Berita UtamaPendidikan

Kemenag Belum Arahkan Ponpes Dibuka Kembali

Ponpes
ILUSTRASI: Pengurus Ponpes Annur berjalan menuju salah satu gedung khusus santri perempuan. Ponpes di Kota Bekasi belum melakukan KBM tatap muka.Dewi Wardah Radar Bekasi

Radarbekasi.id – Pondok pesantren (Ponpes) di Kota Bekasi belum melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka. Kementerian Agama (Kemenag) bersama pemerintah daerah setempat masih mengkaji pembukaan kembali ponpes pada era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di tengah pandemi Covid-19.

Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kemenag Kota Bekasi Mulyono Hilman Hakim menjelaskan, pembukaan kembali ponpes diserahkan oleh kebijakan masing-masing daerah. Sebab daerah yang mengetahui kondisi wilayah pada masa pandemi sekarang ini.

“Diserahkan kepada Kemenag masing-masing daerah untuk memutuskan kapan pembelajaran pondok pesantren memulai aktivitasnya kembali, kenapa diputuskan melalui masing-masing daerah karena yang tahu kondisi di daerah masing-masing yaitu para pemangku wilayah baik kabupaten maupun kota. Sekarang Kemenag bersama pemda sedang mempersiapkan itu,” ujarnya kepada Radar Senin, (22/6).

Berdasarkan data yang dihimpun Kemenag Kota Bekasi, terdapat 50 ponpes aktif. Mulyono memastikan, puluhan ponpes itu belum memulai KBM tatap muka. Sampai dengan saat ini, Kemenag bersama Pemerintah Kota Bekasi masih mengkaji ponpes dibuka kembali.

“Kemenag belum mengarahkan ponpes untuk dibuka kembali, karena kita masih mengkajinya bersama pemerintah daerah setempat. Karena ini juga merupakan libur akhir semester, jadi kita tunggu saja perkembanggannya hingga awal Juli,” katanya.

Mulyono menambahkan, hal terpenting saat ini ponpes menyiapkan protokol kesehatan. Sehingga nantinya sudah siap ketika memulai KBM tatap muka.

Sementara, Pengasuh Pondok Pesanten Annur Kota Bekasi, Eli Mutawalli mengaku masih menunggu arahan dari pemerintah terkait dengan sistem pembelajaran tatap muka. Pihaknya akan membuat evaluasi secara mandiri bersama dengan tingkat pimpinan yayasan untuk memulai kembali aktivitas di lingkungan ponpes.

“Kita akan membuat evaluasi secara mandiri terkait dengan persiapan kembali aktivitas di dalam pondok pesantren, karena saya yakin jika memang diizinkan dibuka kembali maka protokol kesehatan harus diterapkan dengan ketat bagi sejumlah santri. Karena untuk santri sendiri sistemnya menetap bukan pulang dan pergi, jadi tanggung jawab sepenuhnya oleh pesantren,” tutur Eri.

Ponpes di wilayah Perwira Bekasi Utara yang memiliki sekitar 400 santri itu mulai mempersiapkan protokol kesehatan. Antaralain, penyediaan tempat cuci tangan serta penyemprotan disinfektan di lingkungan ponpes.

Selain wajib memakai masker, saat KBM tatap muka nanti para santri maupun pengajar wajib menyerahkan bukti surat keterangan kesehatan dari rumah sakit maupun puskesmas.

Tak hanya itu, tempat tidur para santri akan diberikan jarak. Berbagai upaya itu penting dilakukan demi menjamin keamanan para santri dari penularan virus.
“Ini bener-bener harus dievaluasi dengan cermat, karena kita harus menerapkan sejumlah kegiatan pesantren seperti mengaji, salat dengan jaga jarak. Yang masih menjadi pertimbangan kita adalah tempat tidur santri yang belum menggunakan skat untuk pembatas. Nah hal-hal ini yang akan kita pertimbangkan dengan matang, agar ketika santri datang mereka benar-benar terjamin keamanannya,” ungkapnya.

Eri menambahkan, ponpes membutuhkan perhatian dari pemerintah berupa tes cepat bagi para pengajar. Pasalnya biaya tes yang dikeluarkan cukup besar.
“Pondok pesantren juga membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk melakukan rapid test kepada sejumlah tenaga pengajar, karena jika dibebankan secara mandiri ke guru maka memang cukup berat karena satu kali tes cukup mahal,” pungkasnya. (dew)

Related Articles

Back to top button