Bekasi

Kuliah Tatap Muka Dimulai

Mahasiswa dan Dosen Harus Sudah Divaksin

RADARBEKASI.ID, BEKASI SELATAN – Sejumlah Perguruan Tinggi (PT) di Bekasi mulai melaksanakan perkuliahan tatap muka terbatas di semester ganjil tahun akademik 2021/2022. Hal ini seiring pemerintah yang memberikan izin di wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level tiga untuk menyelenggarakan perkuliahan tatap muka.

President University misalnya. Kampus yang berada di Jababeka Cikarang Utara ini memulai semester ganjil dengan perkuliahan tatap muka secara terbatas menggunakan metode hybrid learning. Kendati demikian, sebagian besar mahasiswa mengaku masih memilih kuliah online. Maka, nyaris dalam satu kelas hanya diisi kurang dari 10 mahasiswa, selebihnya mengikuti perkuliahan secara online dari rumah masing-masing.

“Di kelas paling lima sampai 10 orang, kurang dari 10 lah, sisanya lagi 20 orang masih online mereka. Dan kelas kita tidak semuanya hybrid, banyak kelas yang mahasiswanya masih memilih online,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan President University, Handa Abidin, Selasa (7/9).

Proses perkuliahan selama dua hari menurut Handa berjalan lancar, didukung juga oleh dosen dan mahasiswa yang telah terbiasa memberi dan mengikuti perkuliahan secara online. Perkuliahan dilakukan dengan protokol kesehatan secara ketat, perkuliahan ditempuh dengan waktu 150 menit, setelahnya dihimbau untuk segera kembali ke rumah masing-masing.

Untuk mahasiswa di bawah 21 tahun, pihaknya mewajibkan persetujuan atau izin dari orang tua untuk dapat mengikuti perkuliahan tatap muka.”Kita tidak mewajibkan mahasiswa untuk offline sesuai dengan arahan mas menteri dan SKB 4 menteri ya. Kalau usia mereka itu masih dibawah 21 tahun, mereka perlu izin orang tua, jadi ada persetujuan orang tua,” tambahnya.

Satu lagi universitas yang berencana untuk menggelar perkuliahan tatap muka adalah Universitas Bina Insani. Perkuliahan tatap muka rencananya dilakukan mulai 20 September pada awal semester ganjil ini. Perkuliahan tetap dilakukan dengan metode hybrid learning, kapasitas mahasiswa di dalam kelas 50 persen.

Rektor Bina Insani University, Indra Muis mengaku, pihaknya telah memperhatikan situasi penyebaran Covid-19 di Kota Bekasi yang semakin membaik, hari ini staff dan karyawan mulai Work From Office (WFO). Perkuliahan tatap muka nanti mempersyaratkan izin dari orang tua.”Untuk perkuliahan kita mulai nantinya di tanggal 20 September untuk semester ganjil 2021/2022 langsung offline, tapi konsepnya masih hybrid,” terangnya.

Ketentuan berikutnya, mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tatap muka diwajibkan minimal telah menerima vaksin dosis pertama. Sehari sebelum masuk kelas, mahasiswa wajib mengisi self assessment Covid-19, meskipun telah divaksin.

Jam perkuliahan berlangsung normal, tidak ada perubahan. Selama hari perkuliahan, Satgas yang dibentuk di kampus akan mengawasi kegiatan mahasiswa di area kampus, guna mencegah kerumunan.

Pihaknya segera berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 Kota Bekasi terkait dengan rencana perkuliahan tatap muka yang akan dilakukan, disamping itu LLDikti wilayah IV memberi sinyal untuk PT menyesuaikan kondisi penyebaran Covid-19 di wilayah masing-masing.”Yang jelas kita siapkan satgasnya, jadi ada polisinya dari staff dan manajemennya Bina Insani, dibagi dalam dua sif pagi dan sore,” tukasnya.

