuturnya.
Kekosongan migor juga masih terjadi di sejumlah minimarket Perumahan Margahayu, Bekasi Timur. Dua hari sebelumnya mereka masih menjual dengan HET yang ditetapkan pemerintah. “Untuk sekarang kosong pak, kita nggak tahu kapan datangnya. Tapi informasi nanti kalau ada juga harganya mahal pak, dua liter yang kami dapat infonya Rp50ribuan lebih dan 1 liter mulai Rp 24 ribu,” ujarnya.
Melihat fenomena ini, Ketua Komisi III DPRD Kota Bekasi, Abdul Muin Hafiedz juga menyayangkan keputusan pemerintah yang mencabut HET sehingga memberatkan masyarakat.
”Sangat disayangkan seharusnya pemerintah lebih peka dan sigap mengambil kebijakan dan tindakan dan warga merasa aman dan tetap terpenuhi kebutuhan pokoknya terutama memasuki bulan suci Ramadan 1443 H,”jelas Bang Muin sapaan akrabnya.
Politisi senior PAN Kota Bekasi ini juga menegaskan tingginya harga minyak goreng bisa berimbas pada kenaikan sejumlah kebutuhan pokok lain hingga olahan makanan.
Pihaknya mendesak pemerintah mengambil langkah-langkah pro rakyat untuk mengatasi masalah ini.”Bisa berpotensi (kenaikan) kepada kebutuhan pokok yang lain. Pemerintah harus segera mengambil tindakan dan langkah-langkah untuk segera dapat mengatasi masalah ini. Terutama masalah penghapusan HET yang dikhawatirkan bisa menimbulkan banyaknya migor oplosan dapat merugikan masyarakat baik dari sisi kualitas dan kesehatan,”pungkasnya.(cr1/mhf/one).











