Golkar Kabupaten Diminta Kompak

POLITISI SENIOR - Mantan Ketua DPD Golkar Kabupaten Bekasi, Wikanda Darmawijaya (kiri),  bersama tokoh senior Golkar Kabupaten Bekasi, Yaman Edibair. Mereka merindukan kejayaan Partai Golkar di Kabupaten Bekasi. ISTIMEWA/RADAR BEKASI

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sejumlah politisi senior Partai Golkar Kabupaten Bekasi, mengaku prihatin dengan kondisi yang terjadi saat ini. Pasalnya, para pengurus partai berlambang pohon beringin ini masing-masing ingin menonjolkan diri, sehingga terlihat tidak ada kekompakan. Padahal pada periode 1993-1997, kepengurusan Partai Golkar di Kabupaten Bekasi sangat kompak. Bahkan mampu mengungguli partai-partai lainnya.


Mantan Ketua Golkar Kabupaten Bekasi periode 1993-1997, Wikanda Darmawijaya menilai, dari masa kepemimpinannya sampai saat ini ada sekitar sembilan kali pergantian kepengurusan atau kepemimpinan.

“Saya sangat merindukan kejayaan Partai Golkar di Kabupaten Bekasi,” ujarnya kepada Radar Bekasi, saat ditemui di salah satu rumah makan, Kamis (12/5/2022).


Menurutnya, para pengurus Golkar di Kabupaten Bekasi dulu sangat kompak, mulai dari tingkat desa maupun kelurahan, kecamatan, sampai kabupaten. “Zaman dulu itu betul-betul kompak kepengurusan, dari tingkat desa maupun kelurahan, kecamatan, sampai kabupaten. Rasanya itu betul-betul satu arah, satu pemikiran. Demi memenangkan Golkar,” ungkapnya.

Pria yang juga pernah menjabat sebagai Bupati Bekasi periode 1998-2003 ini menilai, para pengurus Golkar sekarang masing-masing ingin menonjolkan pribadi. Kemudian melupakan tokoh-tokoh senior, padahal tidak boleh melupakan sejarah. “Saya menyarankan, yang tua itu harus tetap diminta saran-saran dan pendapatnya,” tuturnya.

Senada disampaikan politisi Senior Golkar lainnya, Yaman Edibair. Dirinya menilai, secara umum kepengurusan Partai Golkar Kabupaten Bekasi sekarang sudah bagus, karena kebanyakan diisi oleh anak-anak muda yang berlatar belakang akademisi. Tentunya dengan kemajuan teknologi sekarang ini, pengurus lebih mudah untuk sosialisasi ke bawah maupun ke atas.

Namun demikian kata dia, kepengurusan sekarang tidak kompak. Mungkin, karena belum adanya ketua definitif. Sehingga pengurus masing-masing berebut tua. “Cuma memang karena belum ada pemimpin jadi terlihat tidak kompak, jadi pada berebut tua, kurang kompak,” ucapnya.

Dia menyarankan para pengurus Golkar sekarang ini berkonsultasi dengan yang tokoh senior. “Saya berharap, bisa konsultasi yang tua-tua. Karena yang tua ini kelebihannya pengalaman,” katanya.

Untuk diketahui, perolehan kursi legislatif Partai Golkar mengalami penurunan dari yang sebelumnya. Pada Pemilu 2019 lalu hanya mendapatkan tujuh kursi. Padahal pada Pemilu sebelumnya, Partai Golkar meraih sepuluh kursi. Penurunan ini disebabkan beberapa faktor.

Kemudian saat ini belum mempunyai ketua definitif, setelah Eka Supria Atmaja, meninggal dunia, beberapa waktu lalu. Sampai adanya problem-problem lainnya di internal partai yang terjadi sampai saat ini. (pra)