Berita Bekasi Nomor Satu

Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah Makin Memanas, Nanda Persada Singgung Dugaan Saling Menjatuhkan

Potret Nanda Persada. Foto: Instagram

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Perselisihan antara Ruben Onsu dan Sarwendah kembali menarik perhatian publik. Permasalahan yang semula berkaitan dengan urusan keluarga kini menjadi perbincangan luas setelah muncul unggahan di media sosial yang memperlihatkan Ruben tengah melakukan panggilan video dengan seorang pria.

Situasi tersebut mendapat tanggapan dari manajer artis Nanda Persada. Ia menilai konflik antara mantan pasangan suami istri itu semakin meluas dan berpotensi bergeser menjadi perseteruan pribadi. Nanda pun menyayangkan polemik yang seharusnya dapat diselesaikan secara bijaksana justru berkembang menjadi konsumsi masyarakat.

Menurut Nanda, persoalan Ruben dan Sarwendah saat ini tidak lagi hanya berkutat pada urusan anak. Ia melihat adanya perdebatan yang semakin terbuka dan menimbulkan pertanyaan mengenai tujuan dari konflik yang terus bergulir.

“Saya melihat soal Sarwendah dan Ruben ini sudah melebar ke mana-mana ya, bukan soal hak asuh anak lagi, tapi sudah seperti perang antarpribadi saling menjatuhkan. Yang saya bingung itu tujuannya buat apa,” ujar Nanda Persada.

Nanda mengungkapkan kebingungannya melihat perkembangan persoalan tersebut. Ia berharap kedua belah pihak dapat lebih mengutamakan penyelesaian masalah secara baik daripada memperpanjang perselisihan di hadapan publik.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Nanda adalah unggahan Sarwendah yang menampilkan rekaman panggilan video Ruben dengan seorang pria. Dalam video tersebut, wajah Ruben terlihat jelas, sedangkan wajah pria yang menjadi lawan bicaranya tampak disamarkan.

“Dengan Sarwendah memposting di media sosialnya tentang video call Ruben dengan orang lain. Di situ ada unsur pelanggaran pidana, di mana muka Ruben sangat jelas. Muka lawan bicaranya itu diblur,” kata Nanda.

Perbedaan perlakuan terhadap kedua wajah dalam rekaman itu memunculkan pertanyaan bagi Nanda. Ia mempertanyakan alasan wajah Ruben ditampilkan tanpa penyamaran, sementara identitas pria yang berada di seberang panggilan video justru ditutupi.

Nanda juga menyoroti persoalan izin publikasi rekaman tersebut. Menurutnya, perlu ada kejelasan mengenai pihak yang memberikan persetujuan atas penyebaran video itu di media sosial.

Ia mempertanyakan apakah izin yang dimaksud berasal dari Ruben atau justru dari orang lain yang terlibat dalam rekaman tersebut. Nanda menilai persoalan ini perlu diperjelas, terutama karena wajah Ruben tetap terlihat secara terang dalam unggahan tersebut.

“Kalau Sarwendah bilang dia sudah mendapatkan izin, izin dari siapa? Apakah izinnya dari Ruben? Kalau izinnya dari orang itu, kenapa yang diblur orang itu? Muka Ruben jelas di situ,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Nanda menduga publikasi video itu berpotensi memengaruhi citra Ruben di mata masyarakat. Ia pun mempertanyakan maksud di balik penyebaran rekaman tersebut, mengingat persoalan yang melibatkan keduanya kini semakin menjadi perhatian publik.

BACA JUGA:Artis Berinisial RO Dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas Dugaan Pencabulan

Meski demikian, dugaan mengenai adanya upaya merugikan reputasi Ruben tersebut merupakan pandangan Nanda. Tujuan sebenarnya dari unggahan video maupun persoalan izin publikasinya tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pernyataan tersebut.

Di tengah polemik yang terus berkembang, Nanda turut mengingatkan pentingnya memperhatikan kondisi psikologis anak-anak Ruben dan Sarwendah. Ia menilai perselisihan orang tua yang menjadi konsumsi publik perlu disikapi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan terhadap anak.

Nanda mempertanyakan apakah konflik yang terus mencuat di ruang publik benar-benar sejalan dengan kepentingan anak-anak. Menurutnya, apabila kedua orang tua sama-sama mengutamakan kebahagiaan buah hati mereka, setiap tindakan sebaiknya dipertimbangkan secara matang.

Ia menekankan bahwa persoalan keluarga tidak semestinya hanya dilihat dari sudut pandang masing-masing pihak. Kepentingan anak juga perlu menjadi pertimbangan utama, terlebih ketika permasalahan orang tua telah berkembang menjadi perbincangan luas di masyarakat.

Perselisihan yang berlangsung secara terbuka berpotensi menempatkan anak-anak dalam situasi yang sulit. Karena itu, Nanda berharap pihak-pihak yang terlibat dapat mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari setiap pernyataan maupun tindakan yang dilakukan.

Kendati demikian, kondisi psikologis anak-anak Ruben dan Sarwendah tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan pandangan pihak luar. Diperlukan pemahaman yang menyeluruh terhadap situasi keluarga dan kebutuhan anak untuk mengetahui dampak yang mungkin mereka alami.

Polemik ini pun kembali mengingatkan pentingnya menjaga privasi keluarga, terutama ketika persoalan pribadi melibatkan anak-anak. Di tengah perhatian publik terhadap hubungan Ruben Onsu dan Sarwendah, penyelesaian konflik secara bijaksana diharapkan dapat menjadi prioritas tanpa mengabaikan kepentingan serta kesejahteraan anak-anak mereka. (mna)