RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tidak seperti tahun lalu, tahun ini Pemerintah mengizinkan masyarakat melakukan perjalanan mudik di Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Salah satu syarat yang wajib dipenuhi yakni harus sudah melengkapi vaksin dosis ke tega atau booster. Saat ini, baru ada 409.711 warga Kota dan Kabupaten Bekasi yang sudah mendapatkan vaksin lanjutan tersebut.
Meski demikian Epidemiolog mengingatkan bahwa situasi saat ini belum sepenuhnya aman, karena status pandemi masih berlangsung. Beberapa hal yang diwanti-wanti pada saat masyarakat pulang ke kampung halaman diantaranya menjauhi kerumunan, tetap disiplin Prokes, hingga meminimalisir waktu berada di area publik selama perjalanan mudik.
Rencananya Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi bersama dengan kepolisian akan merumuskan pola pengamanan arus mudik setelah dipastikan tidak ada lagi pos penyekatan seperti dua tahun silam. Presiden Joko Widodo membeberkan lebaran tahun ini potensi pergerakan orang untuk mudik mencapai 85 juta orang, belakangan juga diketahui ada 14 juta pemudik yang akan bergerak dari Jabodetabek.
“Itu nanti (disusun) dengan pak Kapolres,” kata Plt Walikota Bekasi, Tri Adhianto saat ditanya pola pengamanan arus mudik di wilayah Kota Bekasi.
Terpisah, Kasatlantas Polres Metro Bekasi Kota, AKBP Agung Pitoyo menyampaikan bahwa skema pengamanan arus mudik akan segera dirumuskan pekan depan. “InsyaAllah Minggu depan,” ungkapnya.
Pemerintah telah mengeluarkan aturan Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN) berlaku mulai 2 April lalu. Pelaku perjalanan yang telah menerima vaksin booster tidak lagi wajib menunjukkan hasil tes bebas Covid-19, pun dalam aturan tersebut ditekankan Protokol Kesehatan (Prokes) sebelum dan selama perjalanan.
Data terakhir Kota Bekasi, ada 350.215 jiwa yang telah mendapat booster. Sementara di Kabupaten Bekasi, data terakhir ada 59.495 jiwa yang telah mendapat booster. Total ada 409.711 jiwa penduduk Bekasi yang aman mudik, tidak lagi wajib menunjukkan hasil tes bebas Covid-19 dan memiliki antibodi yang tinggi dibandingkan warga lainnya.
Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman menyampaikan bahwa kesempatan mudik ini harus bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dengan catatan setiap individu harus memahami situasi saat ini untuk menjaga kesehatan mereka. Setidaknya langkah pertama yang penting dilakukan oleh para pemudik adalah melakukan penilaian risiko mandiri atas dirinya sendiri, pastikan dalam keadaan sehat, sudah dibooster, atau minimal telah menerima suntikan vaksin dosis dua.
Hematnya, masyarakat yang baru mendapat suntikan dosis satu tidak perlu memaksakan diri kecuali dalam keadaan sangat terpaksa lantaran memiliki resiko tinggi. Disamping itu ada kelompok beresiko lainnya yakni ibu hamil, masyarakat yang memiliki komorbid, Lansia, dan anak dibawah 5 tahun yang belum bisa divaksin.
Dicky menyarankan, agar aman saat mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi. Jika menggunakan angkutan umum, maka harus disiplin Protokol Kesehatan (Prokes). Disiplin Prokes penting agar terhindar dari paparan dengan penumpang lain yang tidak diketahui status kesehatan dan vaksinnya.
Sedangkan untuk perjalanan jarak jauh, misalnya antar pulau, transportasi yang paling aman kata Dicky adalah pesawat. Selama perjalanan, masyarakat disarankan untuk benar-benar menjauhi kerumunan, memilih toilet yang luas, sepi, atau memiliki sirkulasi udara yang baik.
Sedangkan pelaku perjalanan darat yang singgah di fasilitas publik atau Rest Area, durasi waktu paling aman 15 menit, atau selama-lamanya kurang dari 30 menit. Selama perjalanan, usahakan memilih sistem pembayaran menggunakan e money.
“Kalau misalnya pakai mobil pribadi menyimpang di transit atau rest area usahakan tidak lebih dari setengah jam lah, kalau bisa 15 menit wah bagus banget itu. Karena bagaimanapun semakin singkat ya semakin kecil potensi, termasuk juga jangan gampang sentuh-sentuh di tempat umum itu, gunakan masker,” paparnya.
Setibanya di kampung halaman, disarankan untuk tidak terburu-buru kontak langsung dengan sanak keluarga di kampung halaman. Lebih baik kata dia, pemudik menunggu setidaknya satu malam untuk memastikan kondisi kesehatannya tetap dalam keadaan baik, lantaran telah melakukan perjalanan jauh, terutama jika menggunakan transportasi publik.
Pemudik disarankan tetap mengenakan masker saat berkomunikasi dengan sanak keluarga setibanya di kampung halaman, terlebih dengan sanak keluarga yang telah berusia lanjut. Momentum mudik ini juga diharapkan dapat dimanfaatkan dengan baik untuk membantu keluarga yang belum mendapat suntikan vaksin dosis satu, dua, dan tiga.
Peran pemerintah daerah di kampung halaman juga penting, terutama dalam hal vaksinasi sehingga arus balik akan lebih aman. Satu lagi yang diwanti-wanti, pemudik diminta untuk tidak euforia berlebihan.
Potensi lonjakan kasus kata Dicky tetap ada pasca mudik, maka kewaspadaan harus tetap dibangun selama periode mudik lebaran. Ia mengingatkan ada 20 persen penduduk Indonesia yang belum memiliki antibodi hasil survei pemerintah pada akhir tahun 2021 lalu.
“Ada Lagi anak-anak dibawah 5 tahun yang belum divaksin, nah artinya potensi lonjakan itu ada, dan tentu tidak sebesar sebelumnya tapi akan berbeda kan tiap daerah,” tambahnya.
Maka selain kedisiplinan pemudik, kesiapan pemerintah daerah untuk memastikan kesiapan fasilitas kesehatan dan fasilitas rujukan tetap penting. Kesiapsiagaan setidaknya mesti dilakukan sampai dua pekan pasca arus balik.
Sementara itu , Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memprediksi, puncak arus mudik dengan pesawat akan terjadi pada 30 April 2022, sedangkan puncak arus balik diprediksi akan terjadi pada 8 Mei 2022. Sehingga, faktor keselamatan dan kesehatan menjadi dua hal penting yang harus dikawal dengan baik oleh seluruh pemangku kepentingan di sektor transportasi udara.
Budi menyebut, Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, akan dilakukan penambahan jam operasional bandara hingga 24 jam. Sebab, ketersediaan maskapai relatif menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
’’Oleh karenanya, kita kompensasi dengan jumlah masa operasi bandara lebih panjang, bahkan ada yang 24 jam seperti pak Dirjen Perhubungan Udara sampaikan, sehingga pesawat itu rotasinya lebih banyak,” tuturnya.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memprediksi, akan ada 8 hingga 9 juta orang yang akan mudik menggunakan pesawat. ’’Ada sekitar 8-9 juta orang yang akan mudik melalui transportasi udara, untuk itu kami berupaya untuk jauh-jauh hari menyiapkannya termasuk di Bandara Soekarno Hatta ini,” ujarnya.(Sur)











