Korban AKI di Bekasi Bertambah

Ilustrasi. Data dari Agustus 2022 hingga hari ini, ada total 206 kasus ginjal akut pada anak. Dan 99 di antaranya dinyatakan meninggal. (just dial)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Korban meninggal dunia karena Gagal Ginjal Akut Misterius atau Acute Kidney Injury (AKI) di Bekasi bertambah. Kali ini pasien asal kota bekasi yang selama ini menjalani perawatan di RSCM Jakarta.

Staf khusus walikota Bekasi Bidang Kesehatan, Sudirman mengatakan, perkembangan kasus ini baik secara nasional maupun lokal tidak terjadi lonjakan signifikan. Namun, ada satu pasien Kota Bekasi yang meninggal dunia. Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi telah melakukan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE), hasilnya tidak ditemukan pasien AKI lainnya.


“Ya satu anak kita yang kemarin gagal ginjal akut di RSCM saat ini sudah meninggal. saat ini tidak ada laporan lagi,” katanya.

Terhadap pasien ini, Pemkot Bekasi telah melakukan PE sesuai dengan tatalaksana yang telah ditetapkan oleh Kemenkes.Sejak awal kasus AKI mencuat, Pemkot Bekasi telah melakukan berbagai persiapan. Mulai dari layanan kesehatan yang ada di Kota Bekasi, peralatan medis, hingga koordinasi dengan dokter spesialis ginjal anak.


“Terutama kita punya 48 Puskes, kita sosialisasikan semua, kalau ada indikasi mengarah ke gangguan ginjal akut tersebut tentu akan terjaring di Puskes dulu, masuk ke rumah sakit rujukan, rumah sakit rujukan harus lapor melalui RS online, kita nanti pantau dari situ,” tambahnya.

Dalam kasus gagal ginjal akut ini, peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global, Dicky Budiman mengatakan bahwa sekalipun tidak masuk dalam kategori menukar, PE tetap dibutuhkan.

Hasil penyelidikan tersebut kata Dicky, akan memberikan informasi lebih jelas, detail, dan valid terkait penyebab, pola perkembangan kasus, trend data demografi, hingga kelompok rawan. Bahkan hasil penyelidikan ini akan memberikan rekomendasi upaya pencegahan, perbaikan regulasi, informasi bagi pengambil kebijakan, hingga perbandingan situasi dengan daerah lain.

“Itu tentu penting, sangat penting, dan itu bisa menjadi informasi tambahan bagi pengambil kebijakan. Termasuk juga menjadi bahan perbandingan dengan daerah lain untuk memperkuat dan menjawab hipotesa-hipotesa yang ada atau timbul,” katanya.

Informasi sementara bahwa kasus ini bermula dari cemaran etilen dan dietilen glikol dalam kandungan sediaan obat sirup bisa saja menjadi landasan Kemenkes. Tapi kata Dicky, kesimpulan itu sangat prematur atau terlalu dini.

Ia sempat menyarankan kasus ini ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) guna penyelidikan lebih dalam dan menyeluruh.

Kesimpulan ini menurutnya, didapat dari data yang tidak memadai, hanya berbekal data dari fasilitas pelayanan kesehatan. Data yang diambil secara langsung dari masyarakat juga dibutuhkan.

Untuk itu, guna melengkapi data dan penyelidikan lebih dalam terkait dengan penyebab AKI, diperlukan peran dari pemerintah, sampai ke daerah.

“Makanya keterlibatan unsur kementerian dalam negeri beserta jajaran ke bawah akan sangat dimungkinkan dan diperlukan ketika status KLB itu ditetapkan, tidak seperti saat ini yang masih lebih ke sektor kesehatan,” tambahnya.

Sementara itu, hingga Senin (7/11) kemari, total sebanyak 195 anak meninggal dunia sejak Agustus 2022 di seluruh Indonesia. Saat ini, masih ada 27 anak dirawat di RS. Kabar baiknya, sejak 2 November 2022, tidak ada kasus baru gangguan ginjal akut yang berujung gagal ginjal akut.

’’Sebanyak 28 provinsi yang melaporkan, total ada 324 kasus. Sembuh 102 anak. Sejak 2 November hingga tanggal November, tak ada kasus baru ataupun kematian anak ginjal akut,” kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril kepada wartawan secara virtual, Senin (7/11).

Ia menegaskan, dari hasil penelusuran laboratorium dan juga toksikologi serta biopsi ginjal, terbukti para pasien anak mengalami cemaran Etilena Glikol dn Dietilena Glikol (EG dan DEG) dari obat sirop. Setelah larangan konsumsi obat sirop diberlakukan, kata dia, kasus gangguan ginjal akut ikut menurun. ’’Dan tak ada pasien lagi sejak tanggal 2 November hingga hari ini. Cemaran EG dan DEG yang menjadi penyebab terbanyak dan tersering,” jelas Syahril.

Kondisi mereka membaik dengan pemberian obat penawar racun atau antidotum. Setelah diberikan obat tersebut, 95 persen kondisi mereka mengalami perbaikan signifikan dan banyak yang sembuh. ’’Paling banyak yang dirawat adalah anak usia 1–5 tahun,” ungkap Syahril.

Kemenkes sendiri sudah membeli obat penawar racun Fomepizole dari Singapura. Selebihnya ada 87 persen donasi dari Australia, Amerika Serikat, dan Jepang. ’’Sekalipun pasien-pasien sudah mulai berangsur sembuh, kami masih akan punya cadangan 100 vial penawar racun. Tentunya negara sebesar Indonesia harus memiliki stok manakala suatu hari nanti ditemukan kembali kasus-kasus keracunan obat sebagai antisipasi,” tegas Syahril. (mif/Sur/jpc)