RADARBEKASI.ID, Media sosial merupakan suatu medium untuk berkomunikasi dan mengenali ramai orang serta menjadi platform untuk bertukar pendapat. Namun peranan tersebut semakin berubah apabila pengguna tidak menggunakan media sosial dengan baik dan beretika Penggunaan media sosial memiliki pengaruh dari aspek positif dan negatif dalam kehidupan seharian kita. Disamping itu dibincangkan juga langkah-langkah literatur tentang bagaimana kehadiran media sosial dapat mengurangi budaya membaca al-Quran, apakah benar tingkat penggunaan media sosial saat ini cukup tinggi, namun jumlah masyarakat yang memiliki kemampuan membaca al-Quran rendah?
Dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Artinya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia setara dengan 61,8 persen dari total populasi pada Januari 2021. Angka ini juga meningkat 10 juta, atau sekitar 6,3 persen dibandingkan tahun lalu.
Pandemi Covid-19 membuat masyarakat semakin mengandalkan internet, dan menghabiskan lebih banyak waktu di dunia maya. Demikian menurut laporan perusahaan media asal Inggris, We Are Social. Bekerja sama dengan Hootsuite, keduanya merilis laporan “Digital 2021: The Latest Insights Inti The State of Digital” yang diterbitkan pada 11 Februari 2021. Laporan ini berisi hasil riset mengenai pola pemakaian media sosial di sejumlah negara. termasuk di Indonesia Menurut laporan tersebut, rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 14 menit sehari untuk mengakses media sosial.
Sedangkan Ketua Yayasan Indonesia Mengaji, Komjen Pol Dr (HC) Syafruddin mengatakan, dari semua penduduk Indonesia beragama Islam, yaitu 87,2 persen dari jumlah penduduk Indonesia, ternyata hanya 35 persen yang bisa membaca Al-Quran, jadi 65 persen itu tidak bisa membaca Al-Quran, apalagi hafiz Al-Quran (minanews.2021)
Jika kita bandingkan pembaca Al-Quran dengan pembaca media sosial jumlahnya jauh dari kata ideal atau mendekati. Hal ini menjadi kegelisahan serta tugas yang berat bagi Lembaga-lembaga seperti pesantren, madrasah dan lembaga Islam lainnya yang memiliki kewenangan serta tanggung jawab untuk meningkatkan minat baca al-Quran ditengah masyarakat modern seperti saat ini.
Hampir semua aktivitas kita selalu berkawan dengan mesin. Mayoritas masyarakat yang hidup di atas tanah air bumi pertiwi ini setiap saat bisa mengakses informasi. Tidak harus menunggu tetangganya bercerita dari mulut ke mulut, atau menunggu media-media konvensional seperti televisi, radio, koran dan lain sebagainya melakukan siaran atau mengabarkan sesuatu. Kini informasi cukup didapat lewat telepon genggam melalui jaringan internet yang bisa diakses kapanpun dan dimanapun.
Banyak di antara kita yang merasa sayang bila ketinggalan informasi dari ponsel-ponsel kita. Mengecek handphone (HP) sesering mungkin, hanya dalam rangka berbagi dan mengakses informasi. Atau bahkan sekadar bermain game atau media sosial. Saat antre di kendaraan umum, kita membuka HP. Istirahat belajar di kampus, kantor, rutinitas pekerjaan, yang dibuka HP. Mau tidur, bangun tidur, saat-saat senggang, kita juga membuka HP.
Bagaimana orang akan mendapatkan keberkahan Al-Qur’an jika mengakses Al-Qur’an saja jarang-jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali? Apakah artis-artis yang selalu kita ikuti kabar aktivitasnya di dunia ini, kelak saat dia mati, akan peduli dengan kita? Apabila jawabannya adalah “tidak”, maka selayaknya kita mengakses informasi yang kelak memberikan syafaatnya kepada kita di hari kiamat, yaitu Al-Qur’anul Karim.
Abu Umamah al-Bahili menceritakan, ia pernah mendengar dari Rasulullah ﷺ bersabda: Artinya: “Bacalah kalian Al-Qur’an. Sesungguhnya besok pada hari kiamat, ia akan menjadi pemberi syafa’at (penolong) bagi pembacanya. (HR Muslim). Hadis yang lain berbunyi “Orang yang di dalam tubuhnya tidak ada sama sekali Al-Qur’an, itu bagaikan rumah yang rusak,” (HR at-Tirmidzi).
Untuk itu, catatan yang singkat ini perlu menjadi refleksi terhadap diri kita sendiri yang saat ini masih menggunakan media sosial secara berlebihan sampai lupa akan waktu kematian dan pertanggungjawaban bagi seluruh amal yang dikumpulkan. Menggunakan media sosial akan sangat baik jika diperuntukkan bagi kebaikan, namun itu semua tidak akan memiliki nilai apapun jika kita masih terbata-bata dalam membaca al-Quran yang sudah jelas nilai pahala dan ibadahnya.
Wallahu a’lam. (*)