Berbeda dengan dua Universitas sebelumnya, Universitas Bhayangkara (Ubhara) Jaya belum melakukan perkuliahan tatap muka pada semester ganjil ini. Kegiatan tatap muka pada semester ganjil hanya dilakukan untuk kegiatan tertentu oleh mahasiswa dan dosen seperti konsultasi skripsi, ujian proposal, sidang skripsi, plus praktik laboratorium.

Perkuliahan tatap muka baru akan dilaksanakan pada semester genap tahun akademik 2021/2022. Perkuliahan tatap muka akan dilaksanakan pada saat dipastikan situasi pandemi Covid-19 benar-benar telah mereda, sehingga pihak kampus siap untuk pengelolaan selama perkuliahan tatap muka.

“Di semester sekarang belum bisa perkuliahan online karena satu alasan, yang pertama jelas karena pandemi belum mereda walau sekarang menurun, kami tidak mau spekulasi,” ungkap Wakil Rektor 1 Ubhara Jaya, Tatang Ary Gumanti.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) MPD Bekasi Raya, Wawan Hermawansyah mengatakan bahwa perkuliahan semester ganjil kali ini akan dilaksanakan dengan beberapa konsep yang telah disusun oleh PT. Sebagian PT telah merencanakan perkuliahan tatap muka, sebagian lagi masih daring, namun hingga saat ini PT yang melaksanakan perkuliahan online masih sangat sedikit bahkan hanya hitungan jari.

Bagi PT yang akan melakukan perkuliahan offline, salah satu pertimbangan ADI dan Aptisi adalah dosen dan mahasiswa harus sudah divaksin. Selain itu, kejujuran mahasiswa juga menjadi catatan penting lantaran aktivitas sehari-harinya berbeda dengan siswa, mahasiswa dalam kegiatan sehari-hari banyak berinteraksi terutama oleh mahasiswa yang berstatus sebagai karyawan.

Maka, untuk memberikan rasa aman pada pelaksanaan perkuliahan tatap muka, diperlukan kejujuran mahasiswa tentang aktivitas sehari-hari, serta riwayat interaksi yang telah dilakukan.”Kami dari Aptisi dan asosiasi dosen itu mempersilahkan kepada masing-masing kampus, dengan catatan jika itu tatap muka, maka harus mengikuti protokol kesehatan yang sesuai dengan regulasi,” ungkapnya.

Dengan kondisi mayoritas di atas 50 persen mahasiswa di Bekasi berstatus sebagai pekerja, hal ini dinilai memiliki resiko tersendiri. Selanjutnya, perkuliahan tatap muka bisa dilaksanakan dengan kapasitas mahasiswa sebesar 50 persen, serta menggunakan metode hybrid learning.

Namun, hampir dua tahun perkuliahan online yang awalnya terkesan dilaksanakan akibat pandemi ini dinilai Wawan telah menciptakan budaya baru, mahasiswa maupun PT berada di zona nyaman perkuliahan secara online. Bahkan, sejumlah kampus yang berencana untuk membakukan metode kegiatan perkuliahan online ini.

“Jadi ada zona nyaman ceritanya, baik dari sisi dosen maupun kampus, walaupun ada beberapa yang perlu diperbaiki. Perbaikan dari konten dan evaluasi perkuliahan harus diperhatikan betul,” tambahnya.

Ia menyebut pengembangan sistem e learning tersebut membutuhkan biaya tidak murah, sementara penggunaan media umum seperti google meeting, atau zoom meeting tidak diharapkan oleh ADI dan Aptisi, melainkan setiap kampus memiliki server masing-masing. Sehingga, bagi kampus yang tidak memiliki kemampuan secara finansial untuk mengembangkan sistem pengajaran jarak jauh, bisa bekerjasama dengan kampus yang telah mapan secara finansial atau sistem e learning yang dimiliki.

Kegiatan tatap muka selama ini hanya dilakukan pada beberapa mata kuliah tertentu, terutama yang memerlukan praktik secara langsung, selebihnya masih dilaksanakan secara online. (mif/sur)

Related Articles

Error, no group ID set! Check your syntax!
Back to top button