Berita UtamaPendidikan

Sekolah di Zona Hijau Tetap Rentan

SDN-Jatikramat-V-Kota-Bekasi
ILUSTRASI: Dua orang guru SDN Jatikramat V Kota Bekasi saat bertugas piket di sekolah. Sekolah di zona hijau tak menjamin keselamatan siswa maupun guru dari penyebaran virus Corona (Covid-19).Dewi Wardah Radar Bekasi

Radarbekasi.id – Sekolah di zona hijau tak menjamin keselamatan siswa maupun guru dari penyebaran virus Corona (Covid-19). Demikian disampaikan oleh Sekretaris 1 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bekasi Supyanto.

Merujuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pelajar rentan Covid-19. Apalagi, belum seluruh di wilayah Bekasi dinyatakan bebas dari virus tersebut.

“Kota dan Kabupaten Bekasi masih rentan adanya pembukaan sekolah di zona hijau. Jadi saya rasa belum cukup aman jika sekolah dilaksanakan dengan tatap muka,” ujarnya kepada Radar Bekasi, Rabu (17/6).

Hal itu dikatakan Supyanto menanggapi terkait diizinkannya sekolah di zona hijau melakukan pembelajaran tatap muka. Sejumlah orangtua murid juga tak setuju pembelajaran tatap muka kembali dilakukan saat ini.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh pengawas di masing-masing sekolah, 60 pesen orangtua keberatan dilaksanakannya pembelajaran langsung di kelas.
“Kita sudah mencoba untuk menyebarkan survei berupa angket kepada sejumlah orangtua siswa, hasilnya memang cukup terlihat bahwa orangtua dalam hal ini khawatir jika dilakukan sistem pembelajaran tatap muka,” tuturnya.

Supyanto berharap, Pemerintah Kota Bekasi bisa mempertimbangkan dengan matang sekolah di zona hijau boleh mengikuti pembelajaran tatap muka saat pandemi.

Dikatakannya, jika terpaksa sekolah kembali dibuka, maka otomatis beban guru bertambah. Dengan adanya penerapan protokol kesehatan seperti jaga jarak, dan pembatasan siswa di kelas membuat tenaga pendidik harus ekstra dalam melaksanakan pembelajaran.

“Akibatnya, guru bisa menjadi stress,” tukasnya.

Siapkan Protokol Kesehatan
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Tambun Selatan Annisa mengaku siap jika pembelajaran tatap muka kembali dilakukan. Protokol kesehatan sudah dipersiapkan. Yakni dengan menyemprotkan disinfektan di lingkungan sekolah, penyediaan sarana cuci tangan, dan hand sanitizer.

Selain itu, menyiapkan ruang isolasi sebagai antisipasi apabila ditemukan siswa yang suhu tubuhnya meningkat secara tiba-tiba. Tak hanya itu, jumlah siswa di dalam kelas juga akan dikurangi.

Misalnya dalam satu kelas biasanya diisi 40 siswa, nanti hanya 20 siswa yang mengikuti pembelajaran di kelas. Sisanya belajar melalui daring, tetapi tetap materi maupun tugas yang diberikan sama.

“Kita akan berusaha menyiapkan standard selama pandemi ini. Apabila diperbolehkan masuk di tahun ajaran baru ini,” ungkapnya. (dew/pra)

Related Articles

Back to top button