Berita Bekasi Nomor Satu

Bau Menyengat Resahkan Warga Tarumajaya Bekasi

Permukiman warga di Desa Pusaka Rakyat, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Senin (4/2). FOTO: SURYA BAGUS/RADAR BEKASI 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Bau menyengat kembali menyelimuti permukiman warga di Desa Pusaka Rakyat, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Aroma menyengat yang muncul terutama pada malam hingga dini hari itu membuat warga resah. Bau tersebut diduga kuat berasal dari aktivitas pengolahan sampah di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta Utara, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari kawasan permukiman.

Pantauan Radar Bekasi, siang kemarin aktivitas warga berjalan normal. Di sekitar Kantor Desa Pusaka Rakyat hingga perumahan Harapan Indah, bau nyaris tak tercium. Namun kondisi berubah drastis saat malam tiba. Warga menyebut, bau busuk mulai terasa ketika angin bertiup dari arah barat menuju timur, membawa aroma menyengat hingga ke dalam rumah, terutama di wilayah perbatasan Kabupaten Bekasi dan Jakarta Utara.

“Kalau siang memang sering tidak ada bau. Tapi malam sampai pagi, baunya bisa menyengat sekali,” kata warga Kampung Tambun Permata, Marzuki.

Warga Kampung Tambun Permata, Marzuki. FOTO: SURYA BAGUS/RADAR BEKASI

Menurut Marzuki, bau tersebut muncul tidak menentu. Kadang tercium tengah malam, kadang justru menjelang subuh. Intensitas bau sangat bergantung pada arah angin. Meski rumahnya relatif jauh dari RDF Rorotan, bau busuk tetap bisa sampai ke lingkungan tempat tinggalnya.

“Bau itu tidak bisa diprediksi. Kadang tengah malam, kadang pagi sekali. Pokoknya tidak menentu,” ujarnya.

 

Dalam kondisi tertentu, bau yang tercium disebut sangat menyengat hingga memaksa warga menutup hidung dan mulut menggunakan masker. Aroma yang dirasakan digambarkan seperti bau sampah membusuk dalam jumlah besar.“Wah, nggak bisa dirasain lah. Bau bener. Pokoknya bau sampah yang sangat busuk,” ucap Marzuki.

Lebih dari sekadar rasa tidak nyaman, warga mengaku khawatir bau tersebut berdampak pada kesehatan, terutama bagi anak-anak. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, keluhan serupa pernah berujung pada penghentian sementara operasional RDF Rorotan setelah warga mengalami gangguan kesehatan.

Keluhan telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah desa. Bahkan, pada tahun 2025 lalu warga sempat menggelar aksi demonstrasi. Saat itu, pengelola RDF Rorotan disebut telah melakukan perbaikan. Namun, awal tahun ini, bau menyengat kembali tercium.“Paling tidak harus ditutup lah. Kemauan masyarakat ya ditutup,” tegas Marzuki.

Riwayat Protes dan Penghentian Operasional

Penelusuran Radar Bekasi menunjukkan, RDF Rorotan bukan kali ini saja menuai protes. Fasilitas pengolahan sampah tersebut tercatat beberapa kali dihentikan sementara akibat keluhan warga dan dampak kesehatan.

Pada Mei 2025, uji coba RDF Rorotan dihentikan setelah warga mengalami gangguan kesehatan. Sebelumnya, warga Jakarta Utara, Jakarta Timur, hingga Bekasi sempat menggelar aksi demonstrasi menuntut RDF Rorotan ditutup permanen.

Kemudian pada November 2025, uji coba kembali dihentikan akibat bau menyengat yang dikeluhkan warga. Namun, di akhir Januari lalu, bau busuk kembali tercium, bahkan hingga kawasan Harapan Indah, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari RDF Rorotan.

Radar Bekasi mendatangi permukiman warga di perbatasan Desa Pusaka Rakyat dengan Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Di wilayah ini, bau busuk disebut paling terasa, terutama pada malam hari.

“Betul, kalau malam hari, apalagi kalau anginnya dari barat, baunya luar biasa. Sampai masuk ke dalam rumah. Pakai masker saja masih kalah baunya,” ujar Haryono (69), warga yang tinggal persis di perbatasan Bekasi–Jakarta Utara.

