Berita Bekasi Nomor Satu

Transformasi Guru Menghadapi di Era Disrupsi

Oleh : Muhammad Soleh Hapudin

Muhammad Soleh Hapudin

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tema Hari Guru Nasional tahun ini adalah “Bergerak Bersama, Rayakan Merdeka Belajar”, sedangkan HUT ke- 78 PGRI mengusung tema “Transformasi Guru Wujudkan Indonesia Maju”. Peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia memang sungguh besar dan sangat menentukan. Sejak masa penjajahan, guru memiliki peran penting untuk kemajuan dan menanamkan rasa hormat, harga diri serta harkat dan martabat bangsa Indonesia. Itulah sebabnya, masa kebangkitan nasional lahir dari para cendekia yang aktif dalam organisasi pemuda pembela tanah air dan pembina jiwa serta semangat para pemuda pelajar.
Sebagai wujud penghormatan kepada guru, tanggal 25 November yang merupakan tanggal lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) suatu organisasi yang beranggotakan seluruh guru di Indonesia ditetapkan pemerintah sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, Keppres tersebut ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 24 November 1994. Hal tersebut mengindikasikan kontribusi PGRI yang berarti bagi perkembangan Pendidikan di Bumi pertiwi
Saat ini Era Revolusi Industri 4.0 yang telah membawa kita ke dunia baru salah satu pemicunya antara lain mencakup kecerdasan buatan (AI), internet of things, robotik dan lainnya. Namun RI 40 bukan sekedar aplikasi teknologi yang mutakhir yang serba digital, melainkan membutuhkan perubahan cara berpikir dan bekerja sehingga dibutuhkan penguasaan skill baru agar lebih adaptif terhadap perubahan. RI 4.0 sebuah keniscayaan yang sulit dibendung.suka tidak suka mau tidak mau harus kita hadapi karena itu yang harus kita siapkan adalah adaptif terhadap perubahan. Bagaimana dunia Pendidikan merespon itu semua???
Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi yang banyak dimanfaatkan dalam dunia Pendidikan ternyata belum sepenuhnya dapat diterima , apalagi digunakan oleh guru. Masih banyak guru yang belum mampu mengikuti kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat. Hal ini kebanyakan terjadi pada guru yang usianya terbilang telah lanjut. Adapun guru-guru yang lebih muda biasanya lebih cepat menyesuaikan diri, adaptif dan dengan dinamika tuntutan zaman. Charles Darwin mengingatkan kita spesies yang bisa bertahan tidaklah yang terkuat dan terpintar, namun yang merespon terhadap perubahan.
Ternyata pandemic COVID 19 mempercepat kita beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0. Masyarakat yang selama ini belum mencoba, menganggap tidak penting, suka tidak suka sudah masuk dalam kondisi RI 4,0. Proses pembelajaran di era COVID Learning From Home, Work From Home maka kehidupan pun berubah. Kita dituntut untuk cerdas dalam berpikir, literasi, berani, disiplin dan peka terhadap perubahan, mampu mengikuti dinamika dan mampu menjawab tantangan. Responsif terhadap perubahan membutuhkan sejumlah softskill, seperti kemampuan belajar cepat, kelincahan dan memiliki future mindset. Transformasi dan perubahan hampir selalu membawa kebaruan. Menghadapi kebaruan buruk belajar cepat (agility learner) butuh mental untuk menjadi pembelajar yang lincah. Rektor IPB Prof Arif Satria mengatakan
Guru di era digital harus mampu memiliki pola pikir yang berbeda, yakni mampu menghadapi berbagai tantangan. Guru yang tidak mampu mengikuti dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi tentu akan tertinggal jauh dan terdistorsi. Ketertinggalan tersebut akan dapat menimbulkan berbagai permasalahan bagi guru.
