Berita Bekasi Nomor Satu

Siswa SMP Swasta di Rawalumbu Diduga Dibully, Ortu: Pembuluh Darah Mata Anak Saya Pecah

Ortu KAAZ, Heni Ira, menunjukkan kondisi mata anaknya. FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – KAAZ (12), siswa SMP swasta di kawasan Rawalumbu, Kota Bekasi, menjadi korban dugaan bullying atau perundungan fisik oleh temannya di sekolah.

Berdasarkan pemeriksaan dokter yang disampaikan orang tua korban, terdapat pembuluh darah yang pecah di bagian dalam mata KAAZ. Peristiwa tersebut telah dilaporkan ke Polres Metro Bekasi Kota dan kini masih dalam tahap penyelidikan.

Ibu korban, Heni Ira (44), mengatakan kejadian terbaru berlangsung pada Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 06.00 WIB, saat anaknya hendak berangkat sekolah.

Menurut Heni, saat itu baju KAAZ tiba-tiba ditarik oleh seorang siswa. KAAZ kemudian berusaha menghindari keributan dengan berlari menuju kamarnya.

Namun, siswa tersebut disebut kembali mengejar KAAZ hingga ke depan kamar 114. Di lokasi tersebut, KAAZ diduga mendapat pukulan pada bagian dada.

Heni mengatakan anaknya kemudian melakukan pembalasan. Menurut dia, tindakan tersebut kembali dibalas dengan pukulan yang mengenai bagian wajah, kepala, hingga mata KAAZ.

“Matanya langsung merah,” kata Heni, pekan kemarin.

Meski mengalami kondisi tersebut, KAAZ tetap mengikuti ujian pada hari itu. Setelah kejadian, pihak asrama menghubungi Heni dan membawa anaknya ke rumah sakit.

Pada Senin (21/9/2026), Heni membawa KAAZ menjalani pemeriksaan di rumah sakit khusus mata di kawasan Kedoya, Jakarta Barat.

Menurut Heni, dokter menyampaikan terdapat pembuluh darah yang pecah di bagian dalam mata KAAZ. Dokter kemudian memberikan obat dan meminta korban menjalani pemeriksaan lanjutan setelah obat tersebut habis.

“Dokter menjelaskan bahwa pembuluh darah mata anak saya pecah di dalam. Di bagian depan mata juga terlihat pecah pembuluh darah. Tapi kata dokter masih bisa diobati,” ujarnya.

Heni kemudian meminta dilakukan mediasi dengan pihak sekolah dan orang tua siswa yang diduga terlibat. Namun, menurut dia, pertemuan tersebut belum menemukan titik temu.

Ia selanjutnya memilih menempuh jalur hukum dengan menjalani visum dan membuat laporan polisi.

Selain kejadian pada 17 September 2026, Heni mengaku beberapa kali melihat lebam pada tubuh anaknya sejak KAAZ masuk boarding school pada akhir Juni 2026. Menurut Heni, saat menjemput KAAZ sekitar Juli, ia baru mengetahui adanya lebam pada tubuh anaknya.

“Setiap datang, saya lihat badan anak saya selalu lebam-lebam,” ujarnya.

Heni mengaku sempat menanyakan kondisi tersebut kepada pihak asrama. Ia mengatakan pihak asrama menyampaikan akan mencari tahu penyebab lebam yang dialami anaknya.

Pada (7/9/2026), Heni kembali menjemput KAAZ karena anaknya mengalami demam. Saat itu, ia kembali melihat sejumlah lebam pada tubuh anaknya.

Heni mengaku kemudian mendapat informasi dari pihak asrama bahwa terdapat siswa yang disebut kerap melakukan tindakan fisik terhadap KAAZ.

Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa yang menyebabkan lebam-lebam tersebut.

Pasca kejadian 17 September 2026, KAAZ kini telah dipulangkan dan tidak lagi tinggal di asrama.

Heni mengatakan anaknya mengalami ketakutan setelah kejadian tersebut. Bahkan, KAAZ disebut sempat khawatir akan mengalami perundungan kembali ketika bersekolah di tempat lain.

“Rasa takut anak saya luar biasa. Dia sampai bertanya, ‘Mami, nanti di sekolah lain ada bully-bully lagi tidak?’” kata Heni.

Heni berharap proses hukum terhadap dugaan kekerasan yang dialami anaknya dapat berjalan dan memberikan keadilan bagi korban. (rez)