Berita Bekasi Nomor Satu
Opini  

Neymar Berdendang “Homo Homini Lupus”

A.A. Ariwibowo.

Oleh: A.A. Ariwibowo

Penulis staf pengajar Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), wartawan LKBN Antara pada 1991-2021, banyak menulis prediksi sepak bola, menulis buku berjudul “Maniak Bola”.

Cakrawala langit skuad Selecao berbinar membawa warta sukacita gegap gempita, sang pemain bintang: siap bersinar di bawah panji kebanggaan bertajuk Piala Dunia 2026.

Neymar Da Silva Santos Junior, yang populer dipanggil Neymar di jagat bola, menyabet antusiasme pecinta timnas Brasil.

Begitu namanya disebut oleh pelatih kepala Carlo Ancelotti, sejumlah media televisi lokal dan nasional menayangkan gambar reaksi publik, antara lain menari, menghantam layar televisi, membidikkan senapan seakan mengirim pesan, “Tidak kau sebut nama Neymar, kutembak kau!”.

Neymar yang mengambil slot peran sebagai striker, siap melibas setiap lawan Brasil.  Timnas asuhan pelatih kondang Carlo Ancelotti itu berada di Grup C dalam palagan Piala Dunia 2026 yang dihelat di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Sebagai negara yang mengoleksi lima gelar juara dunia, reaksi publik Brasil membuncah setelah menghirup oksigen yang
melegakan rongga dada negeri Samba.

Misi Neymar bersama kolega, ternyata tunggal saja, yakni mengakhiri dahaga gelar setelah kali terakhir mengangkat trofi dunia pada 2002.

Neymar mempercayai penuh kredo “manusia itu serigala bagi manusia lainnya” (homo homini lupus), karena bagi pemain
kelahiran Sao Paulo itu, kemuliaan dan kebanggan negerinya hanya bisa diangkat dengan berbagai nada berbalut syair khas
atraksi musik dansa-dansi festival Rio de Janeiro.

Thomas Hobbes, filsuf asal Inggris yang mengusung penegasan Homo homini lupus, merasuk ke seluruh skuad Brasil, tidak terkecuali Neymar. Mereka berambisi hendak mengembalikan pamor sepak bola Amerika Selatan di panggung dunia.

Di negeri koboi Paman Sam, yang akrab dengan rancak letupan amunisi, Neymar dan kawan-kawan menghidup-hidupkan marwah bagi langit muram sejagat bahwa optimisme menghidupkan, pesimisme mematikan. Senjata pamungkas tim Samba: harapan.

Di ajang Piala Dunia 2026, Neymar senantiasa tercekat oleh komentar pelatih Carlos Dunga, yang berujar, “Setiap kali kami memberi dia kepercayaan sebagai kapten tim, maka seluruh tim kepelatihan menaruh harapan bahwa dia siap memberi penampilan terbaik dengan mencetak gol.”

Brasil menghadapi pilihan, antara merengkuh harapan, atau membetot kepercayaan “manusia itu serigala bagi manusia lainnya”. Artinya, bila Tim Samba ingin berjaya di panggung Piala
Dunia 2026, maka tim asuhan Don Carlo perlu membarui kaul bahwa Brasil siap memainkan sepak bola yang mengandalkan antitesis dari homo homini lupus.

Homo homini socius, manusia adalah teman atau kawan bagi sesama manusia, inilah ujaran anyar sarat harapan timnas Brasil. Artinya, Neymar bersama tim Selecao diharapkan tampil memainkan sepak bola kolektif, sarat jalinan kerjasama apik.

Brasil di kolong langit negeri Paman Sam mencoret penampilan yang serba mencari popularitas diri. Neymar bersama timnya mengamini pernyataan bahwa populisme karbitan hanyalah masa lalu.

Neymar yang kini menginjak usia 34 tahun, bersama klub Santos, telah mengoleksi 79 gol dalam 128 pertandingan. Pemain yang pernah membela klub elite Liga Spanyol Barcelona itu menorehkan predikat mentereng, mampu mencetak 100 gol saat ia berumur 20 tahun.

Dalam usia 19 tahun, Neymar menyabet penghargaan sebagai pemain terbaik Amerika Selatan. Namanya begitu populer, melekat
begitu dekat bersama masyarakat setempat.
Sampai-sampai Neymar disejajarkan dengan megabintang Argentina Lionel Messi, bahkan dengan legenda sepak bola Brasil, Pele.

