RADARBEKASI.ID, BEKASI – Kelompok lanjut usia (lansia) didorong keluar dari posisi sekadar penerima pelayanan sosial. Mereka harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang tetap memiliki ruang untuk berkarya, bersosialisasi, serta berkontribusi di tengah masyarakat.
Dorongan tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Lansia Sedunia dan Kesehatan Mental di GOR Bang Yan, Kota Bekasi, Kamis (1/10). Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, perhatian terhadap lansia perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang konkret, mulai dari akses kesehatan hingga ruang interaksi sosial.
“Agar mereka tidak sendirian, mendapatkan pelayanan kesehatan, mendapatkan ruang sosialisasi yang baik,” kata Hasto.
Dia mencontohkan program Sekolah Lansia yang dikembangkan di Kota Bekasi. Program tersebut menjadi ruang bagi lansia untuk belajar, berkomunikasi, menjaga kesehatan, sekaligus tetap aktif di lingkungan sosial.
“Membuat sekolah-sekolah lansia. Tempat mereka berkomunikasi, juga kemudian untuk memeriksakan kesehatan semacam posyandu untuk lansia,” ujarnya.
Program Sekolah Lansia di Kota Bekasi mulai dirintis pada 2022. Pemkot Bekasi mencatat program tersebut terus berkembang dan pada Juni 2026 telah melibatkan 21 sekolah lansia yang tersebar di 12 kecamatan.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan, pertumbuhan kelompok lansia harus diikuti perubahan cara pandang pemerintah. Lansia, kata dia, tidak boleh ditempatkan sebagai beban pembangunan, melainkan tetap diberi ruang untuk berkontribusi.
“Karena ternyata dari struktur umur ini cukup besar. Ini kemudian kita tidak ingin lansia kita menjadi beban, tapi justru menjadi faktor pendorong, salah satu unsur bagaimana ikut membangun Kota Bekasi yang keren,” kata Tri.
Menurut Tri, kebijakan terhadap lansia juga perlu diperkuat melalui regulasi di tingkat nasional. Karena itu, dia menyebut adanya rekomendasi kepada fraksi PDI Perjuangan di DPR RI untuk mendorong perubahan regulasi mengenai lansia.
“Termasuk di dalam adalah salah satu rekomendasi yang diberikan dari DPP pada fraksi-fraksi yang ada di DPR RI untuk kemudian menggolkan satu rencana perubahan terkait dengan Undang-Undang tentang Lansia,” ujarnya.
Tri mengatakan, penguatan regulasi diperlukan agar perhatian terhadap lansia tidak berhenti pada program daerah. Terlebih, meningkatnya angka harapan hidup menunjukkan kelompok lansia akan menjadi bagian yang semakin penting dalam struktur masyarakat.
“Kita memuliakan, sehingga lansia tidak merasa sendiri. Para lansia masih bisa berkarya, masih dibutuhkan baik pemikiran maupun keteladanannya dalam rangka membentuk karakter anak-anak bangsa,” katanya.
Peringatan Hari Lansia Sedunia dan Kesehatan Mental tersebut dihadiri sekitar 1.500 lansia. Selain peringatan, kegiatan diisi berbagai aktivitas, termasuk pertunjukan seni dan layanan kesehatan.(sur)









