RADARBEKASI.ID, BEKASI – Keluarga korban kecelakaan KRL Stasiun Bekasi Timur mendesak pemerintah melakukan evaluasi besar-besaran terhadap sistem keselamatan perkeretaapian.
Langkah itu dinilai penting agar tragedi yang menyebabkan 16 orang meninggal pada 27 April 2026 tidak kembali terulang.
Permintaan tersebut disampaikan setelah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis laporan akhir investigasi tabrakan KA 4B Argo Bromo Anggrek dengan KA 5568A Commuter Line atau KRL di Jalur 1 Stasiun Bekasi Timur. Laporan itu mengungkap sejumlah faktor yang saling berkaitan, mulai dari persinyalan, komunikasi, hingga pengambilan keputusan dalam kondisi darurat.
Koordinator Paguyuban Keluarga Korban Kecelakaan KRL Stasiun Bekasi Timur, Anggi Alhakim, menyampaikan secara umum keluarga telah membaca poin-poin laporan akhir investigasi KNKT tersebut. Laporan tersebut menurutnya telah menunjukkan bobroknya sistem perkeretaapian akibat kelalaian semua pihak.
Transportasi massal, kata Anggi, menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat di wilayah perkotaan seperti Jabodetabek. Karena itu, pembenahan sistem dan fasilitas keselamatan tidak boleh ditunda.
“Pasti kalau tidak dilakukan evaluasi besar-besaran, tidak dilakukan investasi yang baik untuk fasilitas dan sistemnya, ini hanya bom waktu. Pasti kejadian serupa akan terulang kembali, pasti akan ada keluarga-keluarga seperti kami yang kehilangan, kami bisa yakinkan itu,” ungkapnya, Selasa (29/9/2026).
Keluarga korban mengapresiasi investigasi yang dilakukan KNKT karena memberikan gambaran mengenai rangkaian peristiwa di balik kecelakaan tersebut. Namun, mereka meminta tindak lanjut tidak berhenti pada proses hukum terhadap masinis KA Argo Bromo Anggrek berinisial AN yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Anggi menilai evaluasi harus dilakukan terhadap seluruh lini, mulai dari Kementerian Perhubungan sebagai regulator hingga PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai operator. Ia meminta Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian besar dalam hal ini.
Kecelakaan kereta yang terus berulang menunjukkan sinyal perbaikan secara serius dan menyeluruh perlu dilakukan. Pasalnya, telah banyak nyawa melayang sia-sia dalam peristiwa kecelakaan kereta api.
“Yang kami inginkan memang evaluasi besar-besaran di semua lini, mulai dari regulatornya Kemenhub, lalu KAI sebagai pihak yang mengoperasikan, dan juga kepada pemerintah Indonesia kenapa hal ini bisa terjadi,” ujarnya.
Bahkan, ia pribadi menyampaikan keinginan agar Menteri Perhubungan (Menhub) hingga pejabat-pejabat PT KAI dicopot lantaran bobroknya sistem perkeretaapian.
Keluarga korban mengapresiasi dan menunggu kelanjutan proses hukum yang telah dijalankan oleh pihak kepolisian.
Namun, penetapan tersangka masinis KA Argo Bromo Anggrek dinilai tidak cukup. Anggi menyebut semua pihak harus bertanggungjawab atas peristiwa yang menewaskan 16 orang dan menyebabkan 107 orang luka-luka tersebut.
Bobroknya sistem perkeretaapian menunjukkan bahwa keselamatan tidak menjadi perhatian utama. Saat ini keluarga korban tengah mempersiapkan langkah hukum terkait peristiwa ini.
“Tidak berhenti di sana, dan kami tidak happy. Mereka sangka dengan mentersangkakan satu orang kami akan diam, tidak. Kami dari paguyuban keluarga korban akan tetap menempuh jalur selanjutnya,” kata Anggi.
Terkait dengan hak korban, Anggi menyebut keluarga telah menerimanya termasuk asuransi Jasa Raharja hingga bantuan yang sempat dijanjikan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Bagi keluarga korban, berapapun besaran uang yang diterima dalam peristiwa ini tidak bisa menggantikan nyawa keluarga mereka yang menjadi korban. Untuk itu, berbagai upaya akan terus dilakukan untuk memperbaiki masa depan transportasi di Indonesia.
“Salah satu (alasan) nya masa depan transportasi, karena yang memakai transportasi ini bukan satu-dua orang, ini adalah transportasi massal. Dan yang paling penting kami tidak ingin ada keluarga lain seperti kami yang kehilangan anggota keluarga, itu poin pentingnya,” tambahnya.
Hilangnya nyawa anggota keluarga dalam peristiwa kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur itu meninggalkan luka mendalam.
Keluarga korban seperti Anggi yang biasa hilir mudik Bekasi-Jakarta menggunakan Commuter Line (KRL) bahkan saat ini memilih moda transportasi lain seperti kendaraan pribadi atau bus. (sur)











