RADARBEKASI.ID, BEKASI – “Kalian adalah calon pemilik 60 persen populasi produktif di tahun 2045. Dengan kontribusi pajak yang mencapai 85 persen dari pendapatan negara, APBN kita akan sangat kuat dan mandiri jika generasi mudanya sadar pajak sejak dini,” ujar Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Jawa Barat III Romadhaniah dalam Seminar Perpajakan di acara “Accounting Fair 2026″ Politeknik Negeri Jakarta.
Di hadapan sekitar 300 mahasiswa, Romadhaniah memaparkan bahwa pajak menyumbang Rp2.693,7 Triliun dari total pendapatan negara dalam APBN 2026. Ia menekankan bahwa uang pajak tersebut secara nyata kembali ke masyarakat melalui berbagai program, termasuk beasiswa KIP-Kuliah dan infrastruktur pendidikan yang dinikmati para mahasiswa.
Namun, ia juga menyoroti tantangan free rider, yaitu pihak yang menikmati fasilitas publik tanpa ikut berkontribusi. Ia mengajak mahasiswa untuk menjadi agen edukasi yang mampu menyadarkan masyarakat bahwa setiap fasilitas yang dinikmati adalah hasil kontribusi bersama.
Menanggapi pertanyaan kritis mahasiswa mengenai mengapa negara masih berutang meski pajak terus dipungut, Romadhaniah memberikan penjelasan menggunakan analogi balon.
“Utang itu sudah ada bahkan sejak saya lahir, dan angka sekarang adalah akumulasi bertahun-tahun. Bayangkan negara seperti sebuah balon. Kebutuhan pembangunan adalah udara yang terus ditiupkan ke dalam. Jika keran udara (kebutuhan) tersebut tidak ditutup atau diimbangi dengan asupan pajak yang kuat, balon itu bisa meletus. Pajak hadir agar ekonomi kita tidak meletus dan tetap stabil,” jelas Romadhaniah.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur PNJ, Syamsurizal, mengajak mahasiswanya untuk memandang pajak sebagai simbol kesuksesan. “Jadilah pembayar pajak yang besar, karena itu artinya penghasilan Anda juga besar. Menjadi pembayar pajak besar adalah simbol bahwa Anda termasuk orang sukses yang berkontribusi bagi negara,” ujar Syamsurizal dalam sambutannya.
Romadhaniah menutup paparannya dengan menekankan agar seluruh pihak, termasuk akademisi, berperan aktif menjaga integritas pegawai dengan tidak melakukan tindakan tercela seperti pemberian gratifikasi.
“Bantu kami untuk menjaga integritas. Kalau ada apa-apa, laporkan saja. Bagi kami, satu rupiah, seribu rupiah itu sama saja, karena integritas adalah urat nadi setiap pegawai di Kanwil DJP Jawa Barat III,” pungkasnya. (*)











