RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Kabar mengejutkan datang dari dunia bisnis kuliner tanah air. Konten kreator Jerome Polin bersama sang kakak, Jehian Panangian, resmi mengumumkan penutupan seluruh gerai bisnis minuman kekinian mereka, Menantea. Penutupan ini akan berlaku secara permanen di seluruh wilayah Indonesia mulai 25 April 2026.
Keputusan berat ini diambil setelah perusahaan menghadapi berbagai permasalahan operasional serius yang terakumulasi selama beberapa tahun terakhir, dengan total kerugian mencapai angka fantastis, yakni Rp 38 miliar.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui akun Instagram Jerome Polin, Jehian mengakui bahwa sebagai bisnis pertama, mereka masih sangat awam dalam menghadapi kompleksitas industri Food & Beverage (F&B).
Tepat pada peringatan 5 tahun berdirinya Menantea (10 April 2021 – 10 April 2026), Jehian membeberkan beberapa poin krusial yang menjadi penyebab kegagalan.
“Tepat 5 tahun yang lalu (10 April 2021), saya dan adik saya (Jerome) membuka toko pertama Menantea. Ini adalah perusahaan pertama kami. Sayangnya, kami belum siap menghadapi sisi gelap dunia bisnis. Kami kurang melakukan riset mendalam terhadap calon mitra, dan tidak rutin melakukan audit internal keuangan,” tulis Jehian yang diunggah di akun Instagram Jerome Polin, dikutip Selasa (14/4).
Masalah mulai memuncak ketika berbagai keluhan mitra bermunculan. Tak hanya itu, manajemen juga dikejutkan dengan datangnya tagihan-tagihan lama dari pihak supplier yang ternyata tidak terbayar oleh sistem operasional sebelumnya.
Dua poin besar lainnya yang menjadi pukulan telak bagi bisnis ini adalah:
Masalah Perpajakan: Adanya kesalahan laporan pajak di masa awal berdirinya perusahaan.
Internal Fraud: Tim internal menemukan indikasi kecurangan di dalam tubuh perusahaan yang merusak arus kas.
“Kantor pajak sempat menghubungi saya terkait kesalahan laporan pajak di awal berdirinya Menantea. Selain itu, tim internal juga menemukan indikasi adanya fraud di dalam perusahaan,” ungkapnya.
Jehian menegaskan bahwa mereka tidak tinggal diam. Selama dua tahun terakhir, berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki keadaan, bahkan dengan menguras kantong pribadi:
-Melibatkan Kantor Akuntan Publik untuk audit investigasi.
-Melunasi seluruh tagihan bahan baku kepada supplier.
-Menyelesaikan kewajiban pajak dan memberikan kompensasi kepada karyawan.
“Semua itu kami lakukan dalam dua tahun terakhir, dan sebagian besar menggunakan dana pribadi. Namun kami menyadari, upaya tersebut belum mampu mengembalikan kepercayaan mitra dan pelanggan,” lanjutnya.
Demi mencegah masalah yang lebih sistematis di masa depan, Menantea akhirnya diputuskan untuk berhenti beroperasi tepat di usianya yang ke-5 tahun.
Sebagai bentuk apresiasi terakhir kepada para “Netizen” (sebutan pelanggan Menantea), pihak manajemen mengadakan promo clearance sale hingga tanggal penutupan, 25 April 2026.
“Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami untuk ke depan. Terima kasih telah menemani Menantea selama lima tahun. Kami mewakili seluruh tim memohon maaf atas kekecewaan yang ditimbulkan,” tutupnya. (MNA)











