Berita Bekasi Nomor Satu

Gara-gara Deepfake AI, Perusahaan Ini Rugi Rp 403 Miliar

Perusahaan Hongkong menjadi korban kejahatan deepfake AI dan rugi hingga Rp 403 miliar./pexels

RADARBEKASI.ID, HONGKONG – Teknologi Artificial Intelligence (AI) makan korban. Tidak tanggung-tanggung, korbannya sebuah perusahaan multinasional berbasis di Hongkong dengan nilai kerugian hingga ratusan miliar rupiah.

Sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Hongkong mengalami kerugian besar sebesar 25 juta dolar Hongkong atau sekitar Rp 403 miliar karena penipuan deepfake yang canggih.

Dilansir dari India Today, Selasa (6/2/2024), penipu menggunakan teknologi deepfake yang canggih untuk menipu karyawan yang tidak menaruh curiga di cabang Hongkong.

BACA JUGA: Keberadaan Jozeph Paul Zhang di Jerman atau di Hongkong?

Kejadian tersebut terjadi akibat pada bulan januari seorang karyawan di departemen keuangan perusahaan menerima pesan panggilan video.

Panggilan video tersebut mengaku dari kepala keuangan perusahaan yang berbasis di Inggris.

Karyawan tersebut melakukan panggilan video dengan CFO abal-abal dan karyawan perusahaan lainnya.

Namun naas, karyawan tersebut terkecoh oleh deepfake AI yang canggih dan tidak menaruh curiga sedikitpun mengenai panggilan video tersebut.

BACA JUGA: Migor Dijual ke Hongkong

Dalam panggilan video tersebut, karyawan yang menerima panggilan menerima instruksi untuk mentransfer uang senilai 25 juta dollar Hongkong atau sekitar Rp 403 miliar.

Transaksi tersebut dilakukan pada berbagai rekening bank di Hongkong dan dalam jumlah 15 transaksi.

Aktivitas penipuan tetap tidak terdeteksi hingga seminggu setelah penipuan terjadi ketika karyawan yang tertipu, karena merasakan sesuatu yang mencurigakan, menghubungi kantor pusat perusahaan.

Menurut laporan, pihak kepolisian Hongkong tidak menyebutkan nama perusahaan dan nama karyawan yang menjadi korban penipuan deepfake AI.

Polisi hanya mengungkapkan bahwa  para penipu membuat deepfake (pemalsuan) terhadap peserta rapat menggunakan rekaman video dan audio yang tersedia secara online.

Hebatnya, karyawan yang menjadi korban tidak menyadari sifat palsu dari deepfake tersebut selama konferensi video.

Investigasi sedang dilakukan, namun hingga saat ini, belum ada penangkapan yang dilakukan, hal ini menyoroti tantangan yang dihadapi pihak berwenang dalam memerangi kejahatan dunia maya yang berteknologi maju.

Insiden ini menggarisbawahi semakin besarnya ancaman teknologi deepfake dalam melakukan penipuan keuangan dan penipuan perusahaan.

Selain penipuan finansial, video deepfake telah menjadi perhatian global, seperti yang terlihat dari gelombang baru-baru ini video deepfake yang eksplisit secara seksual yang melibatkan sensasi pop internasional Taylor Swift yang beredar di platform seperti X dan Telegram. (jpc)

Solverwp- WordPress Theme and Plugin