BEKACITIZENBekasi

Rumah Hanyut Bakal Diganti

MENGUNGSI : Seorang pengungsi tertidur saat kereta melintasi Desa Bojongsari Kedungwaringin, Selasa (23/2). Sudah tiga hari warga terdampak banjir itu membuat tenda darurat tanpa listrik dan air bersih dibantaran rel kereta api.ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Belasan rumah yang hanyut terseret arus saat banjir di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran, bakal mendapat ganti dari pemerintah meskipun tidak ful. Kendati demikian, bisa meringankan beban warg ayang kehilangan tempat tinggal

Kapolres Metro Bekasi, Kombes Pol Hendra Gunawan mengaku, hingga saat ini masil melakukan pendataan jumlah rumah yang hanyut,”Rumah yang ke bawa arus ada sebelahnya tanggul di Desa Karangharja, ada sekitar 13 rumah. Sekarang mereka masih bertahan dipengungsian,” ujarnya saat ditemui di posko pengungsian di saung desa, Selasa (23/2).

Kata Hendra, pada hari ketiga ini, kondisi air di Kecamatan Pebayuran mulai berangsur surut. Jumlah warga yang mengungsi sudah mulai berkurang. Sebelumnya, warga yang mengungsi sekitar 9.245, sekarang tersisa 350 orang.

Warga yang masih bertahan berada di tiga posko pengungsian, seperti di saung desa ada 50 orang. Kemudian, di puskesmas dan gedung Sekolah Dasar (SD) di Desa Karang Harja sekitar 50 orang, dan di sepanjang tanggul sungai Citarum, menggunakan tenda-tenda terpal, kurang lebih ada 250 orang.

Sampai saat ini masih ada tiga kampung di Desa Karangsegar, Kecamatan Pebayuran, yang terisolir. Sebab, tiga kampung tersebut dikeliling banjir, sehingga untuk aksesnya harus menggunakan perahu. Sehingga distribusi logistik harus di droping menggunakan perahu karet.

“Ada tiga kampung Pisang Batu, Segaran, dan Hura-Hura, yang memang tidak bisa kemana-mana, mengingat dikelilingi oleh luapan banjir. Tapi dampak banjirnya tidak parah, ketinggian air 10 sampai 60 cm. Makanya warga bertahan rumah masing-masing, ada sekitar 350 KK, 1000 jiwa,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyampaikan, untuk rumah warga yang hanyut terbawa arus saat banjir melanda, diupayahkan mendapat bantuan untuk membangun rumah kembali, dengan memanfatkan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). “Ada bantuan, itu enggak ada masalah, kita ada program rutilahu, membangun rumah baru, nanti kita upayahkan, bisa dari pemerintah kabupaten maupun provinsi,” jelasnya.

Mantan Walikota Bandung ini mengatakan, proses perbaikan tanggul yang jebol sedang dilakukan, ada level dua untuk emergency, yakni biobek biotestil, mulai Selasa (23/2), perbaikan sudah dimulai. Sampai saat ini, proses perbaikan ada yang sudah 100 persen. “Untuk ke daruratan seperti disini (Pebayuran), mudah-mudahan bisa surut, agar segera dikerjakan. Kita akan perbaiki agar air tidak mengalir lagi ke titik-titik yang sekararang banjir,” ucapnya.

Masih Emil, dari laporan yang di terima sampai saat ini, ada tiga titik tanggul yang jebol. Kemudian, untuk pola perbaikannya sama, akan simultan. Sekarang, kondisi air masih menggenang di Kecamatan Muaragembong, mengingat titik terendah.

“Karena ujung terendahnya di Muaragembong, jadi air itu sekarang masih menggenangi. Karena ujung Citarum itu di Muaragembong, langsung ke laut,” ungkapnya.

Salah seorang warga Kampung Babakan Banten RT 05/03, Desa Sumberurip, Arma(42) berharap, janji pemerintah akanmembantu wargayang rumahnya hanyut bisa terlealisasi,”Saya si berharap, ada bantuan untuk membangun rumah kembali. Saya duit dari mana, karena selama banjir enggak bisa bekerja, barang-barang semua hilang ke bawa air. Sekarang saya tinggal di rumah anak, untuk sementara,” ungkapnya.(pra)

Related Articles

Back to top button