RADARBEKASI.ID, BEKASI – Penilaian kualitas pendidikan tidak hanya diukur dalam kualitas akademisnya, tetapi juga harus memperhatikan nilai-nilai perilaku dalam diri siswa atau biasa disebut dengan karakter. Namun, pembentukan karakter siswa tidak hanya sepenuhnya tanggung jawab pihak sekolah, perlu dukungan orangtua.
SMPN 3 Kota Bekasi telah menerapkan sejumlah program pembentukan atau penguatan karakter untuk para siswanya. Antara lain melalui program Jumat Bersih, Jumat Sehat, Jumat Taqwa, hingga Jumat Literasi.
Menurut staf kesiswaan SMPN 3 Kota Bekasi Dwi Riningsih, usaha sekolah dalam menguatkan karakter para siswa tidak hanya dilakukan setiap Jumat, tetapi juga setiap saat.
“Kita dapat ambil contoh dalam kebersihan. Disini kita setiap harinya mesti menanamkan sikap untuk menjaga kebersihan kepada setiap siswa. Namun, ada momen di Jumat sebelum jam KBM (kegiatan belajar mengajar,red) kita melakukan kegiatan bersih-bersih secara bersama-sama yang biasa kita namakan Jumat Bersih,” ujar Dwi.
Untuk mendukung kesehatan jasmani, pihak sekolah juga mengadakan Jumat Sehat. Dalam program ini, kegiatannya seperti senam bersama, makan sehat bersama, dan sosialisasi tentang gizi yang baik, serta hidup sehat.
Kegiatan sosialisasi tersebut dilaksanakan oleh para siswa yang terpilih menjadi Duta GESIT (Generasi Indonesia Sehat). “Kita pilih 4 siswa dari kelas 7 atau 8 untuk menjadi Duta Gesit yang nantinya mereka mengikuti pelatihan secara daring tentang hidup sehat dan mendapatkan sertifikat dari Yayasan Lentera,” jelas Dwi.
Selanjutnya Jumat Taqwa, yang berisi dengan kegiatan seperti salat dhuha bersama, tausiyah yang disampaikan oleh pihak guru atau siswa, dan tadarus.Berjalannya program penguatan karakter tersebut untuk menumbuhkan kebiasaan baik untuk para siswa, salah satunya sikap disiplin. Selain kegiatan tersebut, terdapat juga kebiasaan pengumpulan handphone (hp) siswa.
Dwi menjelaskan, pihak sekolah memperbolehkan siswa untuk membawa hp. Namun pada saat jam KBM, hp siswa harus dikumpulkan dalam satu box yang telah disediakan.
“Tentunya karena siswa kita nantinya pas pulang sekolah ada yang pulang dengan menggunakan ojek online, jadi kita tidak melarang siswa untuk membawa hp. Namun pada saat KBM kita kumpulkan agar tidak mengganggu perhatian siswa terhadap pelajaran, nanti pada saat KBM sudah selesai baru hp tersebut kita kembalikan,” ujar Dwi.
Dalam hal pembentukan karakter, kata Dwi, tidak hanya pihak sekolah yang berperan. Namun, orangtua juga harus mendukung dalam berjalannya pembentukan karakter para siswa.
“Karena kalau hanya pihak sekolah saja yang mendukung pembentukan karakter siswa, sedangkan orangtua di rumah tidak mendukung pasti semuanya tidak berjalan dengan maksimal dan karakter itu tidak terbentuk dengan baik,” kata Dwi. (cr1)











