Oleh Dahlan Iskan
Saya ke kantor pusat Agrinas Pangan Nusantara Senin lalu. Saya tidak punya target apa-apa. Hanya ingin ketemu direktur utamanya, Joao Angelo De Sousa Mota. Saya hanya ingin tahu suasana kebatinannya setelah kritik ke Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) begitu gencarnya.
Saya juga tidak ingin meneruskan kritik masyarakat itu kepadanya: ia pasti sudah tahu sendiri. Dan lagi saya juga tahu: kritik sekeras apa pun sudah tidak ada gunanya. Maka sebelum menuju ke kantornya saya kirim dulu WA kepadanya: bisakah saya mampir ke kantornya. Yakni setelah selesai acara saya di Pertamina Hulu Energi.
Saya tahu di hari Senin Joao tidak ke mana-mana. Di hari Selasalah yang ia sangat sibuk: rapat-rapat di Mabes TNI di Cilangkap. Di situ, seminggu sekali diadakan rapat monitoring pembangunan KDMP se-Indonesia. Para pangdam harus memberi laporan perkembangan KDMP ke Markas Besar Tentara Nasional Indonesia.
Joao langsung merespons WA saya: dengan senang hati ia akan menyambut kedatangan saya.
Tiba di Agrinas saya pun naik ke lantai delapan di gedung bekas kantor pusat BUMN Yodya Karya itu. Istri saya menunggu di mobil –dari Agrinas saya memang akan mengantar istri melihat gedung DBL Academy yang baru, milik anaknyi, di Cakung, Jakarta Timur.
Hari itu Joao sedang rapat dengan para calon manajer KDMP. Ia harus mencarikan jalan keluar dari persoalan kemanusiaan yang rumit: beberapa wanita yang tinggal di pedalaman Jawa Barat harus bertugas di pedalaman Gorontalo. Ada juga yang mendapat tugas di pedalaman Sulawesi Tengah. Padahal mereka punya anak-anak kecil dan bapaknya anak-anak itu.
Dalam hal penentuan manajer KDMP, Agrinas tidak punya wewenang apa-apa. Itu urusan Kementerian Koperasi. Mulai dari rekrutmennya, seleksinya, sampai penempatannya.
Saya diajak Joao ke ruang penuh dengan calon manajer yang punya persoalan rumit mirip-mirip itu. Dengan rendah hati Joao minta saya untuk ikut memberikan ide jalan keluar apa yang harus ditemukan. Saya menolak dengan halus dan dengan nada guyon. Mereka pun serentak tertawa –meski setelah itu pusing kepala lagi.
Tentu saya juga diajak ke ruang pusat kendali. Masih sama dengan ketika kali pertama saya ke ruang itu. Hanya angka-angkanya yang berubah. Ada angka baru: sudah 1500 KDMP yang beroperasi. Ada angka 30.000 lebih bangunan KDMP yang sudah jadi. Tinggal tunggu dibuka. Tunggu manajer. Tunggu isinya. Banyak macam-macam angka di situ. Tidak semuanya bisa saya ingat.
Akhirnya saya diajak ngobrol di ruang kerja Joao yang sekaligus juga ruang rapatnya. Di papan tulis utamanya masih tertera copy surat yang ditulis seorang anak yang bunuh diri oleh kemiskinan di NTT. Copy surat itu diperbesar sehingga tulisannya terbaca dari tempat Joao duduk. Isi surat sudah pernah saya tulis di Disway tahun lalu (baca Disway 25 Maret 2026: Mati Efisien).
Dalam pertemuan ini saya menangkap beberapa suasana kebatinan Joao. Itu saya lihat dari raut wajahnya yang gabungan Asia-Eropa. Juga dari nada kata-katanya. Gerak tangannya. Sorot matanya.
Tampak Joao masih punya keyakinan KDMP adalah program yang baik dan harus sukses. Ia juga tampak tidak sabar agar KDPM bisa segera buka di seluruh Indonesia. Tapi ia juga tampak kesal karena tidak punya wewenang memilih dan menempatkan para manajer untuk KDMP itu.
Yang lebih terlihat kesal adalah ini: mengapa KDMP belum segera bisa menjual barang subsidi. Kementerian dan para BUMN terlihat ada keengganan menyalurkan barang subsidi ke KDMP. Mereka harus taat peraturan. Sebelum peraturan berubah mereka tidak akan mau mengubah penyaluran barang subsidi.
Maka Joao harus berjuang mengubah peraturan itu. Berhasil. Presiden sudah memberikan keputusan tertulis. Tapi setelah itu masih harus ada perubahan peraturan menteri dan lain-lain.
“Saya tetap optimistis perubahan peraturan menteri juga segera keluar. Kan tidak mungkin menteri tidak menuruti Perpres,” ujar Joao. Hanya saja setelah perubahan keputusan menteri, jangan-jangan masih harus menunggu perubahan putusan dirjen. Lalu keputusan dirut BUMN, dan seterusnya.
Tahun 2026 tinggal tiga bulan. KDMP belum bisa memastikan kapan mulai dibuka lantaran perubahan peraturan di luar wewenang Agrinas Pangan Nusantara. Yang jelas KDMP belum akan dibuka kalau barang subsidi belum bisa dijual di sana.
Sambil menunggu kepastian barang subsidi itu Joao terus memberikan keyakinan di sisi lain: sistem keuangan KDM sangat baik. Yakni sistem keuangan tersentral.
Sistem keuangan itu sudah jadi. Sudah siap. Menurut Joao lebih baik dari sistem keuangan Indomart atau Alfamart “karena dibuat lebih belakangan”. Semua transaksi di KDMP langsung terkirim ke pusat. Menit itu juga laporan keuangan dan arus kas di setiap KDMP terbaca dan tercatat di pusat.
Maka tidak ada sistem pembukuan terpisah di masing-masing KDMP. Mereka juga tidak perlu punya rekening bank sendiri.
Target saya bertemu Joao pun tercapai: seperti apa suasana kebatinannya. Lalu saya pamit. Terlihat istri saya tertidur di dalam mobil, di tempat parkir, kelamaan menunggu suaminyi. (Dahlan Iskan)