Hanya saja, keraguan belakangan ini kompak menyeruak lantaran ia tidak lagi membela Selecao sejak 2023 karena diterjang cedera kaki.Neymar diharapkan tetap rendah hati, mengurangi gebyar pesona dunia, inilah harapan yang dititipkan Masyarakat bola Brasil.

Huruf M yang ditulis dengan huruf kapital, bukan tanpa alasan. Jika Neymar bertekad berdendang bersama tembang berjudul
Homo homini socius, maka satu harapan: bermainlah secara kolektif, bersama duo Manchester United, Casemiro dan Matheus
Cunha, sejumlah penggawa top La Liga, Vinicius Junior (Real Madrid), Raphinha (Barcelona).

Persis, di sinilah tantangan Ancelotti. Pelatih gaek berpaspor Italia itu, mulai meramu gaya permainan Brasil. Ia terinspirasi serentak tergerak gaya filsafat Jean Jacques Rousseau, bahwa manusia dapat hidup lebih harmonis bila dibiarkan leluasa berkembang secara personal.

Ancelotti yang dikenal kaya dengan selaksa taktik, siap menginspirasi timnas Brasil dalam platform sepak bola yang mengandalkan kolektivitas. Kebersamaan dan kekompakan
adalah kata kunci bagi tim Samba di Piala Dunia 2026.

Neymar bersama rekannya satu tim diajar sesuai makalah yang dibuat Ancelotti, berjudul “Le fait primitif”, merujuk kepada ujaran bahwa Aku dan yang lain, siap memberikan arti dan nilai demi meraih kemenangan. Yang berlaku hanya kejayaan tim, bukan kepentingan diri sendiri.

Brasil tidak sedang melambungkan kata-kata sarat omon-omon. Demi mewujudkan kebersamaan, negeri itu pernah memberlakukan 40 hal yang tidak boleh dilakukan pemain saat berlaga di Swedia dalam Piala Dunia 1958.

Waktu itu, Brasil ditangani pelatih Vicente Feola yang memberlakukan 40 tabu, antara lain tidak boleh menggunakan topi dan payung, tidak boleh merokok, dan pemain dilarang berbicara kepada awak media di luar waktu yang dialokasikan.

Brasil merupakan satu-satunya tim yang membawa tenaga psikolog dan dokter gigi, karena banyak pemain punya masalah gigi yang dapat mempengaruhi penampilan mereka bersama tim.

Demi kebersamaan, dan demi meraih kemenangan, Feola menginstruksikan para pemainnya untuk mencetak gol lebih awal
dengan tampil ngotot. Terjadilah “drama tiga menit” saat Brasil menekuk Soviet dengan skor 2-0.

Perjalanan Brasil mulus. Pele mencetak gol semata wayang dalam laga perempat final melawan Wales. Di perempat final, tim Samba mengalahkan Prancis dengan skor 5-2.

Brasil mengalahkan tim tuan rumah Swedia dengan skor 5-2 di final. Mereka memenangkan Piala Dunia untuk kali pertama, dan menjadi negara pertama yang menyabet gelar kampiun dunia di luar benua sendiri.

Neymar yang awalnya berdendang Homi homini lupus, akhirnya merevolusi tembang andalannya menjadi Homo homini socius.

Ancelotti kini mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak ringan, mengulang memori 1958, dan menghidupkan harapan seluruh rakyat Brasil.

Di ajang Piala Dunia 2026, nilai harapan bagi Neymar dan kawan-kawan bermuara kepada syair lagu yang kerap dinyanyikan di jalan-jalan kota Rio de Janeiro.

“Jika orang menantikan sesuatu (baca: gelar) dari saya, maka saya siap menuntaskan dan mewujudkan harapan itu. Terhadap mereka yang berani, maka saya pun tampil berani, asalkan tersedia hati.”

Nah, di sinilah letak kekuatan sejati dari Timnas Brasil bersama Neymar, yakni tampil berbekal hati, bukan rentetan kata-kata gemerlap panggung, sambil gebrak-gebrak meja.

Yang dipentingkan di Piala Dunia 2026, gertak lawan, meraih kemenangan. Saatnya, bukan omon-omon, Bung! (*)