RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ratusan warga Kampung Ciranggon, Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, menggelar tradisi adat Babaritan atau Sedekah Bumi di perempatan Jalan Raya Bojongsari-Cipayung, Selasa (18/8/2026).
Sejak pagi, warga menyiapkan beragam makanan untuk disantap bersama. Beralaskan terpal di badan jalan, mereka berkumpul mengelilingi sejumlah tumpeng yang dihias ornamen merah putih, nasi kuning, buah-buahan lokal, serta hidangan khas, termasuk ayam bekakak khas warga Kampung Ciranggon.
Tradisi yang diwariskan turun-temurun itu masih dipertahankan warga Ciranggon. Babaritan tetap hidup dan tak lekang zaman sebagai bagian dari kearifan lokal.
Tokoh masyarakat setempat, Gunawan, menjelaskan Sedekah Bumi tahun ini digelar dalam rangka perayaan Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurutnya, Babaritan merupakan agenda tahunan yang telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kampung Ciranggon.
“Sedekah Bumi ini sudah berlangsung sejak jaman dahulu secara turun temurun dan sudah menjadi kearifan lokal,” kata Gunawan.
Menurut Gunawan, perempatan jalan dipilih sebagai lokasi Babaritan karena sejak dulu menjadi titik berkumpul warga. Selain itu, lokasi tersebut dinilai rawan kecelakaan sehingga tradisi ini sekaligus menjadi bentuk doa agar masyarakat diberikan keselamatan dan keberkahan.
“Lokasi Sedekah Bumi dari dulu selalu di perempatan. Karena perempatan itu sebagai titik kumpul dan perempatan itu rawan dengan kecelakaan, jadi supaya diberi keberkahan,” tuturnya.
Sementara itu, Plt Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengatakan tradisi berkumpul dan makan bersama memiliki nilai sosial yang penting untuk dipertahankan. Menurutnya, tradisi semacam itu menjadi pengikat hubungan antarmasyarakat dan bagian dari identitas budaya
“Ini merupakan satu tradisi yang tidak bisa dilupakan. Jadi kayak saya, saya jadi dokter di Jakarta, kalau pulang saya ingat adat istiadat keluarga saya. Jadi kalau saya di Jakarta, itu saya pasti ingat saya keluarga juga punya tradisi. Tradisinya ngumpul. Nah, itu tidak bisa hilang itu dan sekarang saya melihat ini kampung,” ujar Asep.
Ia berharap tradisi Babaritan terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak terputus. Menurut Asep, keberlangsungan tradisi tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi generasi berikutnya untuk mengenal dan menjaga budaya daerah.
“Ini merupakan satu cerminan kepada adik-adik yang nanti dewasa, ini kan memberi pembelajaran. Nanti selepasnya Mbah Gun, selepasnya Kang Juli, ini tetap harus ada. Jangan pernah ditinggalkan namanya babaritan,” tutupnya. (ris)











