RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pagi itu, hamparan warna putih langsung menyambut pandangan saya saat tiba di Masjid Tan’im, sekitar 7,5 kilometer dari Masjidil Haram. Di bawah langit Makkah yang cerah dan suhu yang mulai merangkak naik, bangunan masjid tampak berdiri anggun. Dua menara setinggi sekitar 50 meter menjulang ke langit, sementara deretan pintu dan jendela tinggi menghadirkan kesan megah sekaligus menenangkan.
Di sinilah ribuan jemaah setiap hari memulai perjalanan spiritual menuju Baitullah. Masjid yang lebih dikenal sebagai Masjid Aisyah itu bukan sekadar tempat singgah sebelum umrah. Ia adalah saksi sejarah yang jejaknya masih hidup hingga kini.
Saya berjalan perlahan menyusuri kompleks masjid yang luasnya mencapai 84.000 meter persegi. Bangunan utama seluas sekitar 6.000 meter persegi mampu menampung hingga 15.000 jemaah. Meski dipadati pengunjung dari berbagai negara, suasana tetap terasa tertib dan khusyuk.
Di sisi luar masjid, hamparan taman hijau memberi kesejukan di tengah kawasan gurun yang kering. Tidak jauh dari taman itu berdiri sebuah pembatas tinggi dengan tulisan yang langsung menarik perhatian saya: “Haram Ends Here.”
Tulisan sederhana itu menyimpan makna yang sangat besar. Di titik itulah batas Tanah Haram berakhir. Bagi para jemaah yang hendak melaksanakan umrah dari Makkah, kawasan tersebut menjadi tempat mengambil miqat, yakni lokasi memulai niat ihram sebelum memasuki kembali kawasan Masjidil Haram.
Di teras masjid, sebuah papan informasi digital berdiri di samping ruangan kecil yang berisi buku-buku keagamaan. Seorang petugas membagikan buku kumpulan doa dan panduan haji serta umrah kepada para jemaah. Saya pun menerima satu buku dan membolak-balik halamannya sembari menunggu waktu salat.
Pemandangan di dalam masjid begitu menyentuh hati. Puluhan bahkan ratusan jemaah mengenakan pakaian ihram putih bersih. Sebagian membaca Al-Qur’an dengan suara lirih, sebagian berzikir, sementara yang lain melaksanakan salat sunah dua rakaat sebelum berniat umrah.
Wajah-wajah mereka memancarkan harapan dan kerinduan yang sama.
“Alhamdulillah, setiap datang ke sini hati terasa lebih tenang. Rasanya seperti memulai perjalanan baru menuju rumah Allah,” ujar Ahmad, seorang jemaah asal Indonesia yang saya temui di serambi masjid.
Ketika memasuki ruang utama masjid, udara sejuk langsung menyelimuti tubuh saya. Kontras sekali dengan suhu di luar yang mencapai sekitar 43 derajat Celsius. Setelah menunaikan salat tahiyatul masjid, saya melanjutkan salat ihram dua rakaat. Di tengah keheningan itu, saya mengucapkan niat umrah bersama para jemaah lainnya.
Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Kalimat talbiyah yang mulai dilantunkan para jemaah terdengar begitu merdu, menggema di dalam masjid yang luas.
Masjid Tan’im memang menjadi salah satu tempat favorit untuk mengambil miqat. Selain memiliki nilai sejarah yang kuat, lokasinya juga paling dekat dengan Masjidil Haram, hanya sekitar 7,8 kilometer atau sekitar 15 hingga 20 menit perjalanan menggunakan taksi. Berbeda dengan Bir Ali di Madinah yang berjarak sekitar 425 kilometer dari Makkah.
Setelah berniat ihram, saya bersama para jemaah lainnya perlahan meninggalkan masjid. Sebagian menaiki taksi, sebagian lagi menunggu bus yang jumlahnya terbatas. Tujuan kami sama: Masjidil Haram.
Namun sebelum meninggalkan tempat ini, pikiran saya melayang pada sejarah yang menjadikan Tan’im begitu istimewa.
Tempat ini berkaitan erat dengan kisah Ummul Mukminin Aisyah RA, istri Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah dan para sahabat melaksanakan Haji Wada’ pada tahun 632 Masehi, Aisyah tidak dapat menunaikan umrah bersamaan dengan rombongan karena sedang mengalami haid.
Dalam hadis riwayat Muslim, Aisyah menceritakan bahwa dirinya menangis karena tidak dapat melaksanakan umrah sebagaimana jemaah lainnya. Rasulullah SAW kemudian menenangkannya dan menjelaskan bahwa haid merupakan ketentuan Allah bagi perempuan.
Setelah ibadah haji selesai dan Aisyah telah bersuci, Rasulullah SAW memerintahkannya untuk mengambil miqat dari Tan’im. Ditemani saudaranya, Abdurrahman bin Abu Bakar, Aisyah berangkat ke kawasan tersebut dan memulai ihram dari sana.
“Rasulullah SAW menunjukkan langsung tempat ini kepada Aisyah. Karena itu sampai sekarang jutaan umat Islam mengikuti jejak yang sama,” tutur seorang pembimbing ibadah yang saya temui di area masjid.
Peristiwa itulah yang kemudian menjadikan Tan’im sebagai salah satu lokasi miqat paling populer di Makkah. Pada tahun 240 Hijriah, di kawasan yang berada di antara dua gunung bernama Naim dan Naiim itu dibangun Masjid Aisyah yang kini menjadi tujuan jutaan jemaah setiap tahun.
Menjelang meninggalkan masjid, saya kembali memandang lautan manusia yang terus berdatangan. Ada yang baru turun dari bus, ada yang tengah mengenakan kain ihram, dan ada pula yang bersiap berangkat menuju Masjidil Haram.
Di wajah mereka saya melihat harapan yang sama: menjadi tamu Allah yang diterima ibadahnya.
Di Masjid Aisyah, saya memahami bahwa miqat bukan sekadar batas geografis. Ia adalah titik awal perjalanan hati. Tempat setiap jemaah melepaskan kesibukan dunia, membersihkan niat, lalu melangkah menuju Baitullah dengan kerendahan hati dan harapan akan ampunan-Nya.(*)









