Berita Bekasi Nomor Satu

Zainal Menapak Takdir

Oleh: Miftakhudin

Jemaah haji Bekasi sekaligus Wakil Pemred Radar Bekasi, Miftakhudin.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Musim haji selalu menghadirkan kisah-kisah yang sulit dijelaskan dengan logika biasa. Di antara jutaan manusia yang berkumpul di Tanah Suci pada haji 2026, saya menyaksikan sebuah perjalanan yang mengajarkan makna keteguhan hati, keyakinan, dan kepasrahan kepada Allah SWT.

Kisah itu datang dari seorang jemaah bernama Zainal Arifin. Usianya 63 tahun. Rambutnya telah dipenuhi warna keperakan. Langkahnya tidak lagi secepat dahulu. Namun di balik tubuh yang mulai renta itu tersimpan semangat yang bahkan mampu mengalahkan keraguan dirinya sendiri.

Sebelum berangkat haji, Pak Zainal pernah menjabat sebagai Lurah Kalibaru, Kota Bekasi, selama dua periode, dari tahun 2008 hingga 2016. Namun di hadapan Ka’bah, jabatan dan gelar tidak lagi memiliki arti. Ia berdiri sejajar dengan jutaan manusia lainnya, mengenakan pakaian ihram yang sama, menjadi seorang hamba yang datang memenuhi panggilan Allah.

Saya mengenalnya sebagai anggota regu yang saya pimpin. Sejak awal, perhatian saya tertuju kepadanya. Kondisi fisiknya membuat saya khawatir. Sebelum keberangkatan menuju Arafah, ia bahkan masuk kategori murur karena dinilai memiliki risiko kesehatan. Beberapa kali ia bercerita bahwa dadanya terkadang terasa nyeri ketika terlalu lelah.

Karena itulah, menjelang pelaksanaan lempar jumrah pada 11 Zulhijah, saya sudah menyiapkan kemungkinan terburuk. Dalam hati, saya berniat membadalkan lempar jumrahnya apabila kondisi fisiknya tidak memungkinkan.

Namun ketika niat itu saya sampaikan, ia hanya tersenyum tenang. Senyum yang sulit saya lupakan hingga hari ini.

“Saya ikut saja, insyaallah saya kuat,” katanya pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tidak ada nada heroik. Tidak ada keyakinan yang berlebihan. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terasa kuat.

Pukul enam pagi, kami meninggalkan tenda Mina menuju Jamarat. Udara pagi masih terasa bersahabat. Cahaya matahari baru menyembul dari balik cakrawala, menyinari lautan tenda putih yang membentang sejauh mata memandang.

Sekitar 40 jemaah berjalan beriringan. Di depan rombongan, Pak Irwansyah memimpin sambil mengibarkan bendera oranye sebagai penanda. Saya berada di tengah rombongan, sedangkan Pak Muhisa menjaga barisan belakang.

Dari berbagai arah, jutaan manusia bergerak menuju tujuan yang sama. Suara talbiyah menggema tanpa henti.

“Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaik laa syarika laka Labbaik.”

Kalimat itu seolah mengalir bersama langkah kaki para jemaah. Datang dari berbagai bahasa, berbagai bangsa, dan berbagai warna kulit.

Di Tanah Suci, perbedaan itu melebur menjadi satu. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang sedang menjawab panggilan Tuhan.

Di tengah lautan manusia itulah Pak Zainal berjalan. Kadang langkahnya melambat. Kadang ia berhenti sejenak untuk mengatur napas. Namun tidak sekali pun saya mendengar keluhan keluar dari mulutnya.

Saat melewati Terowongan Mina, saya beberapa kali menoleh ke belakang. Wajahnya terlihat basah oleh keringat. Namun sorot matanya tetap menyala. Ada tekad yang terus mendorongnya melangkah.

Semakin dekat ke Jamarat, kepadatan jemaah semakin luar biasa. Arus manusia dari berbagai penjuru dunia bertemu dalam satu titik. Tubuh saling berhimpitan. Langkah menjadi lambat. Suara talbiyah bercampur dengan berbagai bahasa yang terdengar dari segala arah.

Ketika prosesi lempar jumrah dimulai, setiap orang fokus menjalankan ibadahnya masing-masing. Di saat itulah saya melihat Pak Zainal untuk terakhir kalinya.

Tubuhnya yang kecil tampak berusaha menembus kerumunan jemaah yang jauh lebih besar. Ia terus bergerak maju setapak demi setapak. Seolah seluruh tenaga yang dimilikinya dikerahkan demi menyempurnakan ibadah tersebut.

Usai melempar jumrah, saya berdiri di lokasi yang agak longgar. Bendera regu saya kibarkan tinggi agar mudah terlihat.
Satu per satu anggota regu berdatangan.
Namun ada satu orang yang tidak kunjung muncul. Pak Zainal.

