Berita Bekasi Nomor Satu

Dosen Harus Lakukan Pemetaan Mahasiswa

ILUSTRASI: Sejumlah mahasiswa berada di lingkungan Universitas Krisnadwipayana. Dosen harus melakukan mapping atau pemetaan kepada mahasiswa yang memiliki keahlian dalam salah satu bidang. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI
ILUSTRASI: Sejumlah mahasiswa berada di lingkungan Universitas Krisnadwipayana. Dosen harus melakukan mapping atau pemetaan kepada mahasiswa yang memiliki keahlian dalam salah satu bidang. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dosen harus melakukan mapping atau pemetaan kepada mahasiswa yang memiliki keahlian dalam salah satu bidang. Dengan begitu, mahasiswa yang dilibatkan oleh dosen dalam aktivitas penelitian dapat menjadi partner yang tepat.

Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Majelis Pengurus Daerah (MPD) Bekasi Raya Wawan Hermawansyah mengatakan, dosen wajib untuk melibatkan mahasiswa dalam aktivitas penelitian.

“Dosen memang wajib melibatkan mahasiswa dalam proses penelitian, karena mahasiswa harus diberikan proses perkuliahan yang bukan hanya teoritis saja,” ujar Wawan kepada Radar Bekasi, Senin (24/1).

Ia menjelaskan, aktivitas penelitian oleh dosen dilakukan minimal satu kali per semester. Selain penelitian, dosen wajib menjalankan kegiatan mengajar dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Wawan, selama ini dosen di perguruan tinggi kurang melakukan pemetaan kepada mahasiswa yang memiliki keahlian dalam salah satu bidang. Akibatnya, mahasiswa yang dilibatkan dalam penelitian hanya itu saja.

“Ini yang memang masih menjadi PR bagi para perguruan tinggi. Karena yang sudah-sudah proses penelitian dosen, mahasiswa yang dilibatkan itu lagi-itu lagi, seharusnya hal ini harus dihindari agar mahasiswa lain memiliki kesempatan yang sama,” jelasnya.

Melalui bidang akademik diharapkan dosen dapat melakukan mapping mahasiswa untuk bisa menjadi partner dalam proses penelitian. Dengan demikian dapat memberikan kesempatan mahasiswa terlibat dalam kegiatan penelitian.

“Mapping itu harus dilakukan. Jadi perguruan tinggi tahu mahasiswa mana yang memang dapat dijadikan partner penelitian. Jangan yang udah-udah makenya mahasiswa itu lagi-itu lagi,” ucapnya.

Sebagai dasar keikutsertaan mahasiswa dalam proses penelitian, biasanya mahasiswa akan diminta untuk menyebarkan kuisioner atau melakukan entry data.

“Diawalinya dengan proses seperti itu dahulu sambil belajar sambil melihat prosesnya,” tuturnya.

Sementara, dikutip dari jawapos.com (Grup Radar Bekasi), Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Dirjen Diktiristek) Kemendikbudristek Nizam mendorong agar penelitian yang akan dilakukan oleh para dosen dapat melibatkan mahasiswa.

Hal ini dilakukan guna mempersiapkan sumber daya manusia kreatif, inovatif dan tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi melalui kemampuan untuk melakukan riset dan inovasi.

“Penelitian yang dilakukan oleh dosen harus melibatkan mahasiswa. Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mengembangkan pengetahuan dan teknologi, bersama-sama co-creation antara dosen dan mahasiswa,” ucapnya, Senin (24/1).

Nizam pun berharap mahasiswa yang terlibat dalam penelitian dapat diberikan hak berupa satuan kredit semester (SKS). Hal ini lantaran kompetensi yang mahasiswa dapatkan selama menjadi asisten dosen dalam penelitian sangat besar dibandingkan dengan yang mereka dapatkan di dalam kelas.

“Libatkan mahasiswa, berikan dia SKS, dan berikan bimbingan intensif. Sehingga karya yang dihasilkan oleh dosen dan mahasiswa adalah karya yang betul-betul dikerjakan secara sungguh-sungguh,” terangnya.

Selanjutnya dalam hal hilirisasi produk penelitian, dirinya menekankan pentingnya melibatkan mitra industri sedini mungkin agar agenda riset di perguruan tinggi relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

“Melalui platform Kedaireka, diharapkan mampu menjadi solusi sehingga dapat meningkatkan relevansi dari penelitian baik dalam hal dana dan kesesuaian dengan kebutuhan pasar,” tandas Nizam. (dew/jpc)