Penggunaan Kompor Induksi Diklaim lebih Hemat

Ketua UMKM Bekasi Afif Ridwan.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di tengah melonjaknya harga gas elpiji non subsidi, kompor induksi bisa menjadi solusi sebagai energi alternatif. Kompor yang menggunakan tenaga listrik ini, dinilai lebih hemat energi, serta ramah lingkungan.

Namun disisi lain, kurangnya sosialisasi, membuat penjualan kompor induksi tidak masif di pasaran. Banyak yang beranggapan, kompor induksi memerlukan daya listrik besar, sehingga tidak cocok bagi masyarakat menengah ke bawah, dengan daya listrik rendah.


Yani (33), warga Kecamatan Cikarang Pusat, awalnya mengaku ragu menggunakan kompor induksi. Karena daya listrik di rumahnya 1.300 watt. Jika memaksakan kompor induksi dengan daya yang besar, ia khawatir akan berpengaruh pada peralatan elektronik yang lain.

“Takutnya nanti listrik habis buat kompor saja. Terus kalau harus tambah daya, tagihan listriknya jadi nambah juga. Jadi serba bingung, dan gas elpiji juga naik,” katanya.


Keluhan serupa disampaikan warga lain, Emi (32).

“Kalau saya mau saja jika tambah daya, biar pake kompor yang gak perlu gas lagi, apalagi kan katanya ada diskon. Cuma nggak ngerti harus bagaimana. Soalnya, jarang juga sih yang pake gas di sini. Ya saya mah minta solusi aja,” ucap warga Cikarang ini.

Lain halnya dengan warga Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Windi (34), mengaku sudah tidak lagi menggunakan kompor gas sejak awal tahun 2019.

Dirinya memilih beralih menggunakan kompor induksi, setelah ada program diskon tambah daya.

Windi yang awalnya ragu karena listrik di rumahnya terbatas, yakni hanya 1.300 watt, memberanikan diri, karena ada program tersebut.

“Saat itu programnya bagi siapa yang memiliki kompor induksi, ada potongan harga untuk tambah daya. Ya sudah, saya beli kompor induksinya. Sampai kompornya dibawa ke PLN sebagai bukti. Dan sekarang saya terus pake kompor itu,” bebernya.

Windi mengaku tertarik menggunakan kompor induksi, karena disebut lebih hemat dibandingkan gas elpiji. Selain itu, kompor induksi pun lebih aman tanpa was-was akan ada gas yang meledak. Untuk itu, dia pun menambah daya listrik di rumahnya, dari 1.300 menjadi 3.000 watt.

Tapi rupanya, kompor induksi tidak memerlukan daya besar seperti yang dikhawatirkan.

“Jadi, teman saya juga pakai kompor induksi, dengan daya listrik 1.300 watt sampai sekarang aman, nggak ngejepret. Saya juga setelah dapat info dari tokonya itu tidak masalah wattnya kecil, karena masih bisa dipakai kompornya,” ujarnya.

Windi menggunakan kompor induksi dengan daya listrik 900 watt, satu tungku. Kompor itu digunakan untuk kebutuhan masak sehari-hari. Hasilnya, dia mengaku tagihan listrik di rumahnya relatif stabil tanpa ada kenaikan signifikan.

Sementara Manager PLN UP3 Bekasi, Rahmi Handayani mengatakan, kompor induksi merupakan program yang digulirkan pemerintah secara nasional.

Maka dari itu, masyarakat sebenarnya sudah dapat menikmati program tersebut, bahkan bagi mereka yang rumahnya berdaya listrik rendah.

Soalnya, dalam setiap paket pembelian kompor induksi, ada program diskon tambah daya menjadi hanya Rp 150.000. Diskon itu berlaku bagi semua pelanggan. “Jadi setiap pelanggan bisa memiliki dan menggunakan kompor induksi ini sebenarnya,” kata Rahmi. Promo ini bisa didapatkan dalam berbagai marketplace dan toko offline di Bekasi.

Saat ini, kata Rahmi, jumlah pelanggan yang menggunakan kompor induksi melalui promo diskon tambah daya berjumlah 934 pelanggan dengan rincian 117 pelanggan rumah tangga, 117 bisnis dan 55 sosial.

Disampaikan Rahmi, penggunaan kompor induksi ini, merupakan bagian dari mengubah kebiasaan masyarakat menjadi hemat energi.

“Maka dari itu, kami juga terus mengkampanyekan electrifying lifestyle,” tandasnya.

Kendati begitu, terdapat beberapa kekurangan dari kompor induksi ini, diantaranya biaya yang dikeluarkan lebih besar. Soalnya harga kompor induksi, relatif lebih mahal dibandingkan kompor gas.

Selain itu, tidak semua peralatan masak dapat digunakan di kompor induksi. Hanya bisa digunakan yang berbahan partikel besi magnet. Sedangkan peralatan berbahan keramik atau kaca, tidak dapat digunakan. (and)