Bekasi

Masyarakat Diminta Tidak Panik

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sementara itu, Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman menyampaikan varian baru ini sama dengan virus sebelumnya yang hingga kini masih menyelimuti kehidupan masyarakat Kota dan Kabupaten Bekasi. Virus ini sama saja mulai dari jenis, penyakit yang ditimbulkan, hingga cara penularannya.

Hanya saja, yang berbeda adalah kode genetik virus baru ini, virus ini disebut dapat menular lebih cepat. Bahkan, dapat meningkatkan tingkat kematian dibandingkan virus yang ada sebelumnya. “70 persen dia lebih cepat menyebar, menular, kemudian 30 persen berpotensi meningkatkan kematian,” terangnya kepada Radar Bekasi.

Pasalnya, jumlah virus yang ada pada tubuh pasien terinfeksi virus varian baru ini lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan varian virus sebelumnya. Sehingga, cepat menular dan tingkat kesakitan yang dialami lebih berat.

Masyarakat diminta tidak perlu panik, tapi harus tetap waspada. Tetap dengan protokol kesehatan yang selama ini dilakukan, terutama menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.Pemerintah harus lebih intens melakukan testing dan tracing, serta proses vaksinasi harus dipercepat.”Tapi harus dua atau tiga kali lebih masif, agresif, karena lebih cepat menular,” tambahnya.

Vaksinasi yang tengah berjalan disebut masih dinilai efektif untuk jenis mutasi virus ini. Untuk itu, vaksinasi perlu dipercepat agar penyebaran dapat ditekan, serta keparahan dan kematian. Selama Pandemi belum teratasi, maka kemungkinan virus untuk bermutasi masih ada.

Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Wien Kusharyoto menyampaikan, ada yang unik dari virus varian baru tersebut. “Pada protein spike terdapat delapan mutasi asam amino,” katanya Rabu (3/3).

Diantara mutasi asam itu adalah mutasi N501Y dan delesi atau penghilangan dua asam amino H69 dan H70. Kondisi ini yang menyebabkan peningkatan kemampuan virus mutasi B117 untuk menginfeksi sel.

Pada kesempatan sebelumnya dia menuturkan apabila dua sampel varian B117 tersebut ditemukan di suatu daerah tertentu, maka segera diperlukan pelacakan. Tujuannya untuk mengetahui apakah varian atau mutasi B117 itu sudah ditularkan ke orang-orang lain disekitarnya. Setelah itu diperlukan deteksi RT-PCR yang dilanjutkan dengan input data di Whole Genome Sequence (WGS).

’’Kemudian diperlukan pula isolasi dan penanganan yang lebih ketat terhadap mereka yang terinfeksi oleh varian tersebut,’’ tuturnya.

Dia menjelaskan sampai saat ini hasil WGS dari keuda sampel tersebut belum ada di laman GISAID. Dia menduga besar kemungkinan bahwa varian tersebut masuk ke Indonesia dari kasus di luar negeri.(Sur/jpc)

Related Articles

Back to top button