Haryono mengaku, kondisi ini membuat keluarganya resah. Pada Januari lalu, ia mendatangi Kantor Kelurahan Rorotan untuk menyampaikan keluhan. Saat itu, ia mendapat informasi bahwa RDF Rorotan sedang dalam tahap uji coba alat.

“Saya maklumi, tapi saya sampaikan kalau masih tetap bau, lebih baik ditutup saja,” katanya.
Tak berhenti di situ, Haryono juga menyampaikan keluhan yang sama ke Kantor Desa Pusaka Rakyat. Meski sempat dihentikan sementara, ia menilai tidak ada perubahan signifikan setelah RDF kembali beroperasi.

Ia menegaskan, dirinya tidak menolak teknologi pengolahan sampah modern. Namun, menurutnya, pengelolaan harus benar-benar diperbaiki agar tidak menimbulkan pencemaran udara dan dampak kesehatan.

“Kalau memang menimbulkan bau yang berdampak pada kesehatan masyarakat, sebaiknya tidak usah. Ditutup. Atau dipindahkan ke tempat yang jauh dari permukiman,” tegasnya.
Haryono juga mengingatkan agar upaya menghilangkan bau tidak menggunakan bahan kimia sembarangan, karena berpotensi menimbulkan risiko kesehatan baru.

Sorotan Aktivis Lingkungan
Pegiat dan pemerhati lingkungan Sony Teguh Trilaksono menilai, pengolahan sampah dengan RDF Plant seharusnya mengikuti standar ketat. Persoalan utama, menurutnya, terletak pada pemilahan sampah.
“Bahan baku yang masuk ke RDF itu harus dipilah dulu. Organik dan anorganik dipisah. Kalau semua ditumpuk jadi satu, ya pasti bau. Itu sudah masalah sejak awal,” kata Sony.

Ia menjelaskan, bau busuk yang tercium hingga Bekasi merupakan konsekuensi dari pengolahan sampah yang tidak sesuai prosedur. Sampah yang menumpuk tanpa pemilahan akan menghasilkan bau menyengat sebelum diolah.

Lebih jauh, Sony mengingatkan risiko kesehatan yang lebih serius. Jika sampah campuran dibakar dalam proses RDF, berpotensi menghasilkan gas dioksin yang berbahaya.

“Kalau semuanya dimasukin, yang muncul itu gas dioksin. Pak Menteri Lingkungan Hidup juga sudah bilang, kalau tidak dipilah, lebih baik jangan dibakar. Itu jauh lebih berbahaya,” ujarnya.

Menurut Sony, pengelolaan sampah tidak bisa setengah-setengah. Tanpa pemilahan dari hulu, RDF Plant atau metode lain tidak akan pernah bebas bau.“Tidak akan pernah tidak bau kalau input dan prosesnya tidak sesuai ketentuan. Kita tidak boleh tanggung-tanggung,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait bahaya gas dioksin dan potensi gangguan kesehatan.“Masyarakat harus diedukasi. Kasihan rakyat kalau mereka tidak tahu,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Ade Sukron Hanas mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera turun tangan. Menurutnya, bau busuk dari RDF Rorotan telah berdampak langsung ke wilayah Harapan Indah.

“Itu wilayah Harapan Indah, karena berseberangan dengan RDF. Saya berharap Pemprov bertindak agar keluhan warga teratasi,” ujarnya.

Meski mengaku belum menerima aduan resmi, Ade menegaskan keberpihakannya pada warga.
“Saya ikut saja apa yang menjadi keberatan warga,” katanya.

Sementara itu, Komisi III DPRD Kabupaten Bekasi mengaku belum menerima laporan dari warga maupun Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Anggota Komisi III, Saeful Islam, menyarankan DLH segera turun ke lapangan.“Perlu identifikasi langsung di lapangan. Setelah tahu penyebabnya, baru dikoordinasikan dengan Pemprov DKI,” ujarnya.

Dari tingkat provinsi, Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat Muhamad Rochadi memastikan akan menyuarakan keluhan warga, meski belum menerima aduan resmi.“Ini ranah antarprovinsi. Saya akan berusaha menyuarakan keluhan warga,” katanya. (sur/pra)