Bocah Bekasi si Pemain Terbaik Pertama Garuda Select 3

LATIHAN : Muhammad Faiz Maulana (16) top score program garuda select 3 sedang berlatih di kediamannya Pengasinan Rawalumbu Kota Bekasi. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI
LATIHAN : Muhammad Faiz Maulana (16) top score program garuda select 3 sedang berlatih di kediamannya Pengasinan Rawalumbu Kota Bekasi. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Muhammad Faiz, warga Jalan H Landung RT 04/16 Kelurahan Pengasinan Kecamatan Rawalumbu tidak hanya menjadi kebanggakan keluarga, namun warga sekitar tempat tinggalnya. Remaja 16 tahun ini menjadi pemain terbaik pertama Garuda Select 3 usai bertanding dengan sejumlah tim sepak bola di Eropa.

“Tidak ada hasil yang akan mengkhianati usaha,” pepatah ini menggambarkan pemain striker muda asal Bekasi, usaha keras sejak duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pengasinan VI hingga kini ia menjadi pemain terbaik skuat Garuda Select 3. Usahanya terbilang keras, semangatnya menjadi pemain sepak bola berhasil merebut dukungan orang tua dan keluarganya setelah sebelumnya keluarga terbilang tidak menggubris sedikitpun hobi dan cita-citanya itu.


Setelah lima hari menjalani Karantina, Faiz akhirnya pulang ke Kota Bekasi bertemu dengan orang tua, kakek, nenek, serta kerabat dan tetangga yang selama ini menyaksikan aksinya melalui sambungan tv kabel. Musim ke tiga sudah selesai, semua pemain kembali ke tanah air, tapi bukan berarti waktunya bersantai, kebugaran fisik harus tetap dijaga, itu yang tengah dilakukan oleh Faiz di teras rumahnya, Kamis (27/5) sore.

Berbagai macam latihan untuk menjaga kebugaran fisik dilakukan oleh Faiz, mulai dari push up, sit up, hingga menjuggling bola dengan beberapa tehnik. Kerabat dan keluarga menyaksikan kebolehan Faiz mengolah bola, mereka tidak menyangka striker yang pada masa kecil kesulitan untuk membeli bola dan sepatu ini tengah menjadi kebanggaan.


Selama enam bulan berada di Inggris, ia mengaku banyak belajar tentang sepak bola, kebugaran fisik, hingga bahasa Inggris yang selama ini menjadi mata pelajaran paling tidak ia sukai. Ia berencana untuk kembali mengikuti seleksi Garuda Select 4, rencananya dimulai akhir tahun ini meskipun beberapa club lokal sudah melirik anak yang pernah ikut di salah satu Sekolah Sepak Bola (SSB) di Kota Bekasi ini.

“Prinsip saya dari dulu dilahirkan di keluarga ini untuk membangkitkan ekonomi orang tua yang kurang cukup, buat angkat derajat orang tua lah. Dengan kaki ini insyaAllah saya akan bawa keluarga buat umroh atau punya usaha,” katanya usai latihan.

Tawaran club lokal tidak lantas ia terima sepulangnya dari Eropa, ia berkeinginan untuk kembali mengikuti program pembinaan sepak bola usia muda Indonesia di Eropa pada Select 4. Selesai menyelesaikan musim ke empat, usianya dipastikan menginjak 17 tahun, sesuai ketentuan sepak bola Eropa, ia dapat bergabung dengan tim Eropa.

Faiz tercatat lulusan SDN Pengasinan VI, kemudian melanjutkan jenjang pendidikan di SMP Bani Taqwa, dilanjutkan di SMA Pulo Mas sebelum akhirnya terbang ke Eropa. Pendidikan bagi Faiz tidak lantas dikesampingkan, tetap menjadi prioritas bersama dengan hobinya meskipun diakui saat ini kesulitan untuk membagi waktu.

Bahasa Inggris seolah menjadi pukulan bagi Faiz saat berada di Eropa. Pasalnya, ia tidak menyukai mata pelajaran Bahasa Inggris, ia bahkan menilai tidak penting karena tidak pernah bermimpi sampai di Inggris.

