Perkuliahan Tatap Muka 100 Persen Mulai September

ILUSTRASI: Suasana perkuliahan tatap muka di Universitas Krisnadwipayana. Perkuliahan tatap muka di perguruan tinggi swasta diperkirakan akan dimulai pada tahun ajaran baru 2022/2023 atau awal semester ganjil September mendatang. DEWI WARDAH/RADAR BEKASI

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Perkuliahan tatap muka 100 persen di perguruan tinggi swasta akan dimulai pada tahun ajaran baru 2022/2023 atau awal semester ganjil September mendatang.


“Saya memprediksi bahwa jika tidak ada peningkatan angka Covid-19, maka perkuliahan tatap muka akan dilakukan pada tahun ajaran baru yaitu pada awal semester ganjil,” ujar  Ketua Asosiasi Dosen Indonesia Majelis Pengurus Daerah (ADI MPD) Bekasi Raya Hermawansyah kepada Radar Bekasi, Rabu (29/6).

Semester ganjil berlangsung pada September 2022. Saat ini, dosen maupun mahasiswa harus melakukan persiapan jelang dimulainya pelaksanaan perkuliahan tatap muka.


“Kurang lebihnya dosen dan harus melakukan sejumlah persiapan,” katanya.

Persiapan tersebut antara lain adaptasi baru. Yakni mahasiswa dan dosen harus menyesuaikan kembali proses perkuliahan yang sekian lama dilakukan secara daring.

“Yang pertama yang harus disiapkan adalah proses adaptasi, dimana dosen dan mahasiswa pasti akan menyesuaikan kembali proses pembelajaran di kelas,” ujarnya.

Selain itu, dalam menjaga protokol kesehatan. Meskipun pemerintah sudah memberikan kelonggaran melepas masker, namun mahasiswa dan dosen harus tetap berhati-hati menjaga prokes dengan baik.

“Jangan sampai lengah meskipun keadaannya sudah membaik, tetap harus menjaga prokes dengan baik,” ucapnya.

Yang paling terpenting harus disiapkan ialah metode perkuliahan yang akan disampaikan kepada mahasiswa. Meskipun perkuliahan akan dilakukan tatap muka namun digitalisasi harus tetap dikembangkan.

“Ada atau tidaknya Covid-19 perkuliahan harus menuju perkembangan teknologi dan itu harus menjadi perhatian. Sehingga meskipun perkuliahan dilakukan secara tatap muka, harus tetap ada sentuhan ke arah sana,” tuturnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi membuat mahasiswa dapat lebih mudah untuk melakukan sharing perkuliahan. Seperti salah satunya sharing materi menggunakan file ataupun melakukan pengembangan materi melalui internet atau browsing.

“Sekarang itu semuanya serba mudah, bukan lagi pinjam buku tapi sudah ke arah membagi file materi. Jadi sentuhan digitalisasi memang harus tetap ada,” terangnya.

Sementara untuk dosen secara khusus sudah harus menjadi Cyber Pedagogy atau fasilitator dalam proses belajar mengajar masa kini. Menurutnya, ada tiga hal yang harus dipahami oleh dosen, yaitu lingkungan, lingkungan di dalam pembelajaran dan lingkungan literasi digital.

“Ketiganya harus dipahami oleh dosen, jangan sampai terjadi gap antara dosen dengan mahasiswa,” katanya.

Wawan berharap, pada proses perkuliahan mendatang perguruan tinggi bisa mewujudkan program pemerintah, yaitu Kampus Merdeka Belajar. “Tujuan dari pembaharuan dan adaptasi ini adalah perguruan tinggi dapat mewujudkan atau mensukseskan program Merdeka Belajar,” pungkasnya. (dew)