Berita Bekasi Nomor Satu

Kisah Penumpang Selamat dari Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur

Penumpang selamat, Desi Budianti

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tabrakan maut antara KRL Commuter Line Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam menyisakan trauma bagi para penumpang. Salahsatunya Desi Budianti yang selamat dari peristiwa itu.

LAPORAN: RAIZA SEPTIANTO

Malam di Stasiun Bekasi Timur tak lagi sama. Di antara lalu lalang penumpang yang perlahan kembali normal, bayangan kepanikan masih terasa.

Di peron tempat orang menunggu kereta, Desi Budianti (50) duduk bersandar. Sesekali ia menatap rel, lalu kembali melihat ponselnya. Namun pikirannya seolah masih tertinggal di malam kejadian.

Senin malam itu, ia hanya ingin pulang ke rumahnya di Cikarang setelah beraktivitas di Jakarta. Seperti biasa, ia naik KRL transportasi yang sudah menjadi rutinitas hariannya.

“Ibu biasanya di gerbong lima kalau naik kereta, dari Jakarta mau pulang ke Cikarang,” ujar Desi.

Namun perjalanan itu tak berjalan seperti biasa. Rangkaian kereta yang ditumpanginya tertahan cukup lama di stasiun. Penumpang mulai gelisah. Tidak ada kepastian kapan perjalanan kembali dilanjutkan.

Desi mulai merasakan ada yang tidak beres. Belakangan diketahui, keterlambatan itu dipicu insiden lain di jalur berbeda, yakni kecelakaan taksi yang terserempet rangkaian KRL di perlintasan Jalan Ampera.

“Ternyata kan kereta itu ada yang kesrempet kereta apa ditabrak kereta, tapi di jalur lain,” ucapnya.

Di dalam gerbong, suasana berubah perlahan. Tidak terlalu padat, tetapi cukup ramai. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.

Hingga akhirnya, semuanya berubah dalam hitungan detik. Suara benturan keras tiba-tiba terdengar dari arah belakang.

“Kereta kan berhenti lama, tiba-tiba ‘brak’ aja suaranya keras,” kata Desi.

Benturan itu begitu kuat. Sejumlah penumpang terpental dari tempat duduknya. Suasana seketika berubah menjadi kepanikan.

“Ya keras lah, orang pada mental semua! Itu bapak-bapak di depan Ibu juga semua mental,” jelasnya.

Lampu di dalam gerbong padam. Dalam gelap, penumpang berteriak dan saling mencari jalan keluar.

Desi yang duduk di kursi prioritas langsung berdiri. Ia berusaha menyelamatkan diri bersama penumpang lain. Namun tidak semua pintu bisa dibuka.

“Kita orang langsung pada nyari keluar. Kan ada sebagian pintunya tertutup, di gerbong lima cuma satu doang yang terbuka,” ujarnya.

Berdesakan dalam kepanikan, mereka akhirnya berhasil keluar dari gerbong.

Di luar, pemandangan yang terlihat jauh lebih mengerikan.  Kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KRL. Lokomotifnya meringsek masuk ke dalam gerbong khusus wanita.

Puing dan pecahan kaca berserakan di mana-mana. Desi sempat terpaku. Namun ia tidak langsung pergi. Di tengah situasi kacau, ia melihat sejumlah penumpang terluka. Sebisanya, ia mencoba membantu.

“Ibu nolongin dua doang, orang Ibu juga gemeteran gimana melihat cewek itu pahanya semua dagingnya kelupas semua,” katanya dengan suara bergetar.

Malam itu, bukan hanya perjalanan yang terhenti. Sejumlah nyawa juga tak terselamatkan.

Data sementara mencatat 15 orang meninggal dunia dan 88 lainnya luka-luka dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Proses evakuasi berlangsung cukup panjang. Petugas gabungan dari berbagai instansi berjibaku mengeluarkan korban yang terjepit di dalam gerbong.

Seiring waktu, kondisi di lokasi kejadian perlahan mulai terkendali. Bangkai kereta yang ringsek satu per satu mulai dievakuasi menggunakan alat berat.

Sementara itu, rangkaian Argo Bromo Anggrek yang sebelumnya meringsek ke dalam gerbong KRL, akhirnya berhasil ditarik keluar dari lokasi kecelakaan.

Meski proses evakuasi terus berjalan, jejak kehancuran masih terlihat jelas di sepanjang rel menyisakan gambaran betapa dahsyatnya benturan yang terjadi malam itu. (*)