RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Madrasah Ibtidaiyah (MI) tingkat Kota Bekasi memperebutkan Piala Bergilir Anggota DPRD Kota Bekasi Ahmad Ustuchri. Peserta merupakan 34 kelompok kerja Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang ada di Bekasi Utara dan Medansatria.
Perlombaan meliputi prestasi siswa di bidang tahfiz, pidato, senam dan seni budaya Islam, serta qasidah dimana para guru madrasah terlibat di dalamnya bersama dengan perwakilan di Kemenag BBKMI, Pokja Madrasah Ibtidaiyah Bekasi Utara.
“Alhamdulillah acara ini berlangsung meriah dalam pembukaan yang diikuti sekitar 600 siswa plus official guru dan kepala sekolah di Ponpes Annur di rumah Kanzus Sholawat openingnya,” ujar Anggota DPRD Kota Bekasi asal PKB, sekaligus Pimpinan Ponpes An-Nur Bekasi Utara, Ahmad Ushtuchri, Kamis (16/6).
Menurutnya, kegiatan dilakukan di beberapa lokasi, antara lain lapangan basket untuk senam, dan DOL An-Nur. Sedangkan, lomba tahfidz di aula Madrasah Ibtidaiyah, dan untuk qasidah dan lomba pidato digelar di rumah kayu Kanzus Sholawat.
Dia pun mengakui, event ini memperebutkan piala bergilir dirinya selaku anggota DPRD, dan diselenggarakan rutin sebagai ajang ekspresi siswa-siswi madrasah dalam berkompetisi meraih prestasi terbaik, serta mengekspresikan pemahaman softskill yang sudah didapat di sekolah.
“Saya berharap dari sini akan timbul bakat para dai, hafidz, hafidzah, seni budaya Islam serta ajang mencari bibit- bibit olahraga. Dan yang tak kalah penting ini menjadi ajang silaturahim akbar para aktivis madrasah khususnya di Bekasi Utara dan Medansatria,” tuturnya.
“Saya berharap pemkot Bekasi melihat ini sebagai sebuah potensi yang belum banyak terjamah karena madrasah ini rata-rata mandiri dari oleh dan untuk masyarakat,” sambungnya.
Lebih jauh, diakuinya, momentum Undang-undang yang baru tentang Perda Pesantren telah disahkan dan segera diimplementasi dalam bantuan baik itu untuk meningkatkan sarana dan prasarana dan kesejahteraan para guru madrasah.
“Kita tahu madrasah ini menjadi cikal bakal pendidikan modern yang sekarang menjamur menjadi sekolah dasar negeri dan seterusnya. Ketika negara belum mampu menyelenggarakan pendidikan maka madrasah dan para guru madrasah, ustadz kampung inilah yang menjadi penyelamat generasi bangsa,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata Ushtuchri, negara wajib hadir membela, melakukan afirmasi, serta memperlakukan sama sistem pendidikan lain. Bahkan madrasah dinilai sangat unggul karena tidak hanya pelajaran umum namun juga ada pelajaran agama.
“Apalagi lulusannya sekarang luar biasa bisa diterima di perguruan-perguruan tinggi di tanah air UGM Unpad dll bahkan di luar negeri lulusan madrasah menjadi pemenang olimpiade di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.
“Jadi, tidak boleh ada lagi stigma madrasah ini anak tiri atau sistem pendidikan yang setengah informal dan saya kira stigma itu sudah harus hilang dan pemerintah wajib memperhatikan keberadaan madrasah bahkan terus dukung dan mengembangkan eksistensinya,” tandasnya. (mhf/pms).











