Ditemukan Seragam Kerja Wanita dari Kontrakan Pelaku Mutilasi di Bekasi

BAWA BUNGKUSAN: Petugas Labfor dan Inafis dari Polda Metro Jaya, membawa bungkusan dari rumah kontrakan pelaku mutilasi, di Kampung Buaran, Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. IST/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kasus mutilasi yang sempat menghebohkan warga Kampung Buaran, Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jumat dini hari (30/12), belum menemui titik terang. Namun, salah satu penghuni kontrakan, Fajar Agung (23), di lokasi penemuan mayat mutilasi tersebut menuturkan, berdasarkan informasi yang ia dapat, di lokasi penemuan mayat mutilasi ditemukan pakaian wanita dan seragam kerja Superindo berwarna oranye dan ada list batik kecil dalam kamar yang disewa M Ecky Listiantho (34), yang merupakan pelaku mutilasi, dan meletakkan potongan tubuh korbannya di dalam dua boks kontainer.

Selain seragam kerja, dirinya juga melihat foto copy KTP wanita di dalam rumah kontrakan, serta akta lahir bayi.


“Ada foto copy KTP sepuluh lembar, tapi saya nggak sempat lihat namanya, ada akta kelahiran bayi yang umurnya baru beberapa tahun, itu saya melihat langsung saat koper dibuka dan dikeluarin, ada juga pakaian renang, seragam kerja dan baju cewek semua,” kata Fajar saat dimintai keterangan dilokasi, Senin (2/1).

Selama tinggal di kontrakan tersebut, dirinya mengaku tidak merasakan ada hal-hal yang aneh, termasuk tak mencium bau busuk dari kontrakan pelaku. Dia juga tidak pernah bertemu dengan pelaku selama berada di kontrakan tersebut.


“Nggak pernah ketemu. Saya tahu saat polisi nanya ke saya, pernah lihat orang ini nggak?, saya jawab tidak,” ungkapnya.

Sementara pemilik kontrakan berinisial AS (52), membenarkan bahwa pelaku sudah mengontrak di tempatnya sejak bulan Juni tahun 2021 lalu. Pada awal mau ngontrak, pelaku mengaku bekerja sebagai kontraktor bangun rumah di sekitar kontrakan. Berdasarkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), pelaku berasal dari Bandung.

“Saya sempat nanya juga, kenapa nggak tinggal di perumahan?, kok malah ngontrak?. Dia (pelaku) mengaku jika keluarganya (anak dan istri) tinggal di Bandung, dia sering pulang ke Bandung,” tuturnya.

Lanjut AS, berdasarkan pengakuan pelaku ia mengontrak seorang diri. Lalu pada bulan Agustus 2022, pelaku tidak membayar kontrakan, sehingga di tempel selembar kertas di pintu. Nomor handphone pelaku sudah tidak aktif sejak bulan September 2022, karena dikejar-kejar oleh pinjaman online (pinjol). Hal itu mengingat, istri AS pernah ditelepon oleh penagih yang menanyakan keberadaan pelaku.

“Penagih dari pinjol sempat telepon ke istri saya, makanya istri saya kaget. Sejak itu, nomor pelaku sudah tidak bisa dihubungi sampai sekarang,” bebernya.

Selama ini, AS memang tidak memperhatikan keseharian pelaku, karena jarak rumah dan kontrakannya cukup jauh. Sementara untuk pembayaran kontrakan, pelaku melalui transfer. Dirinya mengetahui kejadian ini, setelah pihak kepolisian datang.

“Saya baru tahu kejadian itu, setelah dihubungi polisi,” tuturnya.

Polisi lalu menangkap seorang pria berinisial MEL (34), saat dilakukan penangkapan, pelaku sempat berupaya untuk kabur.

“Jadi, pada saat dilakukan penggeledahan rumah kontrakan, pelaku sedang tidak ada di tempat, tapi pada saat kami keluar dari kontrakan, ada mobil yang datang tapi kabur, dan langsung kami kejar,” ucap Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Hengki Haryadi.

Hengki mengatakan, pihaknya menangkap pelaku setelah mengejar mobil yang kabur itu, dan ada beberapa orang di dalam mobil, satu diantaranya seorang wanita.

“Kami melakukan pengejaran, hingga akhirnya didapat beberapa orang di dalam mobil, termasuk tersangka. Ada wanitanya juga. Ini sedang kami dalami apa motif dan sebagainya. Jadi ini masih sangat awal. Nanti perkembangannya akan kami sampaikan,” janji Hengki.

Terkini, penyidik masih mendalami keterangan pelaku yang telah ditangkap bersamaan dengan penemuan jasad korban.

Disampaikan Hengki, bahwa korban tak dimutilasi menggunakan golok oleh Ecky. Penyelidikan sementara, tubuh korban dipotong menggunakan gergaji listrik. Hal itu diketahui dari bentuk potongan tulang yang bergerigi.

“Ternyata benar, dari kedokteran forensik awal kemarin kami lihat memang bentukan (tulangnya) bergerigi. Informasi hasil penyelidikan kami (korban) dipotong menggunakan gergaji listrik,” tandas Hengki. (pra)