BEKACITIZEN

Ikhtiar Menghadapi Pandemi Covid-19

Oleh: Afief Ardhila (Wakil Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat)

Ancaman Covid-19 tidak mengenal batas negara. Sudah banyak yang meninggal karena virus ini. Hingga 27 Maret 2020 berdasarkan https://www.worldometers.info/coronavirus/kematian di dunia berjumlah 24.136 orang.

Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 199 negara yang terkonfirmasi wilayahnya diserang Covid-19. 87 orang Indonesia dinyatakan meninggal dunia.

Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun terpaksa memperpanjang masa darurat bencana Covid-19 selama 91 hari. Terhitung sejak 29 Februari sampai 29 Mei 2020.

Karena Wabah Covid 19 ini pemerintah menyerukan masyarakat menjalani prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),  seperti cuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas. Jangan lupa berolahraga.

Interaksi sosial pun dibatasi. Hanya berjarak satu meter. Social distancing. Hindari kerumunan orang banyak bahkan harus memakai masker saat ke luar rumah.

Rencana yang sudah dijadwalkan terpaksa ditunda, bahkan dibatalkan untuk menghindari wabah virus ini. Anak sekolah melakukan pembelajaran dari rumah dengan teknologi internet.

Pemerintah juga meniadakan meniadakan UN dari tingkat SD sampai SLTA. Instansi Pemerintah dan swasta memperkerjakan pegawainya lewat rumah atau yang disebut Work From Home (WFH).

Kegiatan ibadah terkait salat 5 waktu  harus di rumah bagi yang memiliki gejala sakit tidak dianjurkan untuk salat ke masjid sesuai Fatwa MUI  No.14 tahun 2020 tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi wabah covid 19.

Dan tidak menutup  kemungkinan Ramadhan dan Lebaran, kita akan masih menghadapi wabah Covid-19.

Menyikapi virus mematikan ini kita sebagai makhluk yang beriman harus bisa bersabar dan berikhtiar dalam menghadapi wabah ini sesuai dengan firman Allah sungguh akan kami beri cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Beritakanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar (Q.s Al Baqarah : 155)

Ayat ini menjelaskan bagaimana kita harus bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah SWT, jangan berputus asa ketika kita ditimpa wabah Covid-19. Mungkin ini cara Allah SWT untuk menguji hamba-Nya dengan mendatangkan Covid-19 sebagai bentuk Rahman dan Rahim kepada hambanya.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Allah mengujinya dengan musibah.” (HR Bukhari).

Musibah yang melanda dunia saat ini tentu bukan yang pertama. Sebelumnya sudah pernah ada di zaman Nabi SAW, yaitu wabah penyakit yang menular dan mematikan (Tha’un).

Korban Covid 19 yang bersabar, berikhtiar, bertawakal dan berbaik sangka kepada Allah SWT  maka akan mendapatkan pahala syahid. Rasulullah SAW bersabda. “Orang syahid itu ada 5 (lima) : orang terkenena wabah penyakit, orang mati karena sakit di dalam perutnya, orang tenggelam, orang tertimpa reruntuhan bangunan, dan orang syahid di Jalan Allah (HR Bukhari).

Tentu saja setiap umat berharap meninggal dalam keadaan mati syahid, tetapi dengan keadaan sekarang kita juga harus berikhtiar sekuat kita ketika wabah itu datang, dengan tidak berpergian sehingga kita bisa memutus mata rantai wabah ini sehingga wabah ini cepat berlalu.

Rasulullah SAW bersabda, ’’Jika Allah SWT menimpakan musibah berupa penyakit pada tubuh seorang hamba-Nya, Allah akan memerintahkan kepada malaikat-Nya, catatlah itu sebagai amal salehnya. Jika ia sembuh dari penyakitnya, Allah telah membasuh dan membersihkan tubuhnya. Sedangkan jika dengan sakitnya itu kemudian Allah mencabut nyawanya, berarti Allah telah mengampuni dosa-dosanya dan merahmatinya.” (HR Bukhari).

Wallahu a’lam Bishawab. (*)

Tags
Close