Saya mencoba menghubunginya berkali-kali.
Tidak ada jawaban. Awalnya saya berusaha tetap tenang. Mungkin beliau masih berjalan. Mungkin sedang beristirahat. Mungkin sebentar lagi akan terlihat.
Tetapi waktu terus berjalan. Kekhawatiran perlahan tumbuh.

Di tengah jutaan manusia yang bergerak tanpa henti, kehilangan satu jemaah adalah persoalan yang tidak sederhana. Ternyata dugaan itu benar. Pak Zainal tersesat.

Saat hendak kembali ke Mina, jalurnya terhalang arus jemaah lain. Tanpa disadari, ia terbawa rombongan menuju arah yang berbeda.

“Pas saya mau masuk, jalan saya kehalang rombongan jemaah kulit hitam. Saya ikut mereka sampai turun ke bawah,” kenangnya.

Awalnya ia tidak menyadari kesalahan tersebut. Ia terus berjalan mengikuti arus.

Hingga akhirnya kerumunan mulai berkurang dan jalanan terasa semakin sepi. Saat itulah ia sadar bahwa dirinya salah arah.

Sendirian di negeri asing, terpisah dari rombongan, dalam kondisi fisik yang tidak lagi muda, tentu bukan situasi yang mudah.
Namun yang membuat saya kagum, ia tidak panik. Ia memilih terus berusaha mencari jalan pulang.

Ketika tenaga mulai berkurang, ia menyewa taksi menuju hotel di kawasan Misfalah dengan biaya 200 riyal. Namun sesampainya di sana, suasana hotel justru membuatnya semakin tidak nyaman. Lorong-lorong tampak sunyi. Sebagian besar jemaah masih berada di Mina.

“Saya nggak berani sendirian di hotel. Semuanya gelap. Nggak ada orang. Hanya ada satu orang petugas keamanan,” ujarnya.

Karena itu ia memutuskan kembali ke Masjidil Haram. Di bawah naungan rumah Allah, ia menunaikan salat Zuhur dan berdoa memohon pertolongan. Doa itu seperti membuka jalan.

Di pelataran masjid, ia bertemu empat jemaah Indonesia asal Majalengka. Mereka sebelumnya tidak saling mengenal. Namun di Tanah Suci, mereka menjadi saudara seperjalanan.

Karena tidak ada kendaraan yang bersedia mengantar ke Mina, mereka memutuskan berjalan kaki. Jika pun ada, ongkosnya di luar kewajaran. Sementara uang yang dimiliki sangat terbatas.”kebanyakan pada minta 400 riyal,”katanya.

Perjalanan sekitar 11 kilometer membentang di hadapan mereka. Suhu udara mendekati 45 derajat Celsius. Matahari terasa menggantung tepat di atas kepala.
Panas memantul dari aspal dan bebatuan gurun.

Namun mereka terus melangkah. Kilometer demi kilometer. Meter demi meter. Dengan tekad yang tersisa. Sesekali relawan membagikan air minum. Botol-botol air sederhana itu terasa begitu berharga.

“Kalau di jalan banyak yang kasih air minum,” kenangnya.

Ketika rasa lapar datang, sebuah kendaraan berhenti membagikan makanan. Mereka makan seadanya di tepi jalan, berteduh dengan payung sambil menikmati rezeki yang datang di tengah perjalanan.

Tidak ada kemewahan. Tidak ada kenyamanan.
Hanya gurun, panas, dan harapan untuk bisa kembali ke Mina. Menjelang waktu Asar, perjuangan panjang itu akhirnya berbuah hasil. Pak Zainal berhasil tiba di Mina.

Tak lama kemudian telepon saya berdering. Suara di seberang terdengar lelah. Napasnya berat. Namun saya bisa merasakan kebahagiaan yang terselip di balik setiap kata.

Ia berhasil kembali. Saat kami bertemu, saya melihat wajah yang dipenuhi keletihan sekaligus kemenangan. Bukan kemenangan atas orang lain.

Melainkan kemenangan atas keraguan dirinya sendiri.

“Padahal saya tadinya minta murur karena merasa nggak kuat. Tapi ternyata saya masih kuat,” katanya sambil tersenyum.

Matanya tampak berkaca-kaca. Begitu pula saya. Perjalanan itu seakan menjadi jawaban bahwa Allah sering kali melihat kemampuan seorang hamba jauh melampaui apa yang dilihat oleh hamba itu sendiri.

“Ini menjadi pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup,” katanya lirih.

Saya memandang sosok kakek tiga cucu itu dengan rasa hormat yang mendalam. Di hadapan saya berdiri seorang lelaki yang semula merasa dirinya lemah. Namun Allah memperlihatkan bahwa di balik tubuh yang renta masih tersimpan kekuatan luar biasa.

Kekuatan yang lahir dari keyakinan. Kekuatan yang lahir dari kesabaran. Kekuatan yang lahir dari kepasrahan penuh kepada Allah SWT.

Di gurun Mina yang panas dan keras itu, Pak Zainal bukan hanya menemukan jalan kembali menuju tenda. Ia juga menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga. Ia menemukan jalan untuk mengenal dirinya sendiri.(*)