RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sekolah swasta di Kota Bekasi masih kesulitan biaya operasional. Penyebabnya, karena banyak orangtua yang terlambat bayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) akibat kesulitan ekonomi selama pandemi Covid-19.
Padahal, biaya operasional sangat dibutuhkan oleh sekolah swasta seperti untuk membayar tenaga pendidikan maupun kependidikan serta mendukung kegiatan sekolah.
Kepala SMK Bina Karya Mandiri (BKM) II Kota Bekasi Ayung Sardi Dauly mengatakan, sebagian besar siswa mengalami keterlambatan pembayaran SPP.
“Hal seperti ini masih dirasakan sampai dengan saat ini, makanya agak sedih juga. Karena dari banyaknya siswa yang ada hampir 70 persen siswa mengalami keterlambatan untuk pembayaran SPP,” ujar Ayung kepada Radar Bekasi, Senin (7/3).
Keterlambatan pembayaran SPP menjadi persoalan serius bagi sekolah swasta. Pasalnya, hal ini berdampak terhadap biaya operasional untuk gaji guru maupun kegiatan sekolah lainnya.
Dengan kondisi sekarang, kata Ayung, sekolah swasta dibantu pendanaan oleh yayasan. “Kita sementara ini di backup terus sama pihak yayasan, jadi masih bisa teratasi permasalahan ini,” kata pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris BMPS Kota Bekasi ini.
Menurutnya, banyak orangtua siswa membayar SPP secara rapel. Tentu hal itu melalui komunikasi terlebih dahulu antara orangtua siswa dengan pihak sekolah.
“Yang terpenting komunikasi, kalo gak ada komunikasi kami juga bingung. Karena pembayaran SPP kan menjadi tanggung jawab orang tua siswa, jadi orang tua siswa lah yang harus menjelaskan,” tuturnya.
Hal senada dikatakan Kepala SMA Tulus Bhakti (TB) Kota Bekasi Margo Cahyono. Ia mengatakan, hampir 50 persen dari jumlah siswa yang ada mengalami keterlambatan dalam pembayaran SPP.
“Memang masih banyak sekali orangtua siswa yang telat membayarkan biaya SPP, sehingga harus dirapel,” jelasnya.
Dengan biaya SPP secara rapel, ujar Margo, membuat dana operasional sekolah cukup terganggu. Sehingga membuat gaji guru dan sejumlah kegiatan tertunda.
“Mungkin sama dengan sekolah lain, kami jadi kadang kala suka telat membayar gaji guru. Beberapa kegiatan juga kadang kali kami tunda terlebih dulu,” ucapnya.
Saat ini, sekolah yang ia pimpin juga memberikan kelonggaran jika orang tua siswa dapat berkomunikasi dengan baik oleh pihak sekolah. “Memang yang terpenting adalah komunikasi, kalo ada komunikasi kami akan sama-sama mencari solusinya,” tukasnya. (dew)











