RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pedagang pasar tradisional di Kota Bekasi mengaku omzet terus merosot dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan daya beli masyarakat hingga perubahan pola belanja membuat aktivitas perdagangan tak seramai sebelumnya.
Pedagang Pasar Kranji, Rohmawansyah Mahadi, mengatakan omzet pedagang saat ini bisa turun hingga sekitar 50 persen dibandingkan beberapa tahun lalu. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak hanya dirasakan pedagang di Pasar Kranji, tetapi juga pasar tradisional lainnya di Kota Bekasi.
“Bukan hanya dirasakan oleh teman-teman di Pasar Kranji. Penurunan daya beli masyarakat juga dirasakan oleh teman-teman pedagang di pasar lain,” katanya.
Menurut Rohmawansyah, peningkatan transaksi biasanya baru terasa menjelang hari-hari besar keagamaan. Idulfitri, Iduladha, dan Natal menjadi momentum ketika pasar mulai kembali ramai.
BACA JUGA: Wali Kota Bekasi Minta ASN Rutin Belanja di Pasar Tradisional
“Tapi yang paling berpengaruh itu hari-hari besar. Menjelang Idulfitri, Iduladha, Natal, memang selalu ramai pasar,” ucapnya.
Di luar momentum tersebut, pedagang harus menghadapi perubahan perilaku konsumen. Belanja daring membuat masyarakat memiliki pilihan berbelanja tanpa harus datang langsung ke pasar. Pergeseran itu cukup dirasakan pedagang pakaian, sepatu, dan sandal.
Persaingan juga datang dari supermarket dan agen besar di sekitar pasar. Rohmawansyah menyoroti keberadaan agen yang menjual kebutuhan pokok seperti daging, beras, dan minyak goreng dalam jumlah besar dengan lokasi yang relatif dekat dari pasar tradisional.
“Seharusnya pemerintah tidak mengizinkan agen-agen besar mendekati wilayah pasar. Ada aturan yang harus ditegakkan, berapa radius kilometer untuk menjaga pasar itu tetap maju,” tegasnya.
Kondisi pedagang di Pasar Kranji semakin berat karena revitalisasi pasar yang belum menunjukkan progres signifikan. Pedagang masih beraktivitas di tempat penampungan sementara yang tersebar di dua lokasi.
Menurut Rohmawansyah, kondisi tersebut turut memengaruhi kenyamanan pembeli dan aktivitas perdagangan. Karena itu, ia menyambut positif rencana Gerakan Belanja (Gebrak) Pasar yang mengajak masyarakat, termasuk aparatur sipil negara (ASN), kembali berbelanja di pasar tradisional.
“Kalau ada imbauan dari Wali Kota mengenai ASN belanja ke pasar tradisional, ya alhamdulillah. Semoga bukan sekadar imbauan, tetapi berkelanjutan menjadi gerakan yang nyata sehingga bisa membangkitkan perekonomian pedagang kecil,” tambahnya. (sur)











