Berita Bekasi Nomor Satu

Warga Sumur Batu Kesulitan Air Bersih, Dewan Wildan Desak Pemkot Bekasi Turun Tangan

KEKERINGAN : Pengendara melintas di samping area persawahan yang mengalami kekeringan di Sumur Batu, Bantargebang, Kota Bekasi, Rabu (30/9). Kondisi sawah tampak kering dengan permukaan tanah yang mulai retak akibat minimnya pasokan air. Kekeringan tersebut membuat kondisi lahan pertanian warga turut terdampak. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKAAI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – DPRD Kota Bekasi mendesak pemerintah kota (Pemkot) segera menangani kesulitan air bersih selama tiga minggu yang dialami warga RT 04/RW 03, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang. Bukan sekadar memperbaiki sumur artesis, pemkot harus menjamin pasokan darurat bagi warga.

Anggota DPRD Kota Bekasi Wildan Fathurrahman meminta Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan) bergerak cepat menangani persoalan tersebut. Sebagai penanggung jawab air artesis di kawasan Bantargebang, Disperkimtan dinilai tidak boleh membiarkan warga berlarut-larut menghadapi persoalan kebutuhan dasar.

“Makanya kita minta Disperkimtan sebagai penanggung jawab betul-betul serius menyelesaikan ini. Dipercepat karena ini kebutuhan dasar,” kata Wildan, Rabu (30/9).

Menurutnya, gangguan pasokan air selama tiga minggu bukan lagi persoalan teknis yang bisa ditunggu penyelesaiannya. Pemerintah harus memastikan warga tetap mendapatkan air bersih sembari perbaikan jaringan dilakukan.

Wildan meminta Pemkot menyiapkan langkah darurat dengan mengerahkan mobil tangki ke lokasi terdampak. Langkah tersebut dinilai penting agar aktivitas warga tidak terus terganggu akibat minimnya pasokan air.

“Pemerintah juga harus menghitung betul kebutuhan darurat mereka seperti apa,” ujarnya.

Sorotan DPRD tersebut muncul setelah pasokan air artesis ke permukiman warga RT 04/RW 03 terganggu selama beberapa pekan. Debit air disebut mengecil, sehingga sebagian warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pelaksana lapangan Disperkimtan Kota Bekasi Rudi mengatakan pihaknya telah melakukan identifikasi awal. Penurunan debit diduga berkaitan dengan kondisi sumur yang telah dibangun sejak 2018.

“Saya sudah identifikasi. Memang sejak dibangun tahun 2018, mungkin keberadaan debit airnya agak berkurang,” kata Rudi.

Kondisi musim kemarau turut diduga memperparah penurunan debit. Selain itu, petugas akan mengecek kemungkinan gangguan pada pompa maupun sumbatan lumpur atau pasir.

Rudi mengatakan perbaikan pompa akan dilakukan dengan mengangkat pompa untuk diperiksa dan dikembalikan ke posisi yang dianggap optimal.

“Rencana saya besok akan datang dengan pekerjanya. Rencananya kita akan angkat, perbaikan pompanya. Mungkin saat ini kondisinya sudah menggantung sehingga harus diturunkan kembali,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sementara, Disperkimtan juga tengah mengupayakan suplai air menggunakan mobil tangki BPBD. Surat permintaan pasokan air bersih telah dilayangkan kepada PDAM Tirta Patriot.

Bagi Wildan, langkah darurat tersebut harus berjalan beriringan dengan perbaikan sumber air. Jangan sampai warga terus menunggu normalisasi sumur sementara kebutuhan air bersih tidak terpenuhi.

“Ini kebutuhan dasar,” tegasnya.(sur)