Hasilnya, ia musti beradaptasi empat bulan lamanya dengan beberapa pemain asing selama berada di tim Garuda Select 3, itupun didampingi oleh guru yang ikut serta dari Indonesia. Selain itu ia mengaku sering meninggalkan jam pelajaran untuk bermain bola.

“Apalagi bahasa Inggris dulu, apaansih bahasa Inggris, nggak bakalan ke Inggris karena nggak tau kan kaya sekarang,” ungkapnya tersenyum tipis.

Saat duduk di kelas 3 SD, orang tuanya mendaftarkan Faiz di salah satu SSB di Kota Bekasi untuk menyalurkan tekadnya yang bulat, dari SSB ini Fariz kemudian menimba ilmu di akademi Bina Taruna FA. Akhirnya, pemuda Kota Bekasi ini berhasil lolos seleksi ke Inggris setelah tampil apik di Liga TopSkor.

TopSkor Garuda Select 3 ini mengidolakan Bambang Pamungkas sebagai pemain lokal dan Robert Lewandowski sebagai pemain Eropa. Cita-citanya ingin bermain di club Eropa bersama dengan pemain besar dunia.

“Yang pasti main di club Eropa mana saja, yang penting buat jenjang saya bagus untuk kedepannya, dan bisa membawa Timnas Indonesia di piala dunia 2023 nanti,” tukasnya.

Sekali lagi tidak mudah perjuangan Faiz, begitu yang diungkapkan berulang-ulang oleh sang ayah, Asep Mulyawan (41) seraya merasa bersalah sempat tidak menghiraukan hobi dan cita-cita anaknya. Bahkan, untuk membeli sepatu bola, anaknya harus rela membersihkan makam tidak jauh dari rumahnya menjelang ramadhan.

Hasil Rp70 ribu yang didapat oleh Faiz saat itu digunakan untuk membeli sepatu bekas dari temannya. Keluarga Faiz tidak ada yang menyukai sepak bola, itu sebabnya Faiz tidak mendapat dukungan penuh.

“Saya pun sebagai orang tua awalnya tidak mendukung kalau dia bermain sepak bola, sampai saya sering marahin di Faiz karena kakinya nggak mau diam, lihat botol tendang, ada bantal juga ditendangin sampai kapuknya berhamburan, pokok ya saya sangat nggak mendukung,”ungkapnya.

Kini semua berubah 180 derajat, Asep mengaku bukan hanya mendukung anaknya, bahkan ia mengaku benar-benar menjaga anaknya untuk menggapai cita-cita. Bahkan keluarga yang menonton pertandingan sepak bola hanya sekedarnya saja, terbatas Timnas Indonesia, saat ini menggelar nonton bareng setiap Faiz bertanding di Eropa beberapa waktu lalu.

Bahkan, tekad bulat yang tak bisa bendung itu rela membuat anaknya meninggalkan jam pelajaran hanya untuk bermain bola. Faiz meninggalkan sekolah untuk menggeluti hobinya, tas yang masih berada di sekolah diantar temannya ke rumah, hal ini juga membuat geram ayahnya.

Namun usaha dan kerja keras Faiz akhirnya membuat hati ayahnya luluh.”Akhirnya saya terenyuh, kasihan juga melihat si Faiz ini. Akhirnya saya masukin SSB meski saya masih setengah hati. Ternyata Alhamdulillah dia sampai terpilih di Garuda Select Season 3 karena hasil dan kerja keras dia,” tambahnya.

Saat ini Faiz menjadi kebanggaan dan harapan keluarganya, meskipun demikian Faiz mengaku tidak lantas bangga dengan apa yang sudah ia capai saat ini. Faiz juga menyimpan harapan untuk sepak bola Indonesia, ia menggaris bawahi kasus pengaturan skor untuk tidak lagi terjadi di kancah persepakbolaan nasional, selain itu pemerintah juga diminta untuk lebih banyak melihat bibit pemain muda potensial yang ia nilai jumlahnya banyak hanya saja tidak terlihat maksimal untuk dibina menjadi pemain hebat Indonesia.(*)