Berita Bekasi Nomor Satu

Menjadi Saksi Atas Dirimu Sendiri

Oleh: Achmad Muwafi, Lc

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di hadapan Allah SWT, setiap manusia akan menjadi saksi atas dirinya sendiri. Seluruh anggota tubuh yang Allah SWT anugerahkan akan memberikan kesaksian atas perbuatan yang telah dilakukan. Tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pengetahuan Allah SWT, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun tersembunyi.

Allah SWT berfirman, “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah ayat 14). Dalam kitab Tafsir As-Sa’di diterangkan bahwa ayat ini menjadi hujjah yang sangat jelas atas dirinya terhadap apa yang ia lakukan dan apa yang ia tinggalkan. Meskipun manusia mengingkari dan beralasan atas apa yang telah dilakukan, keingkaran dan alasan tersebut sama sekali tidak berguna, sebab perbuatannya disaksikan langsung oleh penglihatan, pendengaran, dan seluruh anggota badannya.

Allah SWT juga berfirman, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka. Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin ayat 65). Ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak dapat selamanya menyembunyikan kesalahan. Ketika mulut tidak lagi mampu berbicara, anggota tubuh justru menjadi saksi atas perbuatan yang pernah dilakukan selama hidup di dunia.

Dengan memahami ayat ini, hendaknya kita selalu mengoreksi dan mengintrospeksi aib-aib sendiri. Kita perlu menyadari bahwa mulut kita akan terkunci dan tidak bisa lagi berdusta atau mengingkari perbuatan. Tangan dan kaki yang selama ini kita gunakan untuk berbuat maksiat kepada Allah SWT akan memberikan kesaksian atas perbuatan yang telah kita lakukan. Kesadaran ini semestinya mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam bertindak dan senantiasa memperbaiki diri.

Imam Syafi’i berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Hajjaj bin Yusuf, ‘Tidak seorang pun kecuali ia tahu akan aib-aibnya, maka celahlah dirimu dengan aib-aib tersebut dan sama sekali jangan menyembunyikannya.’” Nasihat ini mengingatkan kita agar berani melihat kekurangan diri sendiri, bukan justru sibuk mencari kesalahan orang lain.

Sebagian salaf juga berkata, “Kejujuran yang paling bermanfaat adalah dengan mengakui aib dan dosamu kepada Allah SWT.” Pengakuan atas dosa merupakan langkah penting untuk bertobat dan memperbaiki diri.

Sikap Nabi Adam dan Hawa dapat menjadi renungan dan teladan bagi kita. Ketika melakukan kesalahan kepada Allah SWT, mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf ayat 23).

Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri melakukan introspeksi, mengakui kesalahan, dan memohon ampunan Allah SWT. Sebelum tiba hari ketika seluruh anggota tubuh bersaksi, hendaknya kita memperbaiki amal dan memperbanyak tobat. Sebab, kejujuran terhadap diri sendiri merupakan langkah awal menuju keselamatan di hadapan Allah SWT.(*)

*)Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum Bekasi, Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Kepala SMPIT Baitul Halim Bekasi