RADARBEKASI.ID, BANDUNG – Video diduga perayaan Asyura, 10 Muharram di Gegerkalong, Bandung yang dihelat pada Jumat (28/7/2023) viral dan menghebohkan jagat dunia maya.
Potongan video yang memperlihatkan ritual keagamaan tersebut beredar luas di media sosial. Banyak warga yang mengaku baru pertama kali melihat ritual keagamaan seperti itu.
Merespons kejadian ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat menduga jika ritual tersebut dilakukan oleh sekelompok orang yang berasal dari jemaah Syiah.
BACA JUGA: MUI Jabar Rekomendasikan Ponpes Al-Zaytun Ditutup, Ini Alasannya
Namun, MUI Jabar belum mengetahui secara pasti ritual apa yang dilakukan seperti dalam video viral tersebut.
“Iya, jadi saya sendiri masih belum jelas tentang peristiwa di Gegerkalong itu. Memang Gegerkalong ada komunitas Syiah, tapi sedikitnya hanya satu keluarga kalau tidak salah. Tapi, mereka sering mengundang komunitasanya dari luar, kemudian melakukan ya kegiatan di situ,” kata Sekretaris MUI Jabar Rafani Achyar dikonfirmasi, Selasa (1/8/2023).
Ia pun menyayangkan terjadinya kegaduhan akibat aktivitas ritual keagamaan yang terjadi di Gegerkalong, Menurutnya, MUI di beberapa tempat sudah mengeluarkan fatwa terkait ajarah Syiah. Meski sudah ada fatwa yang menyikapi Syiah, namun eksistensi dari ajaran tersebut menurut dia masih ada hingga sekarang.
BACA JUGA: Dokter Forensik Sebut Penembak Kantor MUI Tewas Serangan Jantung
Dalam video, warga tampak berkumpul di depan masjid yang dimaksud. Ritual syiah pun digambarkan seperti sekelompok orang yang sedang menari-nari.
Terpisah, Kapolsek Sukasari Kompol Darmawan mengatakan, pokok permasalahan itu karena ada perbedaan pemahaman tentang nilai praktik keagamaan setempat.
Darmawan menjelaskan, kegiatan yang sedang dilakukan di dalam masjid itu ialah ritual yang dilakukan kelompok kebudayaan untuk memperingati bulan Asyura.
BACA JUGA: Cerita Sekuriti Diancam Pelaku Penembakan MUI Pusat
“Ini kegiatan terkait masalah Asyura, yang dilakukan Kabuyutan pimpinan Abah Yusuf,” kata Darmawan dihubungi, Senin (31/7/2023).
Menurut Darmawan, kegiatan ritual keagamaan seperti itu sudah sering dilakukan padepokan tersebut. “Sebenarnya acara kegiatan Kabuyutan itu tidak ada masalah, mereka dilakukan di padepokan, cuma yang jadi masalah mereka melakukan kebudayaan di masjid,” jelasnya.
Namun, di malam itu ada kelompok yang tidak sependapat dengan ritual yang sedang dijalani.
BACA JUGA: Penembak Kantor MUI Tewas Misterius, Al Chaidar: Ada Indikasi Operasi Intelejen
“Nah, inilah ada kelompok lain yang kurang sependapat, makanya mereka melakukan supaya kegiatan tersebut dihentikan,” ungkapnya.
Dikarenakan ramai, polisi kemudian turun ke lapangan supaya kondisi kembali kondusif.
Kata dia, sempat ada orasi dari kelompok masyarakat yang menentang namun satu jam selepas orasi, massa membubarkan diri. (jpnn)











