RADARBEKASI.ID, BEKASI – Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, kembali menjalankan tugas di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi setelah menuntaskan perjalanan dinas luar negeri (PDLN) ke Tiongkok pada 10–14 Desember 2025.
Tri menyampaikan bahwa kunjungan kerja tersebut memberikan sejumlah pembelajaran penting untuk mendukung visi Kota Bekasi sebagai kota sehat, khususnya dalam pengelolaan sampah dan air limbah.
Salahsatu fokus utama studi tersebut adalah strategi optimalisasi pengelolaan sampah dengan menekan volume sejak dari sumbernya.
“Banyak hal yang kami pelajari terkait untuk menuju kota yang sehat. Bagaimana sampah kami optimalisasikan, dengan mengurangi sampah dari hulu,” ujar Tri di Pemkot Bekasi.
Tri menambahkan, pihaknya telah mengajukan pengolahan sampah di Bantar Gebang sebesar 1.400 ton per hari yang akan dimanfaatkan menjadi tenaga listrik.
“Kemudian, hari ini alhamdulillah di Bantar Gebang, kami sudah mengajukan untuk 1.400 ton per hari yang akan bisa kami musnahkan menjadi tenaga listrik,” jelasnya.
Selain sampah, Tri juga menyoroti pengolahan limbah air, termasuk air lindi dan tinja, agar tidak mencemari lingkungan, khususnya aliran sungai.
Meski program Open Defecation Free (ODF) atau bebas jamban helikopter di Kota Bekasi telah tercapai, pengelolaan jamban yang sudah penuh masih membutuhkan inovasi.
“Makanya konsep ke depannya itu bahwa sudah secara kecil sudah kami lakukan di RW di Margahayu, di bawah binaan daripada Puskesmas Karang Kitri. Warga cukup menabung Rp10 ribu di Pak RW, kemudian tabungan itu masuk ke Bank Syariah. Kemudian warga tersebut boleh menyedot WC sepuasnya,” katanya.
Tri mengakui, banyak kawasan industri maupun fasilitas umum yang belum memiliki sistem pengolahan limbah tinja memadai. Kunjungan ke Tiongkok dimanfaatkan untuk mempelajari teknologi pengolahan limbah modern dan ramah lingkungan.
Ia pun optimistis, konsep teknologi yang dipelajari di Negeri Tirai Bambu tersebut dapat diadaptasi dan diterapkan di Kota Bekasi.
“Insyaallah, ya. Karena sekarang itu kan IPAL ini sudah sekitar 150 liter per hari yang bisa kami olah. Tapi masih banyak pengangkut tinja-tinja yang swasta itu, buangnya masih kadang di Kali Sunter, Kali Cakung dan sebagainya, tidak dibawa ke Bantar Gebang,” ujarnya.
Tri berjanji pemerintah akan hadir sebagai pengawal solusi, termasuk memberikan subsidi bagi masyarakat yang belum mampu mengelola limbah tinja secara mandiri.
“Nah, nanti ini biar bagaimana kemudian ini pemerintah kemudian hadir. Pemerintah juga memberikan subsidi tadi kepada warga masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk tinja ini,” katanya. (cr1)