Saat ini kita berada di Era Revolusi Industri 4.0. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan era disrupsi, yakni kemunculan industri-industri yang berbasis online (digital) dimana kondisi dunia berada pada posisi VUCA (Volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) akibat Revolusi Industri 4.0? Istilah ini muncul dipublikasi 2 ekonom dan profesor universitas: Wiren Binnes dan Burn Nanus .Volatility, untuk merujuk kondisi lingkungan yang labil, berubah sangat cepat dalam skala besar. Uncertainty, untuk keadaan yang akan terjadi dan sulit di prediksi dengan akurat. Complexity, untuk merujuk tantangan yang lebih rumit karena faktor yang saling terkait. Ambiguity untuk merujuk ketidakjelasan suatu kejadian dan mata rantai akibatnya.
Revolusi dimaknai sebagai perubahan yang sangat bersifat sangat cepat, sedangkan Industri diartikan sebagai usaha pelaksanaan proses produksi. Buah dari Revolusi Industri 4.0 adalah munculnya fenomena disruptive innovation. Disruptive innovation dimaknai fenomena terganggunya para pelaku industri lama oleh para pelaku industri baru akibat kemudahan teknologi informasi
Dalam sebuah organisasi VUCA merupakan situasi yang biasa terjadi sehingga organisasi terus melakukan inovasi dan menata strategi, namun dalam kondisi pandemi COVID-19 VUCA menjadi terasa lebih pekat sehingga memaksa melakukan perubahan. VUCA memang bisa membuat kita “fragile”, tetapi bisa membuat kita “agile” kalau VUCA kita artikan dengan Vision, Understanding,Clarity, dan Agility. Kita harus punya visi dan future mindset, dan lalu mampu menghadirkan masa depan ke dalam pikiran dan Langkah, hari ini. Kata orang, “tomorrow is today” dan “the future is now”.
Charles Darwin menyatakan bahwa yang bisa bertahan bukan semata-mata yang terkuat, melainkan yang responsif terhadap perubahan. It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change.
Tidak dapat dipungkiri saat ini perkembangan teknologi dan informasi tidak dapat diabaikan oleh pelaku pendidikan, jika diabaikan maka pendidikan aka terdistorsi dan tertinggal jauh dengan negara lain. Saat ini teknologi informasi sudah memasuki fase baru yang disebut Revolusi Industri 4.0. Di mana para pengembang ICT telah menciptakan pelbagai perubahan yang mendasar dalam semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Cara belajar, bekerja dan mengajar juga berubah menjadi lebih menantang dan memiliki perbedaan yg signifikan .
Menjadi guru berarti harus terus menerus mengikuti perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi serta perubahan sosial-masyarakat, perubahan yang begitu dinamis, dan drastic para pendidik dengan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan, agar dapat meningkatkan kualitas profesional yang dimiliki sebagai pendidik. Dalam upaya menyikapi tantangan era digital diinisiasi dengan mengubah pola pikir (mindset) menjadi pola pikir digital (digital mindset). Kunci utama untuk melakukan transformasi digital, yang harus dilakukan organisasi/lembaga adalah mengubah mindset di level pimpinan menjadi pemimpin yang bermindset digital
Pola pikir (mindset) guru harus melakukan transformasi agar bisa mengikuti tren di era digital yang perkembangannya yang cepat dan terbuka. Guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar di era pandemi saat ini harus melakukan adaptasi dan harmonisasi dengan era digital, karena kondisi saat ini memerlukan kapabilitas serta kemampuan dan kecakapan dalam mengoperasikan perangkat teknologi informasi dalam proses pembelajaran terutama pembelajaran online atau secara daring. Terlebih saat ini terjadinya digitalisasi dalam dunia pendidikan, melahirkan metode dan sistem baru dalam proses belajar dan pembelajaran.
Pada Era digital, para tenaga pendidik harus menyikapi perubahan dengan cerdas (smart), tenaga pendidik juga sebagai garis terdepan dalam penerapan teknologi dalam pembelajaran. Di mulai dari cara memperoleh dan merancang bahan ajar yang dapat memberikan daya tarik (atraktif), kreatif, dan inovatif, dan yang paling utama adalah bagaimana proses kegiatan proses belajar mengajar mengikuti perkembangan dan kemajuan zaman. (*)
*) Ketua Dewan Pengurus Wilayah Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI)
Provinsi Banten, Dosen Universitas Esa Unggul

Solverwp- WordPress Theme and Plugin